CERITA UNTUK AYAH

Oleh Kartika Hidayati

“Aku lihat mereka memakainya,” katanya. Dia meyerahkan bando dengan hiasan kupu-kupu pink yang terbuat dari kain flannel kepadaku. Sangat cantik.

“Bisakah Kakak berikan saja untuk Mbak Helsa? Hari ini ulang tahunnya.”

“Aku membelikannya untukmu.  Pakai saja. Kalau tidak mau, buang saja!”

Dia mengambil kaus oblong bekasnya. Menutup mulutnya dengan kaus itu dan segera berlalu dari hadapanku. Dia benar-benar mirip ninja.

Aku memandangnya dengan getir. Dia berjalan menjauhiku. Menuju petak-petak gubuk yang mengeluarkan asap kehitaman. Cerobong-cerobong dan asap yang keluar itu, tak ubahnya monster yang menutupi hamparan langit biru hingga menjadikannya kelabu, kecoklatan, dan kehitaman.

Sering aku berpikir, cukupkah hanya memakai kaus oblong bekas sebagai masker? Jika setiap harinya dia bekerja di peleburan logam. Udara yang dia hisap setiap detiknya sudah terpolusi logam. Aku sungguh mengkwatirkannya.

Ayah, laki-laki dua puluh tahun yang memberikan bando ini, dia kak Adib. Adib Parama Rafif, anak laki-lakimu. Apa saat ini ayah merindukannya? Dia tidak segemuk waktu ayah tinggalkan. Tubuhnya tak ubahnya pohon kelapa yang hangus terbakar. Setiap hari tubuhnya bau asap dan logam.

Dia yang selalu kau usap kepalanya kini tak pernah lagi ke sekolah. Aku masih ingat. Saat itu tahun ajaran baru. Hari pertama kak Adib masuk SMP terbaik, ayah membantunya memasangkan sepatu baru yang ayah belikan untuknya.

“Belajar yang rajin, jadilah anak pintar.” Itu yang ayah katakan padanya.

Apa ayah ingat hal itu? Lalu dengan sepeda ontel, ayah mengantar kak Adib ke sekolah. Masih jelas di benakku, ekspresi bahagia ayah. Juga kak Adib yang tak hentinya memamerkan gigi-giginya yang rata. Anak lak-laki kebanggan ayah. Benarkah ayah tak merindukannya?

Kak Adib, tak sekali pun mengingkari janjinya pada ayah.

Kau tahu ayah? Dia masih tetap belajar. Seringkali saat tengah malam aku terbangun, aku melihatnya membaca kamus bahasa Inggris. Pernah suatu kali melihat bukunya penuh dengan kata-kata seperti yang tertulis dalam kamus. Apa yang dia baca, dia salin ke bukunya. Pernahkah ayah bertanya padanya tentang cita-citanya?

“Apa yang Kak Adib tulis?”  tanyaku yang saat itu masih kelas dua SD sedangkan kak Adib kelas satu SMP.

“Cita-cita. Semua yang aku tulis ini adalah cita-citaku.”

Aku diam sejenak, membaca apa yang ditulis Kakakku. Hingga pada daftar kesepuluh, aku menatapnya seraya bertanya. “Melihat Liberty? Apa itu? ada di mana?”

Kak Adib membuka buku paket bahasa Inggrisnya, menunjukkan padaku gambar patung Liberty. “Ini Liberty, adanya di Amerika. Sangat jauh dari sini.”

Petak-petak gubuk itu masih mengepulkan asap hitam. Membumbung tinggi hingga kubah langit menjadi pekat. Juga suara gemuruh tungku yang menyala hingga 500 derajat celcius. Kak Adib tengah beristirahat di bawah pohon bambu. Seperti biasa, satu gelas soda plus susu ada ditangannya.

Kulitnya hitam, berkeringat, dan mengoarkan bau logam. Tempat peleburan logam tempat dia bekerja telah memudarkan ketampanannya. Betapa dulu dia terlihat tampan dengan seragam SMP-nya. Bahkan sangat tampan ketika dia memakai baju koko saat hendak berangkat ke  madrasah. Kuku-kukunya selalu terlihat bersih. Aroma tubuhnya selalu wangi. Rambutnya selalu rapi dan tangannya begitu lembut.

“Mengapa diam? Ada apa kau kemari?” tanyanya masih dengan wajah dingin tanpa senyum.

“Aku butuh uang untuk beli LKS,” jawabku langsung ke pokok masalah.

