Kabut Masa Silam

Oleh Budi Saputra

Sebuah pagi, sebuah hari dengan udara dingin yang terasa lembab dalam diriku. Jatuhan tetes gerimis selepas subuh, mengingatkanku tentang timbunan musim hujan masa lalu. Tentang musim dimana burung-burung kedinginan di balik jendela. Begitu murung, begitu bergegas segalanya tentang yang kau sebut hidup. Dengan mengenakan jaket dingin yang lusuh, aku kembali menyusuri jalanan ini. Betapa kulalui dengan tabah, dengan jalan usia yang entah kapan berakhir atau remuk.  Rumah-rumah penduduk, daun-daun yang berguguran karena diterpa badai, dan langkahku yang tergesa di jalan licin ini.  Kulewati sebuah rumah kayu dengan warna cat kecoklatan itu. Rumah yang begitu murung. Wajah itu, suara itu, betapa pedih hidup mengalir. Mengalir bagai sungai dengan segala isinya, yang kemudian  berakhir  di  sebuah muara.

Menjelang langkahku sampai di stasiun, wajah itulah senantiasa terpana menatapku. Di tengah gerimis mengalir deras, samar-samar wajah  Buk  Rinah  tampak duduk terpaku di teras itu. Aku kadang tak kuasa menahan air mata hingga aku duduk terpaku atau terpaksa berdiri di sebuah gerbong yang padat. Kuingat wajah ibu di rumah, ibu yang  semakin tua di dapur. Menyambung hidup membuat penganan kecil-kecilan, dan dibawanya di sebuah sekolah  dasar  tempat  Naila  menimba  ilmu.

“Ibu telah lama kehingan bapak. Ibu tak punya apa-apa selain rumah yang kian reot ini, gerobak, dan seorang anak perempuan yang sepantaran dengan adikmu.” Begitulah Buk Rinah mengatakan padaku suatu ketika. Melihat keadaannya seperti itu, berjuang sendirian mendorong gerobak untuk memulung hingga petang hari, dan memberikan sedikit hasil jerih payah pada seorang anak yang lumpuh, lalu apa bedanya dengan keadaan ibu sendiri? Tak jauh beda, Wis. Tak jauh beda. Betapa beban itu aku pikul. Menatap derasnya hidup dari balik celah jendela. Menatap derasnya aliran sungai di dalam pagiku yang bergegas dari kamarku yang remang dan buram. Melewati dingin pagi menuju stasiun kota, tentu aku tak ingin terlambat. Ditinggal kereta dengan menyisakan perasanan ngilu, bingung, dan merasa amat bersalah dalam  diriku.

Aku tentu masih ingat, menjelang akhir semester  dua kelas satu SMA, ibu tak punya lagi biaya untuk kelanjutan sekolahku. Walau saat itu aku ingin melanjutkan sekolah seperti teman-teman kebanyakan. Kutatap wajah ibu yang tersandar setelah letih bekerja seharian.  “Dikar, maafkan ibu. Ibu tak punya biaya yang cukup untuk melanjutkan sekolahmu. Lihatlah adikmu, juga terlunta-lunta dan harus meminjam uang untuk biaya sekolahnya.”  Mendengar itu aku pun hanya bisa pasrah. Air mata meleleh di pipiku yang baru sembuh dari luka gores akibat berkelahi dengan salah seorang di sekolah. Tak lagi kuraih penganan yang sebelumnya kumakan. Tak seperti kau, Wis. Kau beruntung masih bisa melanjutkan sekolah mengikuti kakak-kakakmu. Sambil menyeka air mata, aku hanya bisa terpana melihat wajah ibu dan sesekali kulayangkan pandanganku ke arah foto ayah di dinding. Ada kesedihan yang memanjang  dalam  diriku. Seperti ingin meraung, tapi  tak sanggup.

“Aku mungkin akan mencari kerja, Bu.” Itulah kata terakhir aku ucapkan. Menangis sendiri di kamar, telah mengurasku untuk memikirkan masa depan. Pikiranku berlari. Kubayangkan wajah ayah, wajah kakak yang dulu senantiasa mencurahkan segenap keluh kesahnya padaku.

