CONG

Oleh Diwana Fikri Aghniya

Nun di malam yang bunting, baru saja gelap melahirkan bulan. Bulat dalam busana perak bergulung temaram. Di bawah pendaran cahaya bulan yang terpencang perak itu, Cong dan aku sedang tidur di pinggir jalan dingin yang dipeluk hitam. Sementara ombak kesedihan sepertinya bergemuruh keras di dalam hati Cong. Tentu saja jalanan sedang kosong, dengan leluasa Cong merebahkan tubuhnya di jalan, di atas debu pekat, kerikil lara dan keretakan aspal. Entah apa yang dipikirkan Cong, tidur di jalan bukanlah sesuatu yang enak. Namun apalah daya, aku dan Cong memanglah tinggal di  jalanan. Tinggal berkawan bersama pengamen, mengais makanan dari tong sampah, menderita bersama pengemis, berilmu dari tikus got yang berloncatan, belajar terbang dari kelelawar dan bersahabat dengan asap knalpot. Ya, itulah kehidupanku dan Cong selama ini, kehidupan yang tak bisa menyenangkan walau dibayar oleh uang seribu rupiah.

Sungguh, kami memang lahir sebagai anak jalanan, namun Cong sangat ingin bersekolah. Keinginan bersekolah Cong berawal dari seorang kakek yang pernah menawarkannya sekolah. Kata kakek, dengan sekolah kita bisa menjadi presiden, dokter, atau astronot bahkan bisa lebih pinter dari guru. Ya astronot! betapa Cong ingin menjadi astronot, menjelajah bulan yang selalu ia lihat selama ini, ataupun mengungkap rahasia langit yang selama ini selalu menjadi teka teki bagi dirinya. Namun kabarnya sang kakek membual, tak menepati janjinya. Sejak kejadian itu semangat Cong bersekolah malah semakin membara, semangat ingin bersekolah seolah tungku pembakaran dengan kobaran api yang riang. Bila Cong dan aku bersekolah, mungkin kami sudah SMP. Tapi kenyataannya kami tidak sekolah. Makan saja sudah untung. Terkadang semangatnya yang meledak-ledak itu sering membuatku iba.

Toh, walaupun saya tak punya orang tua dan saya miskin, yang penting saya masih ingin sekolah dan punya cita-cita jadi orang yang kaya ilmu, kaya hati, kaya iman!” pekik Cong padaku. Aku yang memang sedang tidur di samping Cong tiba-tiba saja terperangah. Mataku terbelalak, sementara tawa yang keras meledak dari pita suaraku.

“Hahaha, Gusti! Cong…Cong…, berkali-kali kubilang, kamu itu cuma anak jalanan. Kenyataannya kamu lahir di jalan, mati di jalan, bahkan buang tahik pun di jalan. Beda dong! dengan anak-anak yang tinggal di rumah gedong, tidur pakai AC dan tiap hari gunta-ganti HP!”

Sesungguhnya, di balik perkataanku itu, hatiku sedang tertikam dan tertancap rasa iba. Aku hanya bisa menatapnya, menatap mata merah-nya yang selalu kelihatan seperti stroberi itu. Sesaat saja, mata Cong jadi berubah, kini ia menatap dengan tatapan lunak sambil menggigit bibir. Mulutnya yang semula terkatup, kini melolong panjang dan keras.

“Astaga, Din! Jahat! Kamu kan temen saya, kita dibuang sewaktu bayi sama-sama. Besar sama-sama, tidur sama-sama, makan pun sama-sama. Masak kamu jahat. Berengsek lu! Lagihan Cong kan cuma pengen sekolah, apa berlebihan, Din?!”

“Sekolah?! Matematika saja kamu gak ngerti Ngitung duit ngamen pun paling banyak cuma 7500, pikirkanlah Cong. Aku berkata seperti ini karena kasihan sama kamu. Gimana juga kita tak mungkin sekolah.”

