LILIUM AURATUM

Oleh Maria Yosephine

Setengah dekade lalu, saat cahaya belum meraja di atas kelam.

“Berdirilah, Kevin,” ucapnya lembut di balik punggungku. Cuaca sedang buruk, hujan seolah tak hendak berhenti mengguyur bumi dan petir menyambar-nyambar. Telingaku akrab dengan suara itu. Suara yang belum memudar diterjang waktu.

“Eve, kau rupanya,” jawabku pelan, masih menatap nisan berukir aksara. Air langit merembes ke dalam serat kain pakaian, membuat kulitku merasakan dingin yang terhantar olehnya. Kusibak rambutku yang basah kemudian tertawa penuh derita. “Bunga ini … mengapa tidak kau katakan padaku sejak awal?”

“Hujannya deras. Pulanglah,” balasnya pelan, tak menggubris pernyataanku sebelum ini.

“Tidak mau,” ucapku singkat.

“Kalau begitu aku akan terus berdiri disini bersamamu.” Ia mendekatkan dirinya, seketika seluruh deras hujan yang menghantam tubuhku berhenti, disusul suara gemuruh air menghujam payung di atas sana.

Aku bergeming, tak tahu harus berbuat atau berkata apa.

Sudah lebih dari tiga jam hujan tak kunjung berhenti dan Eve masih berdiri di sampingku.“Kevin, ia juga sedih melihatmu terus begini,” tuturnya lembut.

“Dia sudah mati,” gumamku pelan, bersatu dengan bunyi rinai titik air.

Eve bungkam. Bahasanya terputus oleh kalimatku.

 

Dua pancawarsa silam, ketika kasih adalah murni tanpa cela.

“Cepat, Clara! Nanti terlambat!”

“Iya, Kak. Sebentar, kemejaku belum dikancing,” jawabnya dari dalam rumah. Aku tersenyum.

Setelah Clara benar-benar siap, ia duduk di belakang dan meletakkan kedua tangannya pada pinggangku. Kukayuh pedal terburu-buru. Ia tertawa penuh sukacita, merabai angin lembut yang menerpa wajahnya. Seperti inilah kegiatan kami kala mentari baru saja terbit.

Kami menuntut ilmu di tempat yang berbeda.Tak jarang aku dihukum karena terlambat datang dan tidak diizinkan mengikuti pelajaran jam pertama. Sebagai seorang kakak aku hanya menjalankan kewajibanku, mengantarnya menimba pengetahuan, walau jarak sekolah kami cukup jauh. Cukup untuk membuatku bersimbah keringat setiap pagi.

Bahkan ketika aku telah duduk di bangku kuliah, pun kami tetap pergi bersama.

“Nanti temani aku beli bunga ya, Kak?” ucap Clara di kursi sebelahku saat aku mengemudikan mobil Ayah.

“Bunga? Untuk siapa?” tanyaku, mengernyitkan alis. Sejauh yang kutahu, Clara sedang tak jatuh cinta pada siapa pun. Lagipula mustahil harga dirinya serendah itu.

“Tidak. Beberapa hari lalu aku melihat bunga itu di majalah. Aku sangat ingin membelinya,” jawab Clara, “untuk diriku sendiri.”

“Apa nama bunga itu?” kataku seraya membelokkan roda depan mobil ke arah toko bunga terdekat.

Lilium auratum, atau biasa disebut golden-rayed lily. Kakak harus melihat bunga itu. Warnanya putih bersih dengan corak kekuningan pada mahkotanya. Benar-benar indah. Selain itu, aromanya khas sekali. Seperti pewangi pakaian yang biasa ibu gunakan.”

Ibu sudah lama sekali meninggal. Sejak itu pula pakaian kami tak pernah lagi membagikan manis keharuman yang Clara kisahkan. Aku berdehem, sesak batinku dijejali ingatan berbau kematian. Terdengar umpatan seorang pengendara motor yang hampir hilang kendali akibat buyar konsentrasiku.

“Maaf, Kak.” Air muka Clara menuturkan penyesalan.

“Tidak masalah. Tak perlu minta maaf,” balasku pelan. Tenggorokanku tercekat, hanya itu yang dapat kusuarakan.

Satu windu sebelum hari ini, kala benih mulai berkecambah.

Adik semata wayangku kini tengah dirawat di rumah sakit. Terbaring antara kami yang hidup dan mereka yang mati. Tidak dapat disangkal, aku sangat takut. Benakku dibuatnya tak bisa tenang.

