CATATAN HARIAN INANG

Oleh Keke Taruli Aritonang

Senin, 17 Juli 1991

Aku tersentak kaget…begitu aku di kamar mandi tadi pagi. Mengapa aku tidak juga datang bulan? Harusnya dari kemarin aku sudah datang bulan. Hamilkah aku?..ah tidak mungkin akukan sudah menggunakan alat kontrasepsi. Hari ini pikiranku tidak konsentrasi dalam mengajar. Murid-muridku  aku biarkan bersenda gurau dan berteriak-teriak di kelas. Pulang sekolah aku membeli alat tes kehamilan yang harganya paling murah. Tiba di rumah aku langsung ke kamar mandi dan menampung air seniku. Apa yang kutakutkan akhirnya terjadi juga. Alat tes itu menunjukkan tanda merah dua garis tebal. Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan ini, bagaimana ini, apa yang harus aku perbuat? Jangan sampai suamiku tahu akan hal ini. Aku  tidak ingin janin ini bercokol di perutku! Besok aku akan ke dokter.

Selasa, 18 Juli 1991

Sepulang dari sekolah aku ke dokter kandungan langgananku. kedua anakku kutitipkan pada opungnya dan kukatakan pada mamaku bahwa aku ada kerjaan. beruntung suamiku Minggu depan baru pulang dari mengarungi samudra. Dia lebih memilih ke laut  daripada  mengurus kedua buah hatinya dan pasangan hidupnya. “Dok, bagaimana ini kok saya bisa hamil lagi, padahal dokterkan yang memasang spiral itu”. Tanyaku langsung pada dokter langgananku. “Kasus seperti ibu sudah biasa terjadi, ini tidak apa-apa, terserah ibu, janin ini mau diteruskan atau tidak? Jika ibu tidak menginginkan janin ini, ibu saya kasih surat pengantar untuk mengaborsi janin ini ke dokter teman saya”, begitu jawaban dokter yang telah memasang spiral di tubuhku.

Tubuhku gemetar membaca catatan harian inang. Bukankah ini berarti, yang ada dalam perut inang pada saat itu adalah aku? Karena tanggal tersebut.. dan aku anak terakhir inang. Benarkah itu aku? Anak siapa sebenarnya aku ini? Aku menahan rasa marah, kecewa, sedih, dan penasaran. “Aku benci…. inang!” dan rasanya ingin menumpahkan rasa benci  itu,  ke inang yang sedang terbaring dalam kesakitannya. Ternyata aku anak yang tidak diharapkan oleh inang, ketika aku masih berupa gumpalan darah bernyawa. Aku memang tidak sengaja, menemukan catatat harian inang yang tergeletak di tumpukan baju-bajunya, pada saat aku mau membawa baju-baju itu ke rumah sakit.

Aku tak percaya akan apa yang kubaca. Selama ini inang kukenal sebagai wanita yang sangat tangguh dalam mengurus  aku, ito perempuan, dan abangku, tanpa didampingi oleh seorang suami yang telah lama meninggalkannya. Inang selalu tabah, sabar, dan sangat menyayangi kami bertiga sebagai anak-anaknya, walaupun kami terkadang membuat inang sedih dan jengkel. Inang telah membawa kedua anaknya menjadi orang yang dikatakan berhasil dalam mengarungi hidup. ito perempuanku kini menjadi dokter anak di Papua, sedangkan abangku menjadi penginjil keliling yang cukup terkenal sekaligus juga sebagai penulis sastra Kristen. Untuk mencari tambahan biaya hidup, inang juga dikenal sebagai penulis. Inang sering dimintai tolong oleh yayasan-yayasan sosial untuk dibuatkan buku sejarah berdirinya yayasan tersebut. Inang dengan ikhlas menulis buku itu dengan bayaran seadanya.

Aku sebagai anak bungsu sekaligus anak kesayangan inang, masih terdaftar di sekolah tingkat SMA kelas XII dan diharapkan inang dapat menjadi guru seperti dirinya. Padahal aku ini anak laki-lakinya. Dan jarang sekali orang tua mengharapkan cita-cita dari anak laki-lakinya untuk menjadi guru. Tetapi inangku, ini lain dari yang lainnya. Dia tetap bersikeras untuk aku nantinya menjadi guru. Kata Inangku, “Kau harapanku satu-satunya Nak, jadilah guru, kau itu paling pandai diantara kedua anakku yang lainnya, kau selalu rangking satu mulai dari SD sampai saat ini”. Itulah yang selalu dikatakan inang pada saat menjelang aku tidur.  Padahal sejak kecil aku sudah memiliki cita-cita menjadi pelaut, seperti suami inang yang tak pernah aku kenal.