Baru saja di malam yang hening dan pucat itu aku terhenyak kaget, tersentak hingga kelopak-kelopak hatiku berguguran. Dari matanya yang merah itu, akhirnya bisa kutemukan perbedaan Cong dari kawan-kawan pengamen yang lain. Cong sungguh berbeda dari anak-anak jalanan yang cuma bisa bisa merokok, nge-lem, dan ngamen. Ia punya semangat yang luar biasa tak tertandingi dalam keinginan bersekolah. Tapi, sudahlah, mungkin aku dan Cong memang lahir di rahim yang salah. Mungkin kami berdua seharusnya lahir dari anak jendral, ilmuwan atau presiden tapi ternyata kami lahir entah dari apa. Tiba-tiba saja lahir di jalan dan dibesarkan pula oleh orang jalan.

Cong menghempaskan nafasnya padaku. Alisnya loncat, kemudian  memalingkan muka.

Mending molor buruan! Bukannya kamu capek dengerin omonganku, kan?!”

Emang…” kucoba sedikit menggodanya, tapi ia berdiam patung. Hening yang panjang.

Kami berdua pun tidur sambil menatap jalan, di antara kumpulan cahaya remang dan rangkaian sampah di pertikungan. Suasana malam pekat bersenyawa dengan debu.

Sesekali mobil lewat dengan deru mesin menggerung sangar, tapi kami tertidur nyenyak. Kami sudah biasa.

*

Senin pagi adalah hari di mana Cong selalu terlihat sendu, dari tingkah lakunya yang selalu gila, liar, meriah dan sumringah, anehnya jadi sepi. Seolah tubuhnya yang kuyu, terlarut dalam genangan hitam dan hilang di antara wewangian kemboja. Selalu saja, setiap hari Senin, ia tidak ngamen, apalagi mandi. Apalah yang dipikirkan Cong? Terus saja menatap remaja-remaja berseragam yang lalu-lalang di hadapannya. Cong seperti demam orang berseragam. Setiap ada orang berseragam lewat di hadapannya, matanya selalu beribinar penuh pukau sesak harap. Sesungguhnya Cong sangat iri pada mereka. Sudah berkali-kali ia katakan padaku, bahwa ia ingin lebih pintar dari orang-orang berseragam itu, dan bahwa ia ingin menjadi sukses agar dapat menolong orang-orang yang bernasib sama seperti dirinya. Tapi kenyataanya adalah kepahitan yang terpaksa ia telan bulat-bulat. Cong hanya bisa terpaku di antara orang-orang berseragam yang tak mempedulikan dirinya yang basah oleh air mata dan tergeletak kuyu seperti tumpukan sampah daging. Namun bagiku Cong bukanlah tumpukan sampah daging, Cong itu hidup! Tidak seperti orang-orang yang menengok dirinya dengan hati yang mati, hati Cong berbeda, hatinya hidup!

Selama ini aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala. Betapa rusak nasib Cong dan aku. Lahir di jalan, mati di jalan, apakah itu hidup yang memang harus kami pegang? Oh tentu kami tidak ingin! Biarlah kami menjadi seonggok daging di pinggir jalan dan biarlah aku mati, asal Cong bisa sekolah dan asal Cong bisa menolong sesama sampah. Mungkin kalau dia sekolah, ia bisa menjadi dokter, dosen, profesor, presiden bahkan astronot, seperti yang selalu ia cita-citakan.

Kini aku hanya bisa berdiri di hadapannya, ia melamun. Aku tak dipedulikan. Kucoba mendekatinya sambil menepuk bahunya yang kurus itu.

“Cong! kamu gak ngamen? kalo kamu gak ngamen, ntar kita makan apa?”

Udahlah Din, biasanya aku kan ngais dari tong sampah. Kadang-kadang ada saja orang yang buang makanan enak di situ.”

“Yeeeh! kalo gak dapet duit, ntar kagak bisa nyetor ke Mang Aya. Bisa-bisa kita dipukul pake tongkat, kayak dulu lagi!”

Cong hanya mendengus setelah mendengar ucapanku yang nyangkut di ceruk telinganya. Ia rebahkan tubuhnya yang kusam di dinding kelabu yang penuh dengan coretan piloks dan gambar penis yang sangat besar.