Dia merogoh celananya yang penuh debu. Mengambil uang dua puluh ribu dan memberikannya padaku. “Belajar yang rajin dan jadilah dokter.”

Bisakah ayah merasakan betapa lelahnya kak Adib? Setiap hari dia bekerja di tempat peleburan logam tradisional. Tanpa pakaian kerja yang layak. Bergumul dengan asap yang mengandung logam berat. Setiap detik paru-parunya terisi oleh asap berbahaya. Dia pasti sangat susah menarik tarikan nafasnya saat bekerja.

Kau tahu ayah? Aku berbohong padanya. Uang ini akan aku belikan masker untuknya. Bagaimana bisa dia tidak peduli kesehatannya. Kak Adib, dia tidak takut tangannya melepuh, tapi takut aku tidak bisa bersekolah. Dia bukan orang yang takut terkena asma akut, tapi dia takut aku kelaparan. Takut aku tidak memakai seragam sekolah, takut aku tidak belajar, dan takut aku tidak memiliki cita-cita.

Aku memberinya masker yang kubeli saat kak Adib hendak berangkat kerja. “Pakailah saat bekerja,” ujarku.

“Kau tahu kau berbuat salah? Kau membohongiku!” katanya tegas setelah mengambil masker dari tanganku.

Apa ayah pernah melihatnya marah? Barangkali saat ini Kak Adib marah padaku. Sungguh bukan maksudku tidak berkata jujur padanya. Aku ingin dia memerhatikan kesehatannya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Ayah, kak Adib bahkan tak pernah membeli baju baru. Uang hasil kerjanya dia belikan buku untukku.

“Jadilah nomor satu. Kau tidak akan direndahkan orang lain,” tutur kak Adib sewaktu memberiku buku Ensiklopedi Sains dan Kehidupan.

“Ensiklopedi? Bukankah ini sangat mahal?”

“Ya, sangat mahal. Maka dari itu jangan malas belajar.”

Ayah aku sungguh terharu. Aku tak menyangka, kak Adib yang hanya lulusan SMP memberiku buku ensiklopedi. Ayah pasti bangga padanya. Dia tak pernah lelah menjagaku. Tak pernah bosan menabung supaya aku memiliki banyak buku untuk aku baca. Terkadang aku merasa bersalah padanya. Sungguh aku telah berusaha menjadi nomor satu, tapi aku hanya bisa menjadi nomor sepuluh di kelas. Aku tak mendapat nilai sempurna untuk matematika, selalu kesulitan menghafal nama-nama latin, juga merasa tekanan darahku naik tiap kali ada pelajaran fisika. Aku juga takut memegang pisau bedah saat praktikum biologi, aku tak suka bekerja dengan mikroskop.

Ingin kukatakan semuanya pada kakakku. Bahwa aku senang bekerja dengan pena dan kertas. Aku suka membuat artikel untuk mading, suka menulis cerita, dan suka menulis puisi. Mataku tak akan lelah meskipun berjam-jam membaca Sang Pemimpi. Tanganku tak akan gemetar meskipun telah kutulis beratus-ratus bait puisi. Ayah, kukatakan satu rahasia padamu. Sebenarnya  aku tidak bercita-cita menjadi dokter. Ayah, salahkan seandainya aku menginginkan menjadi penulis?

Ayah pasti masih ingat. Kak Adib selalu menjadi nomor satu, tak pernah menjadi nomor dua, tiga, empat, atau sepuluh. Dia selalu menjadi bintang kelas. Aku masih ingat apa yang kau katakana padanya, saat Kak Adib pulang membawa piagam peghargaan atas prestasinya.

“Teruslah menjadi nomor satu. Kau tidak akan dinjak-injak orang,” katamu seraya menepuk-nepuk pundak Kak Adib.

Jika ayah melihatnya saat ini. Apa yang akan ayah katakan padanya? Dia menjadi pelebur logam. Setiap hari berkutat dengan berbgai bahan limbah logam. Tutup botol, kawat bekas, onderdil jam rusak, elemen aki atau apa pun yang berbahan baku timah atau aluminium. Tubuhnya harus mampu menahan hawa panas dari tunggku besar dengan panas hingga lima ratus derajat celsius. Tidakkah ayah merasa bersalah padanya? Pernah aku berkata padanya. Hari itu, saat aku lulus SD.

“Kak, aku tak usah sekolah saja. Aku kerja saja, Kakak lanjutlah SMA,” ujarku hati-hati.