Kata Inang, sejak aku dalam kandungan, kapal amang tak pernah lagi mendarat. Menurut cerita yang beredar yang pernah kudengar dari tante, tulang, dan ua, kapal amang tenggelam dan tubuh amang tak pernah diketemukan. tetapi, ada juga yang bicara padaku amang pulang kekampung halamannya di Nagahuta, kembali ke rumah orangtuanya. Jika hal ini, kutanyakan pada inang, dengan sedih inangku menjawab “Anakku, berdoalah selalu semoga amangmu masih hidup dan suatu saat nanti dia akan pulang untuk bertemu denganmu”.  Jawaban itu terus yang  aku dapatkan dari inangku. Lama-kelamaan aku tak pernah bertanya lagi. Sebab aku pernah melihat inang membaca surat, air matanya mengalir sangat deras, dan bahunya terguncang hebat.

Kenangan akan inang sesaat ada dipikiranku. Sudah saatnya aku harus ke rumah sakit membawa baju-baju dan menjaga inang malam ini. Aku harus menghilangkan rasa kecewa, penasaran, benci, dan ingin menumpahkan kemarahanku pada inang. Sebab kata doker inang tak lama lagi dapat bertahan hidup, akibat kanker payudara yang sudah stadium akhir. Apa yang harus aku lakukan setiba di rumah sakit? Aku tidak dapat menutupi wajahku dengan pura-pura tidak terjadi apa-apa, bagaimana ini? Pergikah aku ke rumah sakit? Atau kutelepon abangku supaya dia yang menjaga malam ini? Sementara ito perempuanku baru tiba esok hari? Kalau aku telepon abang,  pasti aku kena marah dan seribu kata nasihat akan keluar dari bibirnya.

Tiba-tiba hatiku diliputi perasaan yang tidak nyaman dan asing. kring…..kring….kring, Aku tersentak kaget mendengar suara telepon dari ruang tamu. “Hallo, jawabku cepat. Bisa bicara dengan Saudara Togar? “Ya, saya sendiri. “Kami dari rumah sakit, harap Saudara segera datang ke rumah sakit”. “Baik. Pak, saya segera ke sana”. Kututup telepon dengan cepat dan aku langsung meleset ke halaman depan rumah, menaiki motorku dan membawanya sekencang-kencangnya. Aku tak ingin, inangku pergi sebelum menjelaskan apa yang ada di catatan hariannya.

Tiba di rumah sakit, abang, itoku perempuan, opung boru dan doli dari pihak inangku, tante, inang tua, tulang dan entah siapa lagi  aku tak kenal, mengerumuni tempat  inangku berbaring. Semua menangis. Begitu melihatku, Ito perempuan dan abang langsung memelukku sambil menangis, tanpa berkata-kata. Aku hanya diam terpaku. Sementara opung boru meraung-raung sambil bicara tak beraturan.  Kedua tangannya bolak-balik menyentuh tubuh inangku mulai  dari kepala sampai kaki inangku. “Oh.. boruku, boasa ho parjolo mate? Boasa dang ahu parjolo? (Anak perempuanku, kenapa kamu duluan mati, kenapa tidak aku yang mati duluan).  “Boruku,  ditinggalhonho dakdanakmu na so muli dope?” (Anak perempuanku, kau tinggalkan anak-anakmu yang belum menikah). “Ise na mandongani halakhi anon, molo halakhi muli, among na pe so diboto tudia lao?” (siapa yang mendampingi mereka kelak, jika mereka menikah, sementara bapaknya tidak tahu ke mana rimbanya). Itulah kata-kata opung yang masih kudengar.