“Mengapa kau melamun?” tanya Eve padaku di taman dekat rumahnya.

Aku baru saja ingin membuka mulut dan memberitahukan kebenaran ketika ponselnya berdering, mengalihkan perhatian kami.

“Maaf,” lafalnya cepat.  Ia melihat ke layar ponsel, kemudian dengan cekatan jarinya menekan tombol reject dan segera memasukkannya ke dalam kantong celana.

“Tidak diangkat?” tanyaku.

“Biarkan saja, aku masih marah padanya.”

“Adam, ya?” kataku menebak.

“Iya, diasangat menyebalkan.” Kemudian bibir tipisnya maju beberapa sentimeter, terlihat sangat menawan. Tanpa sadar darahku berdesir, memompakan takjub ke setiap sel tubuh.

“Tapi … kalian sangat dekat, kan?” Aku penasaran. Adam dan Eve hampir selalu terlihat bersama, meski kebanyakan kisah yang didongengkan sang kakak padaku tentang adiknya adalah keburukan.

“Begitulah. Kadang kala ia menyebalkan tetapi tak jarang sikapnya seperti malaikat.” Ia tertawa, kemudian netranya menatap dalam korneaku. “Kau punya saudara?”

“Ya, aku punya seorang adik perempuan. Clara, namanya. Dia mirip denganmu. Baik, lucu, ramah, cantik,” jawabku dengan nada menggoda, mengirimkan sinyal afeksi padanya. “Walau agak cerewet.”

“Maksudmu aku cerewet?” tanya Eve kesal, menekankan kata ‘cerewet’ pada kalimat yang diucapnya. Terlihat semakin mirip dengan Clara.

Aku terpingkal melihat ekspresinya, kemudian teringat wajah Clara. Ia pasti senang bila bertemu dengan Eve. “Mau mengunjungi adikku di rumah sakit? Ia sedang kurang sehat.”

Wajah Eve mengumandangkan sejuta pertanyaan. “Sakit apa?” tanyanya penasaran.

Sakit yang sama dengan Ibu. “Tidak parah,” kataku berbohong. “Nanti kita belikan bunga kesukaannya agar dia senang. Bagaimana?”

Clara. Sejak ibu meninggal hanya ia yang kumiliki. Semua anganku telah tertanam dalam liang kubur. Ambisiku, semangat hidupku … habis terkikis suram. Dia yang memaksaku untuk berdiri, bangkit dari sadisnya kematian. Aku menyayanginya lebih dari segala yang hidup dan tak hidup di dunia ini.

 

Empat puluh bulan setelahnya, ketika pekat meniriskan hitam.

Tubuhku beku. Hanya berdiri di sudut ruangan, terus menatap pada wajah yang terbaring kaku dalam peti. Kecantikan wanita itu tak sirna walau nyawanya telah pudar.

Semua yang datang ke pemakaman terlihat berdukacita atas kepergiannya. Aku. Mungkin akulah manusia yang paling terpukul, tak kuasa menerima kenyataan pahit ini. Ibu telah tiada. Sampai detik ini pun luka itu belum sembuh. Apa harus Clara? Mengapa bukan orang lain saja? Kadang kala Tuhan tak adil. Tak pernah benar-benar adil.

Kala itu Eve berusaha mati-matian menerbitkan senyumku, walau sia-sia adanya. Ia tidak tahu seberapa perih remuk yang tercipta oleh lubang dalam hatiku. Pun aku takkan sanggup melukiskannya bila ia memintaku menumpahkan semua siksa itu. Bahkan air mataku telah dibuatnya mengering.

Aku tak tahu apa yang membuatku begitu menginginkan ketidakwarasan ini: membeli sebuket bunga Lilium auratum setiap hari, membawanya pergi kemudian duduk diam di sebelah gundukan tanah tempat tubuh Clara bersemayam, dan terus melantunkan lagu yang dahulu sangat ia senangi. Tak peduli panas atau hujan, aku tetap tak bergeming memandang nisan. Jelas idiot di logika setiap orang yang kebetulan melewati tempat pemakaman.

Di sini, di sebelah nisannya, bersama Lilium auratum, hanya mengingatkanku pada cerita Eve. Saat itu aku ingin berteriak, menghilangkannya dari hidupku bila perlu. Aku takut. Masih takut sampai saat ini. Sebab dari caranya bertutur, aku tahu ia tak main-main.

*

Clara gadis yang sangat cantik, terlihat jelas dari wajahnya bahwa ia sosok yang lembut dan baik hati. Perempuan yang begitu sempurna … dan beruntung. Ia memilikimu, dan engkau memilikinya. Segalanya telah lebih dari sempurna.

