MATA BIRU KARTINI

Oleh Raudhoh

Siou Yu membuka matanya pelan. Ia masih diselimuti rasa mengantuk. Namun, dari dalam kamar, ia mendengar suara maminya yang melengking. Ah…sudah hal biasa kalau maminya paling pantang melihat anak gadis yang suka bangun kesiangan.

Sejak semalam suasana rumah terlihat sibuk sekali. Mami Siou Yu menyiapkan makan malam yang meriah. Begitu bergembira menyambut perayaan Cap Go Mee. Martha, adik Siou Yu sedang asyik menyusun kue bulan, pisang raja dan jeruk bali ke dalam keranjang sebagai persembahan nanti di Pulau Kemaro. Sekitar dua puluh tongkang sudah sejak semalam nangkring di Benteng Kuto Besak kota Palembang. Tongkang-tongkang inilah yang akan membawa mereka sampai ke Pulau Kemaro.

Kelenteng di pulau Kemaro amatlah unik, bukan hanya karena karakternya yang hybrid, namun terutama karena arahnya yang menghadap ke Qiblat, mengikuti arah makam Siti Fatimah. Gaya arsitektur campuran Cina – Palembang – Jawa – Arab – India nampak jelas dari ornamen, patung, warna, struktur, serta detil bangunannya. Asap dupa mengepul dari batang-batang hio raksasa yang ditancapkan berjajar di poros kelenteng, mengiringi bubungan asap pembakaran kertas bertuliskan harapan, permohonan, dan doa syukur masyarakat, yang dibakar pada pagoda segi delapan beratap kubah ala masjid di ujung Qiblat pulau Kemaro.

Siou Yu lari berjinjit masuk ke kamar mandi. Langkahnya hati-hati takut terlihat oleh maminya. Karena mami sangat sebal melihat anaknya masuk ke kamar mandi hanya mengenakan kain handuk saja-tidak sopan katanya. Siou Yu tak ingin ketinggalan tongkang. Selesai mandi ia menghubungi Kartini, teman karibnya yang sudah bagai saudara sendiri.

“Aku tunggu di Benteng Kuto Besak ya, di garang tempat naik tongkang, oke?” teriak Siou Yu pada Kartini dari ujung telepon selularnya. “Oke,” jawab Kartini singkat.

*

Mobil Siou Yu sampai di pelataran Benteng Kuto Besak. Matanya langsung mencari sosok Kartini. Sosok yang dicarinya tampak sederhana-hanya mengenakan kemeja dan rok di bawah lutut, Kartini mampu membuat banyak mata meliriknya. Bukan hanya kesederhanaannya yang memikat-tapi lebih dari itu, mata biru Kartini membuat kagum banyak mata. Sepasang mata biru yang begitu mencolok di antara ratusan mata coklat sipit khas China.

Kakek Kartini keturunan Belanda yang menikah dengan neneknya asli Palembang. Meski ayah dan ibu Kartini bermata coklat pekat, tetapi mata biru kakeknya itu kini menurun kepadanya. Ayah Kartini memiliki satu getek yang dipakai sebagai sumber mata pencaharian. Kehidupan keluarga Kartini bisa dibilang sangat sederhana. Jauh dari hingar-bingar kemoderenan.

Kartini dan Siou Yu duduk dipinggir jendela. Tongkang-tongkang berjalan pelan melewati bawah jembatan Ampera. Bunyi gong dan musik-musik menggema sungai Musi. Warga yang tinggal di sekitar sungai berebut ikut menyaksikan ramainya tongkang yang dihias warna-warni itu. Teriakan-teriakan anak kecil bertelanjang dada mengoceh seadanya-tanpa beban.

“Ang pao nyo oiiii, Cino kulub,” teriak anak-anak kecil dari pinggiran sungai Musi. mencoba mencerna teriakan-teriakan tadi.

“Cino kulub?” Siou Yu sedikit tersinggung, tampak sedang mencerna teriakan-teriakan tadi.

“Ah biasalah anak-anak, yang mereka tahu kalau keturunan Cina itu tidak pernah dikhitan, makanya digelari Cino kulub, Anak-anak selalu berkata jujur apa adanya,” balas Kartini sambil menyunggingkan senyum termanisnya.

“Hei, apa kamu mau diramal nanti? Kami percaya kalau ramalan di Pulau Kemaro sering terbukti. Biasanya peramal akan melihat peji mu. Kalau cocok dengan apa yang diramalkan, dia akan bilang hap, ” Ajak Siou Yu.

“Ehm, Islam melarang kami mempercayai ramalan, lagipula apa yang mau diramal dari seorang Kartini seperti aku ini,” balas Kartini sopan.