“Hapus saja pikiranmu itu. Bagaimana nanti kau mendidik anakmu jika kau bodoh. Kau mau hanya menjadi penjual bakwan?”

“Tapi, Kak…”

“Aku sudah pintar, jadi tak perlu sekolah lagi!” jawabnya gusar.

Tidakkah ayah tersentuh dengan pengorbanan kak Adib? Dia rela tak bersekolah. Dia lebih memilih menjadi pelebur logam supaya aku bisa sekolah. Aku tahu dia rindu bersekolah. Kerap, aku melihatnya membaca buku-buku SMP nya. Pernah saat dia mengantarku, aku melihat matanya lekat memandangi gedung SMA terbaik di kotaku. Pasti dulu dia ingin bersekolah di sana.

“Kau harus bisa masuk ke situ. Itu sekolah paling baik di sini,” ucapnya seraya mengangkat telunjuknya pada bangunan besar itu.

Di luar hujan telah reda. Meninggalkan kabut tipis yang menggantung di udara. Juga hawa dingin yang menembus pori-pori. Kak Adib tak lagi marah padaku. Dia bahkan sempat tersenyum untukku sebelum pergi ke surau. Senyum itu aku sering melihatnya saat langit mulai jingga. Sore hari ketika dari balik jendela ruang tamu Kak Adib melihat Mbak Helsa pulang kerja. Ayah, aku beri tahu satu hal. Kak Adib menyukai Mbak Helsa.

Wajah kak Adib akan berseri lantaran mbak Helsa menyapanya. Pernah suatu kali mbak Helsa datang ke rumah dan ayah tahu apa yang dilakukan kak Adib? Dia tak berani menemuinya. Kak Adib, berpura-pura tidur dan aku tahu itu.

“Mana kakakmu?”

“Kelihatannya sedang tidur. Mau kupanggilkan?”

“Ah, tidak usah. Kita ngobrol berdua saja.”

Aku bisa memahami kak Adib. Pria mana yang tidak jatuh hati pada mbak Helsa. Acap kali dia mengirimi kami kue buatannya. Air mukanya bening, mata besar dengan iris hitam. Tulang hidung yang meliuk panjang, dan lekuk kecil di pipi kirinya saat dia tersenyum. Tapi, apa ayah tahu? Mbak Helsa tidak tahu kalau Kak Adib menyukainya. Itu karena Kak Adib tak pernah memberitahukannya.

Ayah, apakah orang seperti kak Adib tidak berhak mencintai perempuan seperti mbak Helsa? Andai aku mampu berkata pada mbak Helsa betapa kak Adib menyayanginya. Suatu hari, pada  Senin sore yang dingin setelah seharian hujan, mbak Helsa terpeleset. Ayah tahu apa yang dilakukan Kak Adib? Esoknya, saat sisa-sisa hujan tadi malam masih terasa, kak Adib menyapu jalan depan rumah. Membersihkan daun-daun yang licin jika terinjak. Setiap pagi sampai musim hujan berlalu.

Lalu saat Minggu siang, pada musim kemarau dengan sinar matahari yang memanggang punggung. Aku melihat kak Adib mengamati mbak Helsa yang tengah menunggu angkutan umum dari jendela ruang tamu. Aku tengah sibuk mengejerkan PR matematikaku saat tiba-tiba aku mendengar bunyi sesuatu jatuh. Mbak Helsa pingsan.

“Sudah kukatakan padanya untuk tidak pergi. Tapi dia ngotot, katanya hari ini pernikahan sabahabat baiknya. Dia harus datang. Padahal tubuhnya masih lemah, sudah dua hari dia demam,” tutur ibu Mbak Helsa sesaat setelah Kak Adib membaringkan Mbak Helsa di atas kursi ruang tamu.

Seketika itu kulihat wajah kak Adib pucat. Aku dapat merasakan kegelisahan hatinya. Senyum di wajahnya yang tadi pagi kulihat kini memudar, berganti dengan gemetar bibir seorang dewasa yang amat ketakukan akan kehilangan seseorang yang dicintainya.

Setelah lama kami terdiam, pelan kukatan padanya. “Mbak Helsa akan baik-baik saja. Dia hanya demam.”

Apa ayah bisa menduga apa yang terjadi setelah kejadian hari itu? Siang itu matahari bersinar sempurna. Aku takjub melihat gubuk kecil beratap daun kelapa kering tiba-tiba ada di seberang rumahku. Dan aku tahu siapa yang membuatnya, saat aku melihat jempol kiri kak Adib memar kebiruan. Saat aku datang dia sedang meniup-niup jempolnya.