Masih segar dalam ingatanku ketika pertama kali Cong mencoret dinding kelabu yang dulunya masih polos itu dengan sketsa gambar sekolah memakai sebatang kapur. Begitu indah, gambar sekolah yang megah, lengkap dengan deretan kelas dan tiang bendera merah putih yang seolah berkibar penuh semangat di lapangannya. Namun kini dinding itu malah dipenuhi coretan piloks berbahasa kasar dan gambar penis. Sungguh kurang ajar.

Sambil merebahkan tubuhnya di dinding itu, pikiran Cong menerawang jauh, melebihi jalanan padat kota yang kusut, menerjang kerumunan manusia berwajah sibuk dan menembus gedung-gedung penusuk langit. Pikirannya tertuju pada satu arah: sekolah. Sekolah bagaikan surga bagi Cong. Di mana air ilmu mengalir seperti teladas di sungai yang teduh, lembaran kertas buku berterbangan bagai kupu-kupu, lengkap dengan bunga kesuksesan yang mekar di halamannya. Sekolah memang surga, mungkin pikir Cong.

Cong adalah saudaraku, yeah memang saudara abadi biarpun tak sedarah. Cong berkulit gelap dengan pakaian compang-camping namun hatinya lebih mulia dari pada emas. Tak pernah menyakiti, bahkan pada seekor burung.

Sewaktu kecil kami hampir saja buta huruf. Kami sangat ingat ketika kami meminta tolong pada tukang koran agar kami bisa membaca. Mula-mula tukang koran itu terbahak memandang kami seperti tahik. Jijik. Tapi entah kenapa, setelah seminggu kami memelas padanya, tukang koran menjadi sangat kasihan dan sangat takjub pada semangat kami. Kami diajari membaca, hingga akhirnya Cong membaca kalimat pertama yang kebetulan melintas di hadapannya: BUS DAMRI. “B, u, bu, es. D, a, Da, em, r i, ri. Bus Damri!!! Yeah!”

Ketika itu dapat kutangkap sinyal kebahagiaan Cong bersinar bagai pelita. Meresap ke relung jiwa.

*

Suatu hari Cong memekik padaku dari kejauhan, ia sedang duduk di bawah pohon yang rimbun dan teduh. Ia memanggilku dengan suara penuh harap di antara angin yang bersiul pelan. Aku bergegas menghampirinya, mencoba membalas sapaan wajahnya yang gembira dengan wajahku yang tersenyum cerah padanya.

“Ada apa, Cong? Kayaknya senang banget?”

“Lihat selebaran ini, selebaran sekolah gratis buat anak jalanan. Kau tengok saja baik-baik selebaran di tanganku ini! Kau pasti suka!” matanya berapi-api, membara berkobar.

“Selebaran? Selebaran apa? Aku tak melihat apa-apa di tanganmu, Cong?”

“Astaga, Din! Coba kau pandang ini! Ya selebaran ini! Masak gak kelihatan!”

Bener, Cong! aku gak lihat apa-apa!”

Cong terpaku mendengar ucapanku, ia kemudian melirik tangannya dan menggosok mata merahnya dengan jemarinya yang kurus.

“Ya ampun, betul Din! Selebaran tadi ada di tanganku, sungguh aku melihatnya di tanganku! Selebaran itu isinya sekolah gratis bagi anak jalanan, katanya di Cikudapateuh. Gak jauh dari sini tinggal naik kereta besok! statsiun kan dekat dari sini!”

“Tapi aku gak lihat selebaran itu Cong?”

“Aku yakin! Tadi kubaca selebaran itu di tanganku, kalaupun gak ada mungkin cuma hilang. Soalnya aku yakin selebaran tadi ada terus kubaca!”

“Kau yakin?”

Cong hanya mengangguk tersenyum. kemudian ia meninggalkanku. Ia hanya melambai dan bilang padaku bahwa ia akan pergi membeli buku tulis murah dengan uangnya. Ia berjanji akan kembali setelah sore datang membayang. Aku terheran, apakah selebaran yang tadi dilihat Cong itu memang benar adanya? Ataukah selebaran itu hanya lamunan Cong? Segalanya berputar di kepalaku, namun aku tak pernah melihat Cong seyakin itu sebelumnya. Karena rasa kasihan , aku percaya saja apa yang dikatakan Cong. Aku pasti ikut dengan Cong naik kereta besok, untuk pergi ke sekolah. Aku senang. Pasti.