*

Ada pedih yang begitu dalam menusuk hatiku. Kau tahu, Wis. Ayah berlalu begitu saja dan membuat  ibu harus menanggung segala beban hidup yang berat ini.  Berlalu seperti kereta yang berlari di pagi buta, dan disaksikan bocah-bocah tak berdaya di tepian relnya.  Dulu, ayah begitu perhatian pada kami. Tiap pulang kerja, ada saja yang dibawa ayah untuk kami nikmati. Namun, perhatian itu perlahan berkurang. Kehangatan yang biasanya aku rasakan saat ayah rutin mengantarkan aku ke sekolah, seketika hilang saat aku mendengar kabar itu dari ibu. Saat itu adalah menjelang kenaikan kelas dua SMP.

Pada awalnya, aku tak mengerti mengapa ibu menangis sambil memeluk Naila. Aku baru saja pulang sekolah. “Kenapa menangis, Bu?” Mendengar itu ibu hanya diam. Dalam diam itu, aku pun ikut menangis. “Tak ada lagi ayah, tak ada, Nak.” Kemudian ibu menguraikan semuanya padaku sambil menunjukkan kesedihan mendalam. Pertengkaran yang  sering  aku saksikan ternyata  telah  membuat ayah meninggalkan kami.

“Belum lama kakakmu pergi, Nak. Dan sekarang, ayah memilih pergi dari rumah ini.”  Begitulah kenyataan yang harus kuterima,Wis. Kau bisa bayangkan, semasa di sekolah aku lebih banyak bungkam di depan teman-teman. Setiap ada yang bertanya dimana dan siapa ayah, maka itulah pertanyaan yang amat menggangguku. Kadang aku pun menangis sendirian di taman. Melihat teman-teman diantar ayah mereka, hidup berkecukupan, dan belajar dengan penuh semangat. Walaupun begitu, kadang bila bertemu di jalan, maka ayah selalu memberikan tambahan belanja padaku. Setelah itu, ayah pergi dan tak ada bicara banyak selain pesan untuk rajin belajar dan menjaga Naila.

Aku pun tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Aku mulai bisa menerima keadaan, walaupun awalnya sulit untuk lepas dari perasaan yang kerap membuatku ingin putus sekolah, dan memilih mengamen di perempatan. Kau tahu, Wis. Kekuatanku untuk terus bertahan. Bahwa Kak Rin yang pernah ajarkan padaku untuk semangat dalam hidup. Sebelum ia pergi untuk selamanya, banyak kisah yang pernah aku lalui dengannya. Tiap ada tugas dari guru, kak Rin-lah yang biasanya membantu. Ia begitu cerdas  di mataku. Lihatlah, tugas-tugas rumah dan sekolah ia lakukan dengan cekatan dan hati yang riang. Walaupun hidup  kekurangan, ia tak pernah mengeluh. Suatu hal yang menonjol darinya tentu kebiasaan membaca dan menulis, serta  selalu  masuk  rangking  sepuluh  besar.

“Ini apa yang Kakak tulis?” Tanyaku suatu ketika.

“Itu cerpen,” jawabnya sambil tersenyum. Begitu mengalirnya. Setelah aku berlari melewati lorong hidup ini,  semakin aku menyadari seorang kakak yang banyak memberikan pengalaman berharga padaku. Tentang tulisan-tulisan yang kerap ditulisnya dan dikirim melalui pos untuk diterbitkan di koran, dan buku-buku  bekas yang sering dibelinya di pasar loak, inilah yang membuatku begitu sedih membayangkan kematiannya. Maka, apabila ada yang bertanya tentang kematian Kak Rin, aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Aku lebih memilih bungkam dan sedih jika ada yang mengungkitnya. Termasuk juga saat kau tanyakan dulu, Wis. Berbagai media massa meliput kejadian memilukan itu. Malah, secarik potongan koran yang memuat beritanya  masih aku simpan, walau aku tak lagi membacanya dan bahkan berniat  untuk  membakarnya.

Ya, kematian Kak Rin yang ditemukan penuh luka dengan pakaian yang berantakan di tepi sungai itu, memang tak pernah terungkap. Aku dan ibu telah merelakan kepergian Kak Rin. Hanya yang ibu ingat saat itu, bahwa ibu sempat memberikan tambahan belanja sebelum Kak Rin berangkat ke sekolah tempat aku terakhir menimba ilmu. Dan pada malamnya, Kak Rin masih sempat menyetrika seragam sekolahku, dan melihatkan tulisannya yang akan diikutkan  dalam  sebuah  perlombaan.