“Jadi, seharian Kakak membuatnya?”

“Bagus bukan?” balasnya singkat seraya  mengibas-ibaskan tangan kirinya.

Ingin kukatakan semuanya pada mbak Helsa. Semua yang telah dilakukan kakakku untuknya. Semua rasa bahagia yang dirasakan kakaku saat bersama mbak Helsa. Semua rasa sakit yang dirasakan kakaku jika satu hari saja Mbak Helsa tak menyapanya. Pagi ini aku dan mbak Helsa duduk di gubuk sembari menunggu angkutan umum.

“Sekarang kita tak perlu takut kepanasan atau kehujanan,” ujarku mengawali pembicaraan.

“Kau benar Afrah. Apa kau tahu siapa yang membuatnya? Baru satu hari aku tak ke luar rumah. Tiba-tiba saja ada gubuk ini.”

Belum sempat aku menjawab dan mengatakan semuanya Kak Adib menghampiri kami. “Kau tahu apa yang akan aku lakukan, jika kau mengatakan semuanya kan?” ujar Kak Adib seraya mengedipkan mata padaku. Tidak ada tanda-tanda dia bercanda. Itu kedipan peringatan.

Ayah, hari ini aku mendengarnya lagi. Kabar bahwa kau meninggalkan kami, mencampakan kami, dan mungkin telah melupakan kami. Bang Jono, si tukang becak itu sering berkata, anaknya si Udin pernah melihatmu bersama seorang anak kecil dan perempuan yang tengah mengandung. Ayah, kau tak usah khawatir. Aku tak memercainya. Mas Udin pasti salah lihat. Itu hanya orang yang mirip Ayah. Jadi, ayah tenang saja.

Dulu ayah berkata, ayah hanya pergi sebentar ke Jakarta? Ayah menjual becak dan memberikan uang hasil penjual pada Kak Adib. Ayah bilang akan pulang setelah tiga hari. Pernahkah ayah mengitung sudah berapa lama ayah pergi? Sudah lima kali Ramadhan ayah pergi. Sadarkah ayah, waktu itu aku baru sepuluh tahun dan kak Adib lima belas tahun? Lalu, sekarang ini apa hidup ayah di Jakarta baik-baik saja? Enakkah hidup di sana hingga tak ada rindu sedikit pun pada kami, juga kampung halaman? Apa ayah makan dengan baik? Apa ada yang menjaga ayah? Di sana ayah kerja apa? Mengapa sama sekali tak ada kabar? Mengapa tak mengabari kami? Apa ayah akan segera pulang?

Waktu umurku dua belas tahun, kak Adib pernah berkata. “Ayah akan pulang, dia hanya sedang tersesat.”

Sulitkah bagi ayah menemukan jalan pulang? Ayah, kau hanya perlu naik bus dan turun di terminal Slawi. Lalu naiklah angkutan umum bercat kuning jurusan Adiwerna. Kalau ayah lelah, ayah naiklah becak menuju desa Pesarean. Atau kalau ayah tak suka naik bus. Naiklah kereta api.

Masih ingatkah ayah dengan rumah yang ayah bangun? Rumah itu masih sama, tak banyak berubah. Ayah masih bisa melihat ayunan di bawah pohon mangga yang dulu ayah buatkan untukku. Pernahkah ayah merindukan saat itu? Waktu ayah memangkuku, duduk di ayunan, dan ayah bercerita Ande-Ande Lumut. Ayah juga masih bisa melihat pohon jambu yang dulu ayah tanaman bersama Kak Adib. Pohon jambu itu kini sudah besar dan telah berbuah. Dengan sangat menyesal harus kukatkan pada ayah bahwa ayah tak bisa melihat si Koko. Jago itu sudah Kak Adib jual untuk membeli sepatu olahraga untukku.

Ayah, meskipun kau tak bisa melihat si Koko. Aku punya sesuatu yang lebih indah untuk kuperlihatkan padamu, Pink Adenium. Mbak Helsa yang memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku tahun lalu. Apa ayah pernah melihatnya? Bunga adenium berwarna merah muda bersemu putih, dengan semburat kuning ditengahnya yang terlihat anggun. Kelopaknya sungguh sehalus sutera, cantik sekali. Aku jadi teringat cerita ayah, kata ayah benda yang tepat untuk menggambarkan ibu adalah bunga.