Selebihnya, aku tak mendengar lagi suara-suara tangis dan ocehan panjang opung boruku. Tiba-tiba aku berada di sebuah ruangan yang begitu terang-benderang. Inang memakai gaun panjang putih, wajahnya berseri-seri, tidak nampak kesakitan yang selama ini dialaminya. Kulihat inang melambai-lambaikan tangannya ke arahku, aku berlari  menjumpai inang, tapi kakiku tak dapat digerakkan, tubuhku tiba-tiba kaku. Inang mendekatiku, lalu dia berkata dengan suara lembutnya,

“Anakku Togar, janganlah kamu marah dan benci lagi pada inangmu ini, aku tak bermaksud melenyapkanmu ketika kau masih berupa gumpalan darah bernyawa. Kau adalah sumber kekuatanku ketika amangmu pergi begitu saja meninggalkan inangmu dan anak-anaknya. Kau juga sumber inspirasiku ketika aku hendak membuat karya tulis. Satu lagi pesanku kepadamu Togar HASIANKU, janganlah kau dendam dan benci terhadap amangmu, maafkan dia. Dan inang hilang begitu saja, sebelum aku sempat bertanya, mengapa dulu inang tidak menginginkan aku dan di mana laki-laki yang telah meninggalkan inang.

Suara ribut-ribut, terdengar lagi. Mataku terbuka, aku  berada di tempat tidur yang serba putih dan tidak ada siapa-siapa. Telingaku mendengar, opung boru, berteriak mengusir seseorang, “Laho ho! Unang ho bereng boruku! Alai ho borukon hatop mate!” (pergi kau! Jangan lihat anak perempuanku! Gara-gara kau, anak perempuanku cepat mati)”. Lalu aku bangkit dan keluar, ingin melihat siapa yang diusir oleh opung boru. Makian opung boru tak terdengar lagi, begitu melihat aku. Orang-orang yang hadir tiba-tiba menatapku dengan heran, ada yang berbisik-bisik sambil mengarahkan pandangannya ke arahku.

Tulangku memegang laki-laki yang nampaknya baru mau masuk dan keluar lagi, lalu membawanya masuk kembali. Opung boru mulai marah-marah lagi, “Boasa paloasonmu masuk bawa na mambahen mate borungkon”(kenapa kau suruh masuk laki-laki yang telah membuat boruku mati). “Hohomma ho inong, ibotongkon do na manuru au paboahon jala ingkon boanongkon laenontuson, molo dong monding ibana”. (Diamlah ibu, si kakak yang menyuruh aku untuk memberitahukan dan membawa suaminya, jika kakak sudah meninggal) Tulangku menjawab dengan tegas.

Di wajah laki-laki itu nampak kesedihan yang amat dalam, nampak gagah walaupun sudah tua, dan….wajahnya mengapa mirip denganku? Jangan-jangan…ini lelaki yang telah meninggalkan inang. Aku tak sempat lagi berpikir. Ito dan abangku, langsung memapahku untuk duduk di dekat peti inang. Aku duduk di tengah-tengah kakak dan itoku, tangan kanan dan kiriku dipegang erat-erat oleh kedua kakakku, mereka nampaknya takut jika aku mengamuk pada laki-laki yang dibawa oleh tulang. Aku hanya diam terpaku memandang wajah laki-laki itu. Inang terbaring dengan tenang dan ada senyuman di sana. Aku menahan air mataku untuk tidak tumpah. Suasana menjadi tegang, acara ibadah tutup peti terhenti sebentar. Kemudian tulang, menyuruh pembawa acara untuk memulai kembali.

Ibadah tutup peti dilanjutkan kembali. “Mandok hata sian pihak keluarga na ditinggalhonna” (kata sambutan dari pihak keluarga yang ditinggalkan). Tulangku berdiri di samping laki-laki yang tadi dibawanya. Lalu dengan suara sendu dia berkata, “Ibotongku si Risma on tubu tanggal 1 Bulan Maret Taon 1959 jala monding tepat ari hatutubuna 1 Maret 2009, pas umurna 50 taon. Ditingki ngolum, ibotongkon sada jolma na tohom, nabenget, nanunut mula ulaon jala ndang hea holsoan, nang pe naung sappuluh taon ibotongkon manaon sahit kanker payudara jala laengku nanihaholonganna lao songoni maninggalhon ibana. Salain mangajar, ibotongkon pe sahalak penulis do, asa boi pasikkolahan beberengku na toluon. Tingki so monding adong do tonani ibotongkon asa jumpanganku suamina (laekku), jala boanonku tuson. Nungnga disalpuhon ibotongkon sude kesalahanni laekku sian roham. Jala tonana tu keluarga besar Hutagalung asa memaafhon sude kesalahanni laekku. Tarlobi tu beregku na tuloon asa olo nasida manjangkon bapakna molo mate au ninna. Tu hamu sude nahuhaholongi hami, adong do pe sada nai pangidoanni ibotongkon ima asa jahahonongku catatan harianna na sinuratna saleleng ngoluna. Ima nani tujuhonna ti si Togar anak haholongani rohana. Lungon situtu do nian rohakku laho manjahahon on, alai demi ibotongku na hu haholongion hujahahonma, songononma isinya :