*

Wajah ibu seketika cerah saat mendengar kabar dariku. “Kau dapat kerja di mana, Nak?”  Ibu seperti ingin sekali memperoleh jawaban dariku, walau saat itu sedang mencuci di belakang. Ya, tiap pagi itulah, Wis. Aku akan senantiasa bergegas dari kantuk yang buruk untuk segera menuju stasiun kota, hingga akhirnya sampai ke toko Pak Mahmud. Mendengar aku mendapat kesempatan jadi pelayan toko, ibu pun meneteskan air mata sambil memelukku. “Jalanilah saja dulu. Perlahan kau akan terbiasa.” Begitulah ibu membakar semangatku.

“Aku tak sendiri, Bu. Ada seorang  teman lamaku  yang  juga bekerja di sana.”

Ya, ibu tak bisa menyembunyikan tangis harunya di hadapanku. Ia begitu senang, walau dalam hati kecilnya, ibu barangkali merasa sedih tidak bisa melanjutkan sekolahku. Aku pikir, bekerja memang lebih baik dibanding menyusahkan ibu selama tiga tahun. Kau tahu temanku,  Wis. Isal, dengannyalah aku melewati hari-hari di tengah padatnya runititas kota.  Memang, tiap akan berangkat kerja, ibu senantiasa membungkuskan nasi untuk bekalku makan siang. Kadang apabila ibu sakit atau keletihan, maka aku sendiri yang menyiapkan bekal yang biasanya aku nikmati berdua Isal. Sehingga, tiap paginya, meskipun hujan sangat lebat, aku pun harus bergegas ke stasiun agar tak tertinggal kereta. Menjelang tiba di stasiun, aku harus menaiki angkutan umum  yang tentunya melewati depan rumahmu.

“Jangan terlambat lagi kau, Nak.” Inilah kata ibu yang selalu terngiang olehku. Dan aku pun paham,  meskipun Pak Mahmud orangnya santun dan baik hati, tentu aku tak ingin mengecewakannya. Pernah sekali waktu aku datang terlambat karena ditinggal kereta. Betapa sulitnya aku menguras perasaan saat itu. Namun setelah mendengar nasehat dari Pak Mahmud secara baik, aku akhirnya sadar. Aku tak ingin mengecewakan ibu. Ibu yang wajahnya senantiasa kutatap sebelum berangkat, yang tak jarang aku sama-sama berjalan dengan teman-teman  sekolahku  menuju  terminal.

“Kasihanlah pada ibumu itu, Dikar.” Isal dan Pak Mahmud pernah menasehatiku. Seolah telah tahu, bagaimana keadaan keluargaku, meskipun tak banyak yang aku ceritakan pada mereka. Ibu yang kata orang-orang pernah menjadi pemuas nafsu itu, tentu aku tak bisa menerima ucapan itu. Kau bisa bayangkan, Wis. Siapa yang tak marah bila ibunya dituduh melakukan yang bukan-bukan? Dan setelah kudapati ibu berjuang tanpa ayah, maka aku bertambah iba melihatnya. Aku tak peduli lagi kata-kata yang diucapkan begitu silam itu.

“Ibumu itu pernah menjadi pencuci pakaian orang di komplek sana saat kau kecil dulu.” Begitulah kata Buk Des  padaku tanpa maksud mempertanyakannya. Buk Des memang lumayan dekat dengan ibu. Sebagai pengemis di perempatan, ia begitu gigih mencari nafkah. Kata ibu, sewaktu Naila berusia dua tahun, ia pernah membawanya untuk mengemis. Walau ibu mendapatkan upah, ayah yang saat itu masih bekerja di luar kota, akhirnya mengetahui dan sangat marah pada ibu.

“Kenapa Naila dibiarkan saja dibawa orang gila itu?” Ibu menirukan kata ayah padaku. Ayah memang tak suka dengan keberadaan Buk Des yang berdekatan rumahnya dengan rumah ibu saat itu. Tak saja Naila, anak balita dari ibu-ibu tetangga pun juga pernah dibawa untuk pergi mengemis. Yang ayah khawatirkan tentu Naila mengalami kecelakaan atau kejadian buruk  lainnya.

