KETOBUNG

Oleh Bambang Kariyawan

Hentak kaki kemantan kejungkur membuka acara. Langkah hentak tari maju mundur mengikuti irama ketobung yang kupukul. Ketobung yang kusandang telah menyatu dalam jemari-jemari ini. Beragam irama harus kukuasai mengiringi pengobatan belian. Aku tidak boleh lelah memukul ketobung walau sampai larut malam. Sedetik saja aku berhenti berarti kegagalan melaksanakan upacara yang telah disiapkan. Aku bangga dengan yang dilakukan bapak sebagai kemantan. Satu persatu nyawa disembuhkan dari sakit. Pengobatan yang dilakukan bapak merupakan tradisi yang harus kami pelihara, itulah tradisi belian.

”Belian bukanlah pengobatan biasa, acara ini memerlukan kekuatan, kemagisan, dan sekaligus seni,” bapak memberikan penjelasan di balik makna acara yang sudah mentradisi di kalangan orang-orang Melayu yang tinggal di pedalaman.

Kepercayaan menjadi kemantan di kampungku membuat bapak dikenal sebagai kemantan yang tak tertandingi. Kadang membuat iri kemantan-kemantan lain yang ada di kampungku. Aku menjadi bagian dari kehebatan bapak. Ya, aku menjadi bagian dari tradisi belian sebagai anak iyang pemukul ketobung.

”Mukul ketobung tak boleh asal bunyi. Kau harus belajar membedakan setiap hentakan pukulan. Kau bedakan mana irama pejongkouan, ondai bondai, sampai terakhir irama kemantan pulang. Kalau tak salah ada sekitar sebelas macam irama ketukan yang harus kau pelajari. Belajarlah dengan Pak Kasim tuh. Dia dulunya pemukul ketobung paling terkenal di kampung kita.”

Aku memang harus banyak belajar menjadi anak iyang dengan memukul ketobung. Anak iyang merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam belian, terdiri dari dua orang pemukul ketobung, satu orang penjaga obor damar, dan tiga sampai tujuh orang penjaga keselamatan benda-benda upacara.

Sampai kini nama baik keluarga kami terangkat di kampung karena pekerjaan bapak sebagai kemantan, dan aku ingin melanjutkan itu dengan kelak menjadi kemantan. Kujalani dengan segenap hati ingin menjadi seperti bapak. Kubelajar ketobung dengan Pak Kasim tanpa mengenal lelah. Aku diajarkan membedakan irama pukulan.

”Memukul ketobung tuh pakai rasa bukan sekadar berbunyi. Kau harus menyatu dengan ketobung yang kau pegang.”

Pak Kasim telah lama menjadi pebayu, sebagai pengawal kemantan.
”Bapak ingin menjadi kemantan, tapi belum berhasil karena ilmu yang bapak miliki belum cukup.” Pak Kasim bercerita tentang keinginannya itu.

Aku memang harus banyak belajar karena setelah bekenalan dengan Pak Kasim yang membuatku punya pikiran bahwa untuk menjadi kemantan memang tidak mudah.

Bapak memang pintar menempatkan diri. Saat tidak diminta menjadi kemantan, seharian mengandalkan kemampuan berladang. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga dipenuhinya dengan penuh kesederhanaan. Aku tetap diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan. Dalam keterbatasan tetap saja ada yang meminta bapak untuk mengobati keluarga penduduk yang sakit. Keterkenalan bapak sebagai kemantan telah sampai ke kampung seberang. Bapak tidak berharap pada imbalan tapi kepuasan bisa berbuat baik pada siapa saja.

”Jadi kemantan bukan untuk membuat kau jadi kaya. Tapi menjadikan dirimu berharga di mata orang.”

Alasan yang dikemukan bapak menjadi kemantan itu membuat kemantan yang lain kadang sering menebar permusuhan. Baik dalam pergaulan maupun saat bapak bertugas sebagai kemantan. Dalam pengobatan belian sering kemantan lain ingin menguji kemantan yang sedang mengobati dengan merusak dan dan mengirim ilmu kepada bapak. Kadang bapak sempat harus meraung-raung melawan ilmu kiriman kemantan yang lain saat mengobati pasien.

“Itulah risiko jadi kemantan nak. Kau harus tahan dengan pertaruhan kiriman ilmu dari kemantan yang ingin menguji. Kadang di situlah letaknya seni menjadi kemantan. Belajar bersaing dengan keras. Siapa yang paling tinggi ilmunya berarti dia yang paling menguasai ilmu belian.”

Apa yang diucapkan bapak memang benar adanya, tapi kadang aku merinding saat melihat raungan-raungan bapak menahan pertaruhan melawan kemantan yang ingin mencoba ilmu bapak. Kadang setelah melaksanakan pengobatan belian, badan bapak membiru bekas hantaman-hantaman badan ke dinding dan lantai. Perjuangan bapak menjadi kemantan menyemangatiku sebagai anak iyang untuk menekuni tradisi belian sebagai sebuah kebanggaan.