Aku senang saat kau mengajakku menjenguknya di rumah sakit. Adikmu menyambutku ramah dengan senyumnya, membuatku merasa nyaman dan akrab. Ketika kau pergi ke kamar kecil, bidadarimu mengajakku bicara. “Kakak sudah berapa lama mengenal Kak Kevin?”

“Pertama kali bertemu… mungkin setahun lalu. Saat itu Kevin menolongku yang kecopetan. Akan tetapi, kami baru dua minggu berteman baik,” jawabku lugas, berusaha jujur. Kuakui aku agak minder saat berbicara dengannya.

“Setahun lalu? Sudah lama sekali,” balasnya sambil tersenyum. “Apa Kak Kevin pernah bilang suka olahraga?”

“Iya. Ia menjadi sangat lincah dan bersemangat ketika menggerakkan tubuh. Yang aku heran, ternyata ia menyukai semua cabang olahraga. Katanya dia sering tidur pagi demi menyaksikan pertandingan tim favoritnya di televisi, selain itu—”Aku memutus kalimatku, sadar telah berbicara terlalu banyak.

“Mengapa berhenti?” Clara kembali tersenyum, wajahnya terlihat sangat lemah. “Sejak Ibu meninggal, Kak Kevin jadi malas olahraga.”

Benar. Dia benar. Aku pernah mendengarnya langsung dari mulutmu sendiri. “Tubuhnya kuat, tapi mentalnya lemah.”

Tanpa kusangka, Clara tertawa. Tawanya begitu menyenangkan, renyah tanpa beban. Kemudian matanya menangkap bayangan keemasan di dalam sebuah vas keramik: bunga Lilium auratum yang kaubawa untuknya.

“Kak Eve suka bunga itu?” Manik matanya menunjuk sekumpulan mahkota putih berteman hijau daun di atas meja. Mereka terlihat anggun, sangat cocok dengan pribadi Clara.

Aku berpikir sejenak, mengingat sensasi tak biasa tiap aku menghirup wangi manis pekat bunga itu. “Tidak juga. Warnanya indah, tapi aku tak terlalu suka baunya.”

“Sebenarnya,” ucap Clara pelan, “aku benci bunga itu. Kak Kevin mengira aku menyukainya. Padahal …itu bunga favorit orang mati.”

Lidahku tercekat, berusaha mengumpulkan kosa kata yang dibuatnya tercecer. “Orang mati?” kataku serak. Kau selalu menggembar-gemborkan keelokan bunga itu, menuturkan segala kisah yang kau alami bersama Clara dan Lilium auratum seakan mereka adalah makhluk fantasi. Nyatanya?

Lilium auratum melambangkan kebangkitan setelah kematian. Tak banyak orang tahu itu. Dulu saat pertama kali aku meminta Kakak menemaniku membelinya, ia bertanya untuk apa bunga itu. Aku berbohong sebab aku takut ia akan sedih bila tahu maksudku yang sebenarnya.” Nada bicara Clara lembut sekali, hatiku tersayat mendengar tiap kata yang dilafalkannya.“Bunga itu untuk Ibu.”

Aku bergeming. Pikiranku melambung ke sana dan ke mari, membayangkan hatimu yang pasti retak bila mengetahui semua ini.

Clara menatap wajah gundahku, kemudian tersenyum sekali lagi. “Jangan bilang pada Kak Kevin soal bunga itu, ya. Aku tak ingin membuatnya merasa bodoh atau menyesal. Biarlah ia tetap menganggap itu bunga favoritku, toh tak lama lagi makna bunga itu akan kurasakan.”

Baru saja aku berniat menanyakan maksud perkataannya, kau masuk dengan wajah sumringah dan membuyarkan perbincangan kami. “Kalian tampak akrab sekali? Sedang membicarakan apa?”

Bungkamlah aku. Bungkamlah dia. Tak menggubris pertanyaanmu.

*

Tadinya kupikir nelangsa ini takkan lebih menyayat lagi, sampai kudengar kisah itu darinya. Kisah tentang kebenaran yang mencabik dalam menembus nurani.

Hujan berhenti pukul setengah tujuh malam. Perlahan Eve meletakkan payungnya di atas tanah basah dan duduk menemaniku yang belum beranjak satu sentimeter pun. Pada akhirnya kami pulang jam dua pagi setelah ia mulai bersin, terserang flu karena terus diam di bawah derai air langit.