“Upahnya kecil. Tapi kalau kecelakaan bagaimana? Siapa yang tanggung biayanya? Tentu  tak  sebanding  dengan  upah  yang  diterima.”

Ibu tertawa kecil saja saat menceritakan masa lalu konyol itu padaku. Meskipun kadang diwarnai keributan, namun tak lama setelah itu ayah dan ibu kembali baikan. Ya, begitulah aku dengan ibu saling menggali masa lalu. Kata ibu, jarak usianya dengan ayah lumayan jauh. Saat menikah dulu, ibu masih berusia 18 tahun dan ayah berusia 28 tahun. Dan kau tentu tahu, Wis. Rumah nenek di kampung dulu, di situlah awal hidup itu, awal langkah itu. Dan kita pun masih sempat sama-sama dibawa ke Posyandu, dan bermain air  dengan nenek.

*

Sebuah kabar gembira itu. Tak  disangka hidup ini, Wis. Saat aku baru saja pulang dari membantu  persiapan acara kemerdekaan dengan teman sekolahku dulu, kabar dari ibu membuatku sejenak terperanjat. Di sinilah awal mula ada semangat baru dalam hidupku. Ibu dengan tiba-tiba mengutarakan niat  untuk  melepaskan kesendiriannya.

“Siapa orangnya, Bu?” Tanyaku yang saat itu baru bekerja enam bulan di toko Pak Mahmud. Harus aku akui pada ibu, bahwa aku sejak ditinggal ayah memang  ingin sekali ibu bisa menikah lagi. Tapi, aku tak kuasa untuk bicarakan itu padanya, Wis. Dan dengan sedemikian rupa jalannya, maka Pak Samsul, ayahku yang baru  hadir di  tengah keluarga kecilku, dan memberikan  perubahan  besar  dalam kehidupan ibu.

Aku pun mengenal ayah yang lebih tua lima tahun  dari ibu itu  sebagai sosok yang sabar. Kau bisa bayangkan betapa hidup itu mengalir, Wis. Ayah yang sebelum menikahi ibu ternyata pernah melewati masa-masa yang sulit. Dua anak dan istrinya tiada lagi. Bencana longsor telah merenggut nyawa orang yang sangat dicintai ayah.

“Rumah ayah dan rumah warga yang lain saat itu semuanya habis tertimbun longsor.  Tak ada yang bisa ayah selamatkan selain pakaian yang melekat  di sebatang tubuh. Anak ayah itu, yang pertama seumuran denganmu, Dikar. Dan yang kedua lebih tua sedikit dari Naila  jika mereka berdua masih hidup.”

Aku mendengarnya dengan penuh haru, Wis. Begitulah awalnya aku memahami kehadiran ayah yang baru dalam hidupku. Dan jika kau bertanya tentang ayahku yang dulu, tentu aku tak  akan melupakannya. Kami masih  menjalin silaturrahmi walau  jarang bertemu.

Ya, ayah memberi perubahan besar bagiku, ibu, dan Naila. Ayah yang begitu rajin beribah ke masjid. Kulihat perubahan ibu. Ia mulai rajin beribabah  seperti ibumu. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah setelah berjualan penganan di sekolah. Kemudian aku. Aku pun banyak mendapatan ilmu dari ayah. Aku tak malu untuk  untuk mengikuti ayah ke masjid, meskipun kadang ada rasa malas. Naila mendapatkan perhatian besar dari ayah. Ia tak lagi nakal dan mulai membuat PR sekolah dengan rajin.  Begitulah  indahnya mulai terasa bagiku, Wis. Melewati lebaran pertama dengan suasana yang tak terpikirkan olehku sebelumnya. Aku mendapatkan pekerjaaan baru di toko buku kenalan ayah. Sebagai pedagang buah kecil-kecilan, ayah begitu rajin mengelola dagangannya.  Tiap pagi, kami pun sama-sama berangkat bekerja.