(Kakakku,  Risma lahir pada tanggal 1 Maret 1959  dan meninggal tepat pada tanggal kelahirannya 1 Maret 2009 diusia 50 tahun. Semasa hidupnya kakak adalah wanita yang tegar, pekerja keras, tidak pernah mengeluh, walaupun dia sudah 10 tahun terakhir mengidap penyakit kanker payudara dan suami yang dicintainya pergi begitu saja meninggalkannya. Selain mengajar, kakak juga sebagai penulis agar dapat menyekolahkan tiga anak-anaknya. Sebelum kakak meninggal, dia berpesan pada saya untuk menjumpai suaminya dan membawanya ke mari. Dia sudah memaafkan kesalahan suaminya. Kakak juga berpesan untuk keluarga besar Hutagalung mau dengan ikhlas memaafkan perbuataan suaminya. Juga terutama kepada tiga anaknya mau memaafkan dan menerima kembali bapaknya jika saya meninggal. Saudara-saudara sekalian, ada lagi satu permintaanya yaitu untuk membacakan catatan hariannya yang ditulis selama hidupnya. Catatan harian ini terutama ditujukan untuk anak yang paling disayanginya yaitu Togar. Sebenarnya saya sedih  untuk membacakannya, tetapi demi kakak tercinta saya akan membacakannya, demikian isinya:

Rabu,  4 Agustus 1991

Suamiku tak  kunjung datang. Aku kembali ke dokter memeriksa kandunganku. Usia kandunganku sudah masuk minggu kedua. Minggu yang cukup kuat untuk mencabut alat kontrasepsi  yang bercokol didinding rahimku agar  janin ketigaku tidak terganggu. Tetapi aku tidak jadi mencabut alat kontrasepsi itu, sebab menurut dokter ada dua kemungkinan risiko yang akan ditanggung. Kemungkinan pertama, janin akan gugur. kedua, janin tetap bertahan tapi mengalami kerusakan bisa lahir cacat atau nantinya juga gugur. Kedua kemungkinan itu sama beratnya. Aku memilih tetap mempertahankan janin dengan alat kontrasepsi yang tetap menempel di dinding rahimku. Aku akan membuat kejutan pada suamiku kelak jika kapalnya telah menepi.

Sabtu, 23 Februari 1992

Hampir setahun sudah suamiku tak pulang, seminggu lagi rencana akan operasi. Akan pulangkah lelaki yang telah menanam benihnya ditubuhku ini?Aku membayangkan wajah lelaki pujaanku ketika melihat kelahiran anak ketiganya.

Minggu, 24 Februari 1992

Aku menerima surat dari suamiku, ada firasat yang tidak enak ketika kuterima surat ini.“Kekasihku, maafkan saya. Saya telah berkhianat terhadap dirimu dan anak-anak kita. Waktu itu, salah satu penumpang  wanita  ingin mencoba bunuh diri dan aku berhasil mencegahnya. Sayangnya saya terlarut dalam kesedihaannya, dia saya hibur, dan saya tak sadar telah melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Dia hamil dan saya harus bertanggung jawab. Minggu depan wanita itu akan melahirkan. Saya ingat komitmen kita pada saat menikah dulu, jika salah satu ada yang berselingkuh, maka tidak akan dimaafkan dan berarti itu satu kata cerai”. Tetapi ingat saya tidak akan bercerai dan tetap mencintaimu sampai kapan pun juga, walaupun saya telah berkhianat”.

Aku tak sadarkan diri selama satu minggu. Dan begitu sadar bayiku sudah berada di samping tempat tidurku. Dia lahir pada tanggal 1 Maret 1992. Tanggal yang sama dengan kelahiran anak dari suamiku yang kini telah menjadi milik wanita lain dan juga tanggal yang sama dengan ulang tahunku.