Semenjak saat itu aku tidak lagi melakukan semua ritual tak wajar yang biasa kuperbuat. Aku sadar, Eve menyayangiku. Ia rela berdiri ribuan detik hanya untuk memayungi tubuhku yang basah agar tak semakin basah. Masih banyak cinta yang bisa kumiliki, yang Allah sediakan tanpa pamrih.Mungkin sebenarnya aku naïf dan  bodoh. Atau mungkin inderaku hanya terlalu lemah untuk menangkap segala pertanda-Nya?

Kuputuskan untuk melupakannya. Bukan, bukan Clara yang kulupakan. Aku hanya ingin menghapus semua derita yang tercipta oleh kenangan buruk atas kematian. Dimulai dari bunga itu. Lilium auratum.

Jembatan yang membentang di atas deras sungai inilah saksi bisuku. Materi berwujud yang akan senantiasa mengingatkan aku dan mereka. Mungkin ini bukanlah langkah yang sungguh-sungguh tepat. Menyingkirkan sekumpulan mahkota putih dari hidupku takkan memusnahkan seluruh pedih yang telah diciptakannya.

Sedetik sebelum aku melempar buket dalam genggamanku jauh-jauh, bahuku ditarik kasar dan hantaman keras mendarat mulus pada rahang bawahku. Butuh waktu bagi netraku untuk memfokuskan bayangan si pelaku. Eve. Ia pasti mengiraku hendak mengakhiri hidup.

Aku bergeming memandang matanya dengan tatapan takjub. Eve memang bukan perempuan yang selalu bersikap lemah lembut, namun tak pernah kusangka ia berani melakukannya. Membuatku merasa begitu lemah. Rapuh.

Ragaku yang kedinginan tanpa terperintahkan mendekap tubuhnya dalam peluk yang meredam napas kami masing-masing. “Aku takut,” erangku di telinganya. “Aku sangat takut, Eve.”

“Ta-takut … pada apa?” tanyanya gugup.

“Kematian.” Kematian yang memilukan. Kematian yang menghilangkan.

Seketika kesenyapan merayapi atmosfer. Membisu dalam hangat yang meleburkan beku.

“Apa kau percaya pada kebangkitan setelah kematian?” tanya Eve lagi, mengingatkanku pada sebuket bunga lili.Tanpa pikir panjang kuhantar bunga itu pada deras aliran sungai.

Bunyi riak air menyeruak dalam telinga. Aku bisa merasakan pandangan Eve teralih pada bungkusan putih yang berlayar cepat di atas gelombang, mengikuti aliran sungai, dan perlahan tenggelam. “Tidak, aku tidak percaya. Mereka yang sudah mati takkan pernah bisa hidup kembali,” jawabku datar, masih memeluknya. “Aku tidak berniat melompat tadi. Aku hanya sedang berpikir untuk membuang bunga putih itu beserta seluruh kenangku tentangnya. Maaf sudah membuatmu panik.”

Segala yang memiliki rupa pasti rusak, hancur, dan lenyap.

Hari ini, detik yang berharga, di tempat ini.

“Mataharinya indah, ya?” ucap Eve, menyandarkan pelipisnya pada bahu kananku.

“Tidak pernah seindah ini,” balasku hangat seraya menghembuskan napas perlahan. Tak pernah kutahu mentari yang terbit sejuta kali lebih menawan dari matahati terbenam yang sering diagungkan orang banyak.

“Aku mencintaimu,” katanya halus, bersahutan dengan desir ombak di pesisir pantai. Telapak kaki kami merasakan lembut pasir, sedang angin yang bertiup tak henti-henti memainkan tiap helai rambut tergerainya.

“Aku tahu,” jawabku, “aku juga mencintaimu. Lebih dari apa pun yang hidup dan tak hidup.”

Lima tahun berlalu. Segala yang gelap kini telah benderang. Kebangkitan bukanlah hal yang fiktif. Raga yang rusak takkan pernah bisa bangkit kembali. Akan tetapi, jiwaku menolak terkekang dalam kematian. Aku bangkit. Aku di sini. Bersamanya: Eve.*

Maria Yosephine, siswi  SMA Pahoa Gading Serpong Tangerang

Incoming search terms for the article:

cerpen LILIUM AURATUM, bunga lily auratum, lilium auratum, apa itu lilium, ceripen lilium auratum, cerita aku adalah bunga yang cantik, apa lilium auratum, cerita pendek menuntut ilmu, Apa itu lilium?, Aku tidak terlalu suka olahraga

This entry was posted in Karya, SMU and tagged , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.