Tapi begitulah hidup, Wis. Hidup yang kadang ada suka dan ada dukanya. Awalnya, betapa ayah begitu bahagia saat ibu mengandung janinnya Fitri. Hingga menjelang kelahiran Fitri, ayah seperti biasanya, tetap berdagang dengan penuh semangat. Begitu pula denganku. Namun di situlah cobaan itu datang. Naila tiba-tiba terjangkit demam berdarah. Ia harus di rawat di rumah sakit dengan biaya yang tak sedikit. Maka apa bisa kau bayangkan, Wis? Ayah harus menanggung biaya di rumah sakit dan persalinan ibu. Sehingga, dengan biaya yang terbatas, aku pun harus merelakan tabunganku untuk membantu biaya persalinan ibu. Ibu yang setelah melahirkan, betapa mengalami kepedihan yang amat mendalam. Lima bulan setelah Fitri lahir, ayah pun harus pergi begitu cepat meninggalkan kami. Ayah meninggal dengan posisi terduduk  di tokonya menjelang  ashar tiba.

“Kita harus sabar, Bu. Relakanlah kepergian ayah. Ingat fitri, Bu. Ingat, ia masih kecil.” Air mataku pun tumpah sejadi-jadinya di pelukan ibu.”

*

Sebuah pagi, sebuah hari dengan udara dingin yang terasa lembab dalam diriku. Di stasiun kota ini, aku maknai sebuah perjuangan itu. Aku terpekur sejenak. Kuingat masa silam, bahwa telah jauh sudah aku berjalan, Wis. Dan aku tak mungkin mengelak dari segala beban ini, segala liku hidup ini. Aku sekarang telah bisa menerima segala kenyataan. Keadaanku telah mulai membaik dibanding sebelumnya saat kau ke rumah bersama ibu dan ayahmu. Kulihat ibu, ia juga telah mulai bisa bekerja sambil mengasuh Fitri.

Betapa sulitnya masa ini aku lalui, Wis. Sebagai anak pamanku, aku pun paham.  Kau tak bisa berbuat banyak untuk membantu keluargaku. Dan lihatlah olehmu, rententan kehilangan yang aku alami bersama ibu. Aku harus jatuh bangun dan mengorbankan sekolahku. Sementara kau, Wis. Kau masih beruntung punya keluarga yang lengkap. Bermain dengan teman-teman sebaya, dan mencari jati diri. Tapi meskipun aku sibuk bekerja, aku masih sempatkan diri meluangkan waktu bersama teman-temanku yang dulu.

Maka, dengan melihat berwarna hidupmu itu,aku ikut senang, Wis. Aku akan tetap menanti balasan  surat darimu. Di stasiun ini, kulihat lalu-lalang kedatangan dan kepergian. Berharap kau akan datang dan turun dari salah satu gerbong, meskipun aku tak pernah mengundangmu. Ya, aku hanya bisa membayangkan seperti itu. Membayangkan dirimu dengan mata yang agak sipit itu melambaikan tangan dari jauh padaku. Yang membuat rasa tak berdaya seketika menyergapku. Sejenak kupandang telapak tanganku yang terluka, lalu betapa sebuah kereta dengan bunyi gerbong dan terpaan anginnya, seperti memberikan rasa ngilu dalam hatiku.  Rasa ngilu yang memanjang dalam musim kepedihan.

Aku tentu masih ingat masa lalu kita  yang asyik bermain saat masih kecil dulu. Aku berharap, Wis. Kau memahami benih perasaan itu yang tumbuh. Perasaan yang senantiasa merembeskan debar setiap melewati depan rumahmu. Saat kau memeluk ibu dan mencium Fitri, aku tahu. Aku tahu  bahwa aku tak sendiri. Aku masih punya ibu, adik, dan tentunya dirimu.

 Padang, 2013

Budi Saputra, Mahasiswa  STKIP PGRI (Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Padang Sumatera Barat. Selain menulis cerpen literer ia juga menulis puisi, esai dan resensi buku. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media massa lokal maupun nasional juga beberapa telah dibukukan.

Incoming search terms for the article:

memikirkan satu saat aku akan kulihat berkerja dan mempunyai rumah sediri membuatku meras, cerpen masa depan yang kubayangkan, antologi cerpen, pemuas nafsu ibu komplek, cerpen tentang kabut susah kesekolah, Cerpen kabut masa silam, kata masa lalu pendek, ayah ku pemuas nafsuku, cerpen tentang seseorang ingin melanjutkan sekolah namun belum ada biaya, foto samsul sedang mencium naila

This entry was posted in Karya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Comments are closed.