*

Awal pagi yang karam, sebuah hari baru terbit menerangi tubuh kami yang gelap. Hari ini kuturuti saja keinginan Cong, pergi ke sekolah. Aroma pagi terharum lembut mengusap penciuman kami. Langit membiru dalam sesatan cahaya, berhias awan tipis dan deru serpih angin yang meniup rambut kami. Seluruh jalan menjadi biru. Dengung kendaraan hilir-mudik sibuk di jalan. Angin menyergap tubuh kami dengan harmoni kesejukan yang baru. Cong tertegap diantara pesona gemerlapan pagi hari, percaya diri. Ia dengan penuh kesyahduan berjalan menuju statsiun. Dari tadi, aku hanya memperhatikan Cong, wajahnya seolah menampilkan warna cerah baru, di punggungnya tertancap ransel butut yang ia temukan entah di mana. Kata Cong, di dalam ranselnya, ada buku yang ia beli murah kemarin, disitu juga ada kertas-kertas bekas yang masih kosong juga pensil yang sudah diraut pakai pisau semalam. Selama perjalanan, wajah Cong bersemi-semi, menghadirkan kelopak wajah yang berwarna sumringah. Cong senang bukan main.

Kami berlari memasuki statsiun. Nampak penumpang kereta yang lalu lalang dengan berbagai wajah, sendu, segar ada juga yang lelah. Juga ada petugas. Astaga! Petugas! Kami tak sanggup membeli tiket. Maka dari itu kami masuk melalui celah tembok. Kami luput dari pengawasan petugas tersebut. Kami menaiki kereta di atas gerbongnya, biarpun licin, Cong dan aku tetap nekad menaikinya.

*

Kereta mulai berjalan. Sudah diputuskan kami akan turun di statsiun Cikudapateuh. Selama perjalanan, tiba-tiba saja sinar muka Cong berubah, biarpun wajahnya masih menyungging senyum. Seketika aku merasakan perasaan tak enak berkelebat di dalam hatiku.

Baru beberapa menit kereta berjalan di atas rel baja hitam yang dingin membeku, namun kereta berhenti mendadak dengan suara menekuk tajam. Kami tersentak kaget. Tiba-tiba Cong tergelincir dari atap kereta yang licin. Aku segera menggapai tangannya, namun lepas. Ia terjatuh dan menghantam rel yang bersebrangan di depanku. Aku merasakan perasaan khawatir yang amat sangat pada Cong. Tanpa kuketahui, tiba-tiba saja Cong terbaring layu, matanya tertutup, wajahnya perih dengan suara yang melirih. Wajahnya pucat pasi namun bisa kulihat wajahnya perih. Sementara kereta ekspres dari arah berlawanan bergerak cepat.

“Coooooooooong!!!”

“Coooooooooong!!!”

Kereta selesai melintas. Aku terus menjerit parau memeras langit. Aku berteriak padanya, tapi ia masih tergeletak. Jeritku serasa payah, segera aku turun untuk menolongnya, tapi terlambat, kuda besi itu telah menggilasnya, usus Cong terburai, tubuhnya terkoyak dan hancur sama sekali, dilindas roda besi.

Aku segera mendekati tubuh Cong yang dikerumuni orang-orang. Jeritanku menggema ditelan dinding jantungnya yang sepi, kugengam tangannya yang hancur. Dingin. Cong saudaraku satu-satunya di dunia ini, mati mengenaskan. Perih. Lirih dalam sepotong wajah mati tersenyum. Tiba-tiba saja dalam jerit tangisku yang panjang perasaanku bergulung, aku teringat perkataan Cong sewaktu kecil dulu: “Din? Apakah di surga ada sekolah?”*

Diwana Fikri Aghniya, Siswa SMAN 15 Bandung Jawa Barat

Incoming search terms for the article:

diwana fikri aghniya, Cerpen cong, gambar bakulele, Cerpen diwana fikri aghniya, Cerpen diwana, manusia tertegap, semangat cong, cerpen tentang pertikungan cinta, cong yang dingin, diwana fikri

This entry was posted in Karya, SMU and tagged , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.