“Mbak Helsa secantik bunga ini. Benar kan Kak?” tanyaku pada Kak Adib ketika kami duduk di teras seraya memandangi adenium yang baru dua hari ada di halam rumahku.

Kak Adib hanya mengangguk pelan. Sempat kudengar dia membuang nafas. Entah apa artinya. Aku tak bertanya lagi tentang pendapatnya.

“Bisakah Kakak berjanji untuk tidak meninggalkanku? Kita rawat bunga itu sama-sama. Janji, ya.”

Setiap hari kutanamankan keyakinan dalam hatiku. Ayah tidak akan melupakan janji ayah padaku. Aku selalu terkenang-kenang waktu itu. Ayah menggendongku setelah kita salat tarawih berjamaah di surau. Ayah bilang akan selalu menjaga kami. Tak akan pergi jauh. Apa ayah tahu? hatiku sungguh sakit jika mengingat hal itu. Ayah tahu kan? Kalau bumi itu bulat. Itu yang membuatku yakin kalau ayah akan pulang. Ayah hanya sedang tersesat. Sejauh apa pun ayah pergi, ayah pasti pulang. Aku percaya itu.

Oya, ayah. Aku lupa menceritakannya padamu. Ini tentang aku yang sudah remaja. Sekarang aku kelas satu SMA. Apa ayah tak ingin melihatku? Dulu saat ayah pergi dari rumah usiaku sepuluh tahun. Berarti sudah lima tahun ayah tak pulang. Bukankah itu waktu yang cukup lama? Sekarang aku bukan gadis kecil lagi. Bisakah ayah bayangkan seperti apa aku sekarang? Aku pikir, aku sangat mirip dengan ibu waktu muda. Dagu runcing dengan bibir tipis seperti milik ibu. Bola mata besar dengan iris kecoklatan dan bulu mata hampir membentuk huruf U serupa milik ibu. Alis mata panjang yang melengkung indah, hidung jambu air, juga rambut bergelombang hitam legam seperti milik ibu.

Aku tak tahu, apakah ini harus kuceritakan pada ayah. Sejujurnya aku sangat malu menceritakannya. Kali pertama bertemu dengannya di koridor sekolah. Waktu itu aku hendak ke ruang mading. Tanpa malu dan ragu, dia mencengkeram tanganku lalu berkata. “Tali sepatumu.”

“Oh, ya terima kasih,” balasku setelah merapikan ikatan tali sepatuku yang sempat terlepas.

Saat aku selesai, dia menatapku untuk beberapa detik. Sempat kulihat dia mengulum senyum dan entah apa yang terjadi dengan hatiku. Sepasang bola matanya memantulkan wajahku di dalamnya. Alis mata tebal seperti bentangan sayap elang. Juga gigi gingsulnya yang membuatnya manis saat dia tersenyum. Semuanya membuat napasku tercekat.

Saat siang tidak terlalu panas dengan bercak tipis awan yang memenuhi langit, itu kali kedua aku bertemu dengannya. Di toko buku dekat sekolah. Aku mencoba acuh tak acuh, tak menyapanya duluan. Sejujurnya aku takut dia tak mengenaliku, tapi aku sangat penasaran  dengan buku yang tengah dibacanya. Dengan ekor mataku aku mencoba membaca tulisan di cover buku itu, hanya kata sea yang bisa terbaca dari tempatku berdiri. Kemudian ketika tatapan pemangsanya kembali menatapku, napasku tertahan.

“Aduh mati aku,” bisikku dalam hati. Aku membeku di tempatku berdiri.

The Old Man and The Sea, karya Ernest Hemingway.“ Seolah mengerti pikiranku dia menunjukkan bukunya padaku.

Ketika hujan bulan Juli pertama turun, kami resmi berkenalan. Dia mengulurkan tangannya padaku. “Aidan…Aidan Javas Ipyana,” katanya. Aku bisa melihat jari-jarinya yang panjang dan kurus. Telapak tangannya terasa dingin. Menyentakkan aliran darah dalam tubuhku. Saat itu terasa olehku, langit begitu biru, rumput begitu hijau, dan rinai-rinai hujan yang memantul di tanah mengeluarkan irama.

Ayah, aku jadi ingin mendengar ceritamu. Bagaiman ayah bertemu dengan ibu? Kapan dan di mana kalian bertemu? Ayah belum sempat menceritakannya padaku. Saat ayah pulang nanti, maukah ayah bercerita untukku?