Senin, 7 Maret 1992

Aku sudah boleh pulang dari rumah sakit. Aku mencoba tegar untuk menjalani hidup tanpa suami dan selama ini sebenarnya sudah terlatih. Setahun dua atau tiga  kali suami baru dapat pulang. Beruntung aku bertempat tinggal berdekatan dengan orang tua serta saudara-saudaraku. Anak ketigaku ini kuberi nama TOGAR yang artinya tegar. Wajahnya persis sekali dengan amangnya tidak ada satu pun yang dibuang.

Jumat, 20 Agustus 2000

Hari wisuda boru pertamaku, Aku bersyukur pada Tuhan boruku jadi dokter. Dia katanya mau PTT di Papua dan kemungkinan besar akan menetap di sana. Togar usianya sudah delapan tahun, anakku ini semankin gagah saja. Semoga kau mau jadi guru ya, Nak.

Sabtu, 18 Juli 2003

Hari wisuda anakku nomor dua, Aku bersyukur dia tamat dari S2 Teologi, anakku ini lebih memilih berkeliling dunia untuk menginjili. Bakat menulisnya turun dari aku. Dia juga rajin menulis buku-buku rohani. Anakku Togar kini usianya 11 tahun, nanti kelak kau jadi guru ya?

Sabtu, 2 April 2008

Dokter memvonis aku terkena kanker payudara stadium empat. Jangan sampai anak-anakku tahu. Togar anak kesayanganku kini usianya 16 tahun, dia sudah mau kubujuk untuk jadi guru.

Minggu, 27 April 2008

Suamiku, diam-diam datang menemuiku pada saat Togar tak ada di rumah. Dia terlihat sangat tua sekali. Aku sudah dapat memaafkan perbuatannya. Mungkin karena waktuku tak akan lama lagi di dunia ini. Semoga anak-anakku juga dapat memaafkan perbuataan amangnya.

Sabtu, 1 Maret 2008

Togar berumur 17 tahun, tubuhnya semakin tinggi, wajahnya menunjukkan kekerasan hatinya. Aku takut dia tak dapat memaafkan perbuataan amangnya. Di hari ulang tahun Togar kedua anakku mengirim email. Imelda dan Binsar telah bertemu amangnya dan memaafkannya. Aku terharu akan apa yang telah dilakukan oleh kedua anakku. Aku bangga pada mereka. Kini tiba waktunya aku akan meninggalkan mereka.

Minggu, 10 Januari 2009

Waktuku tinggal sebentar lagi, aku akan minta mama untuk mengawasi anakku Togar, aku akan tinggal di rumah sakit. Catatan harian ini akan kuberikan pada adikku Saut, tulang dari anak-anakku, untuk membacakannya ketika waktuku sudah habis. Dan aku akan meminta Saut memberitahukan dan membawa laki-laki yang dulu pernah memberikan kehangatan dan kenyamanan sesaat, laki-laki yang sampai sekarang masih aku cintai. Biarlah dia ikut serta dalam mengantar istri yang paling dicintainya untuk menghadap Bapa di Surga.

Ruangan dipenuhi suara tangis yang menyayat hati. Semua orang yang berada di situ tidak ada satu pun yang tidak menangis, ketika catatan harian inang dibacakan. Opung boru pingsan dan laki-laki yang berdiri di samping tulang jantungnya berhenti berdenyut. Sedangkan aku berusaha untuk tetap berdiri tegar.*

Keke Taruli Aritonang, Guru SMPK 1 BPK Penabur  Jakarta

Catatan

Tulang : Paman

Inang : ibu

Inang uda : adik perempuan dari ibu

Inang tua : kakak perempuan dari ibu

Opung boru : nenek

Opung doli : Kakek

Tante : panggilan untuk adik perempuan dari ibu yang belum menikah

Ua : singakatan dari inang tua

Boru : anak perempuan

Ito : panggilan untuk saudara baik laki-laki atau perempuan

Amang : Bapak

Hasianku : kesayanganku

Incoming search terms for the article:

catatan harian remaja, ngentot inang inang, contoh catatan harian singkat, catatan harian anak remaja, Inang inang ngentot, catatan harian dari dia lahir sampai dewasa, lomba mengarang cerita anak rohani kristen, catatan harian remaja hamil, hallo togar, marollok

This entry was posted in Karya, Umum and tagged , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.