”Aku ingin menjadi kemantan.” Sebuah tekad yang memenuhi pikiran dan gerak hidupku dengan segala risiko yang harus kutempuh.

”Apa?!! Kau mau jadi kemantan? Tak ada kerja lain kah?” Teman-temanku selalu mempertanyakan hal-hal yang senada terhadap cita-citaku ini.

Kadang terombang-ambing juga ketika melihat ejekan teman-temanku atas keinginanku itu. Namun ketika melihat dan menyaksikan sendiri saat tradisi belian dilaksanakan, aku merasakan sebuah sensasi yang menyatu antara seni, magis, ritual, pertaruhan harga diri, dan kengerian. Puncak dari sensasi itu ada pada diri kemantan. Sensasi itulah yang membuatku perlahan bertahan dengan keinginan untuk menjadi kemantan.

”Bapak bangga punya anak seperti kau. Mau meneruskan tradisi ini. Dah banyak budak Melayu yang tidak peduli dengan tradisi ini. Berlatihlah dari anak iyang, nanti kalau kau tekun menjalaninya kau akan pindah menjadi pebayu yang akan selalu mengawal kemantan. Setelah itu kalau kau berhasil menjadi pebayu, barulah kemantan itu akan kau raih. Semua itu perlu ketekunan dan pantang menyerah.”

Nasihat bapak membuatku semakin bergairah. Aku yakin saat ini ilmu menjadi anak iyang sudah cukup kukuasai. Perlahan kupelajari para pebayu menjalani tugasnya sebagai pengawal kemantan. Perjalanan waktu menempaku menjadi semakin banyak tahu tentang pebayu dan kemantan.

Senja merah menelingkup kampungku yang rimbun dengan perkebunan karet. Kala malam gemintang menaburi kerlip cahaya yang menyentuh dedaunan karet ikut bercahaya.

”Sebentar lagi kita ada acara belian besar untuk mengobati anak kepala desa yang tidak sembuh-sembuh sakitnya. Dokter puskesmas desa tak sanggup mengobatinya. Entah apa pula penyakitnya.”

Bapak memintaku menyiapkan diri dengan memukul ketobung sebaik-baiknya saat mengadakan belian nanti. Segala kelengkapan telah disiapkan dengan dipandu induk longkap. Disiapkannya padi, limau, tepung beras, tepak sirih, pedupaan, tikar pandan, ayam jantan, giring-giring, kain batik, balai, janur, kipas daun kelapa, lilin, damar, dan ketobung.

Malam itu bulan sedang sepenuh hati memancarkan cahayanya. Di balai induk aku memulai acara belian dengan memukul irama pejongkouan, bapak mulai kejungkur di lantai balai. Sebuah percikan sensasi memulai rangkaian acara yang akan panjang dilalui kami, namun tetap membuatku untuk selalu menanti sensasi yang akan diperbuat bapak dalam melaksanakan tugasnya sebagai kemantan. Melihat bapak mulai memindahkan gerakan baru, aku melanjutkan irama ondai bondai dan irama majo sundo. Irama yang kupukul membuat bapak siap melakukan gerakan tari maju mundur di atas tikar pejungkuran. Gerakan tari maju mundur dan irama-irama ketobung yang semangat kupukul membuat bapak semakin menggila untuk menemui para keramat untuk mendapatkan petunjuk pengobatan yang tepat untuk pasien. Sekilas kulihat kelebat bayangan melintas dihadapanku. Aku seperti akrab dengan bayangan tubuh itu.

”Aku baru ingat … itu kan Pak Kasim? Apa yang diletakkan di tiang itu?” heranku.

Saat berjingkrak-jingkrak dan meracau entah apa yang diucapkan dengan bahasa-bahasa yang sulit kumengerti, tiba-tiba bapak melakukan gerakan yang belum biasa bapak lakukan. Kepala bapak hentakan dan membenturkan di tiang balai yang telah disiapkan dan dijaga agar terhindar dari benda-benda tajam. Bapak semakin tidak terkendali dan membenturkan dan sesaat darah muncrat dari kepalanya.

”Bapaaakkkk!!!!” Aku teriak sekuatnya dan aku tidak peduli harus menyelesaikan memukul ketobung sampai selesai upacara.

”Berhentiiii!!!” teriakku sekuat yang bisa kuteriakkan membuat semua mata memandang ketragisan yang ada di mata mereka. Semua yang hadir hanya bisa diam. Tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

”Bantu bapakku, dia perlu pertolongan!!!” Sekuat tenaga kubopong bapak ke balai yang lebih terang. Kubersihkan darah yang melumuri kepala bapak. Induk longkap yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan acara belian, mendekati dengan merangkulku.