Tak pernah kehilangan senyumnya, hingga hari itu tiba. Pada suatu pagi dengan kicauan burung untuk mengawali hari. Hari itu, ibu Aidan meninggal setelah sebelumnya koma akibat kanker payudara. Kami takziyah ke rumahnya. Matanya masih berembun saat aku datang. Ayah tahu? sejak hari itu, tak pernah kulihat senyum dari bibirnya.

Sepuluh hari setelah ibunya dimakamkan, saat aku datang ke rumahnya dia tengah menangis. Melihatnya hatiku seperti terparut. Sungguh aku ingin mengahapus air matanya, menyandarkan kepalanya di bahuku, dan berkata semua akan baik-baik saja, tapi aku tak perlu melakukannya. Ayahnya, sudah ada di sampingnya. Menguatkannya. Merangkulnya dan mengelus punggungnya. “Tidak akan ada masalah. Ayah bersamamu.”

Sejak itu dia lebih suka menyendiri dan tak peduli orang lain. Raut muka itu, mengingatkanku pada saat kita kehilangan ibu. Kesedihan dari wajahnya adalah wajah ayah saat itu. Kini kami sama-sama tidak beribu, tapi apa ayah tahu yang membedakannya denganku? Ayahnya tak sekali pun meninggalkannya. Ayahnya, menemani masa-masa remajanya. Ayahnya berusaha membuat dia kembali bersemangat menjalani hidup. Sungguh bukan maksudku membandingkan ayah dengan ayahnya. Aku tahu bahwa cintaku pada ayah tak akan pernah sebanding dengan apa yang telah ayah lakukan untukku.

Sewaktu aku bayi, entah berapa banyak aku menggangu tidur nyenyak ayah. Entah berapa kali tangan ayah yang bersih membersihkan kotoranku. Entah berapa banyak keringat yang ayah keluarkan saat mengayuh becak hanya demi aku anakmu bisa menikmati susu formula. Aku tak bisa menghitung butiran air mata ayah saat ayah bersimpuh di hadapan-Nya untuk mendoakanku. Tak terbayangkan olehku bahwa hati ayah terluka saat aku sakit. Ayah, aku bahkan belum membahagiakan ayah. Pulanglah, Yah. Aku takut tak punya waktu untuk berbakti padamu. Aku janji aku akan menjadi nomor satu. Akan aku lakukan demi ayah. Aku janji.

“Kakak bisa mendengarku? Bangunlah dan minum obat ini.” Pelan kusentuh kening Kakaku dan sekali lagi membangunkannya. “Kumohon Kakak bangun dan minumlah obat.”

Ayah, saat ini kak Adib sakit. Sudah seminggu dia demam, kata dokter infeksi saluran pernapasan atas. Bisakah ayah bayangkan berapa banyak udara beracun yang masuk paru-parunya setiap harinya? Udara yang memenuhi rongga paru-parunya telah terpolusi debu logam dari industri pengecoran dan peleburan logam tempatnya bekerja.

Aku sungguh takut, ayah. Aku takut dia tidak menepati janjinya untuk tak meninggalkanku. Aku sungguh takut. Aku takut sendiri. Aku takut sebatang kara di usiaku yang belia. Benar-benar takut hingga tubuhku gemetar.  Sekuat tenaga kutahan agar aku tak menangis hingga dadaku sesak. Aku ingat hari itu, saat dia berjanji, kami tidak saling menautkan kelingking. Jadi, aku takut dia mengingkarinya.

Ayah tahu? Nomor satu dalam daftar cita-cita kak Adib adalah membelikan ayah mobil supaya ayah tak perlu mengayuh becak atau bersepeda ontel. Jika ayah membaca ceritaku ini, pulanglah dan katakan pada Kak Adib untuk menepati janjinya. Sungguh aku tak mau kehilangannya. Ayah kumohon pulanglah, kami sungguh merindukanmu. Sangat merindukanmu.*

Kartika Hidayati, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang

Incoming search terms for the article:

cerita tentang ayah, cerpen tentang ayah, cerita pendek tentang ayah, cerita untuk ayah, cerita pendek ayah, cerpen singkat tentang ayah, cerita pendek tentang remaja, cerpen singkat ayah, cerpen bertema ayah, cerita singkat tentang ayah

This entry was posted in Karya, Umum and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to CERITA UNTUK AYAH

  1. mubarok says:

    boleh kah aku tahu?
    apakah itu cerita nyata/hanya fiktif?
    btw gimana yha caranya biar bisa nulis di komputer dan bisa di baca banyak orang kayak tulisan kamu diatas
    terakhir lam knal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>