”Sabar nak, bapakmu sudah tak ada.” Bisikan induk longkap menggelegar di telingaku.

”Bapaakkk!!! Suaraku menggema disambut dedaunan yang merunduk disiram rembulan.

Kesunyian dan kemuraman berlanjut sampai pemakaman bapak. Aku hanya bisa menatap ketragisan kematian bapak di antara gumpalan-gumpalan tanah pemakaman. Sejenak ada kepiluan menyayat setiap melihat ketobung yang tergantung di kamarku. Ketobung itu mengingatkanku akan keinginan sekaligus keputusasaan untuk meraih keinginan untuk menjadi kemantan. Aku mendengar pembicaraan induk longkap beserta pebayu dan kemantan-kemantan lain.

”Aku yakin ada yang sengaja meletakkan paku di tiang itu. Bukankah telah kita periksa sebelum upacara belian dimulai?” Induk longkap meyakini yang hadir di ruang tamu rumahku. Aku hanya mendengarkan dari kamar menemani emak yang sayu dan sembab sejak bapak meninggalkannya.

”Apa ada kemantan lain yang mencoba-coba ilmunya ke bapak?”
”Mungkin saja, ada yang iri dengan beliau. Bukti kuatnya adalah paku yang menempel di tiang itu.”

”Tapi siapa pelakunya?”
Kudengar setelah pertanyaan itu semua yang hadir terdiam. Tapi aku sudah mengerti jawabannya. Sebuah senyuman tipis yang seharian tidak mampir di bibirku kini berkembang.

”Emak, aku tahu penyebab kematian ayah,” bisikku perlahan.
Bulan separuh mewarnai kampungku. Aku diajak induk longkap untuk kembali mengikuti acara belian.

”Menabuhlah ketobung kembali nak. Bapak kau pernah bilang suatu saat kau akan jadi kemantan yang handal.”

”Siapa kemantannya nek?”
”Bakal kemantan baru kampung kita, Pak Kasim. Ini acara peresmiannya menggantikan bapak kau.”
”Apa nek, Pak Kasim??!!”
”Iya, ada apa nak?”

Aku hanya diam. Raut bahagia wajahku coba kusimpan di hadapan induk longkap. Ketobung yang tergantung di kamar kupandangi dan pikiran-pikiran nakal menjelajah otakku. Aku terbahak membayangkan malam menjelang. Kampungku kembali diramaikan dengan peresmian Pak Kasim sebagai kemantan.

Gemintang di langit ikut memainkan matanya menyaksikan acara yang membuatku kembali menabuh ketobung. Semua perlengkapan peresmian telah disiapkan.

”Tabuh ketobung kau sangat menentukan acara ini. Masih ingat kan cara yang aku ajarkan?” Pak Kasim menghampiriku. Aku hanya beri anggukan dan enggan memandang wajahnya.

Malam semakin pekat, di balai induk yang telah disiapkan, aku memulai irama pejongkuan. Aku ikuti dengan irama tabuh ketobung yang lain. Tampak gerak atraktif yang dibuat Pak Kasim karena semangat dan percaya dirinya sebagai kemantan baru. Tapi aku tetap tidak merasakan sensasi itu. Gerakan maju mundur tarian belian, semakin cepat, aku lihat Pak Kasim mulai menggila gerakannya dan pukulan ketobung semakin berentak cepat iramanya. Melompat, berjingkrak, menggerung dilakukan semakin tak terkendali, dan kepalanya mulai menghentak-hentak ke dinding dan aku seperti melihat gerakan liar yang pernah menimpah bapak. Secepat anggukan jam bandul kepala membentur teratur tak berhenti. Dan darah muncrat dari kepalanya.

”Berhentiiii!!!!” Pebayu berteriak membuatku acara yang sedang bergemuruh ini tiba-tiba menjadi sunyi.

Semua panik melihat kejadian yang menimpa bapak terulang lagi. Tapi tidak dengan aku. Kulihat cahaya terang di langit berupa wajah bapak tersenyum.

”Terima kasih nak,” begitu ucapnya membuatku tersenyum dan tertawa di antara kekalutan melihat jasad Pak Kasim yang berlumuran darah karena paku yang kutancapkan di tiang yang sama ditancapkannya untuk mematikan bapak.

Bambang Kariyawan Ys, Guru SMA Cendana Pekanbaru Riau
Pemenang Harapan LMCR 2009 untuk kategori C (Mahasiswa, Guru dan Umum)

Incoming search terms for the article:

ketobung, ketobung bambang, cerpen ketobung, cerita pendek tentang tanggung jawab, dilema remaja maju malam mundur semangat, cerita pendek tentang orang desa yang loba, cerita pendek tentang keluarga, cerita pendek tema pantang menyerah, cerita orang desa yang loba, bapak gerak maju mundur

This entry was posted in Karya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Comments are closed.