“Kamu seperti encek , tidak suka diramal, hahaha,” Siou Yu tertawa renyah.
Tongkang sudah menepi di jembatan ponton pulau Kemaro. Mamang yang mengendarai tongkang mengikatkan tali kapal ke tongga setelah tongkang merapat. Asap hio dari gaharu besar yang berada di tengah ruangan Kelenteng Hok Tjing Bio dan di halaman menebarkan bau yang khas. Tanpa di komando warga Tionghoa langsung menuju ke altar Thien (Tuhan Yang Maha Esa) lalu ke makam buyut Siti Fatimah dan ke altar Dewa Bumi (Hok Tek Chien Sin). Mereka membakar kertas Kim Coa, kertas berisi harapan. Aroma hio wangi langsung menusuk hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien yang secara harfiah berarti langit. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha Thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Kartini duduk menyaksikan upacara sembahyang dari jauh. Ia duduk menyepi di pinggiran sungai. Lalu, Siou Yu datang dengan dua gelas soft drink.

“Jika suatu hari aku tak bisa mengingatmu lagi, apa kamu akan tetap mengingatku?” Mata biru Kartini menatap pekat pada Siou Yu.

“Kalau itu terjadi padaku, aku akan sungguh menyesal. Tapi, kamu adalah teman terbaik yang tak pantas untuk dilupakan meski rentang waktu memisahkan kita,” Jawab Siou Yu haru.

“Kalau begitu maafkan aku tak sempat memberitahumu karena besok sudah harus berangkat ke Jeddah. Aku sudah diterima kontrak kerja di sana tiga tahun. Doakan aku yah?” pinta Kartini.

“Tapi apa kamu serius?”
“Aku harus menjadi lebih kuat untuk keluargaku. Aku akan mengirimimu surat sesering mungkin, oke?” Kartini mengajak beradu tos.

Dengan lunglai tangan Siou Yu dipaksakan untuk menerima tangan Kartini. “Oke.” Balas Siou Yu lesu.

*

Siou Yu menatap kotak surat di rumahnya dengan wajah sumringah. Ini adalah surat pertama dari Kartini setelah satu tahun mereka tak berjumpa. Wajah kerinduan tampak terpancar di sudut-sudut wajah Siou Yu.

Salam Rindu untukmu Siou Yu,
Hai Siou Yu. Apa kabarmu? kuharap kamu sedang bahagia hari ini. Seperti aku sekarang. Hei, ketakutanmu tentang manjikanku tidak beralasan. Mereka sangat baik padaku. Kerjaku tidak begitu sibuk seperti yang kubayangkan dulu, meski nyonya rumah lumayan cerewet hehe…bukankah cerewet bisa membuat dia cepat tua.

Kadang banyak hal lucu yang terjadi d isini. Seperti semalam, jam dua pagi kami semua disuruh keluar rumah. Kukira ada kebakaran, tapi ternyata cuma hujan saja. memang, d isini jarang sekali terjadi hujan seperti semalam. Makanya mereka bilang hujan adalah air keberkahan. Kalau di Indonesia hujan sudah biasa, malah kadang jadi beban buat kita. Betul kan? Oh ya, gimana kabar Martha dan mamimu. Jangan bilang-bilang yah kalau saat terakhir ke rumahmu aku menghabiskan kue bulan mamimu satu kotak. Salam untuk semua dan selalu doakan aku.

Kartini

Segera tangan Siou Yu mengambil pena dan membalas surat kartini.

Dear Kartini, Kabarku baik dan pastinya aku bahagia sekali mendengar kabarmu yang berbahagia. Aku merindukanmu. Oh ya, Martha sekarang kuliah di Jepang. Martha memang pandai dia berhasil mendapatkan beasiswa. Sementara aku ikut bisnis dengan papi. Ternyata jadi anak bos itu banyak tidak enaknya, tidak bisa mandiri seperti kamu hiks..

Mami menjodohkan aku dengan Frans, tapi aku tidak mau. Mami yang memaksa, aku jadi kesal sekali. Kata mami, kawin dengan Frans masa depanku terjamin. Masa sih, kamu kan kenal Frans orangnya seperti apa, tidak nyambung denganku. Tolong aku Kartini.. Mami sedang membuat kue bulan, kamu mau?

Siou Yu

Kartini melipat surat dari Siou Yu. Tangannya sedikit gemetar karena kerongkongannya belum tersentuh makanan sejak pagi. Nyonya Ahmed majikannya sedang marah besar hari ini. Sejak dua hari lalu Kartini mengadukan soal anak majikannya yang berniat memperkosanya. Kartini dianggap telah mencemarkan nama baik keluarga Ahmed. Waktu itu Abu Sofyan-anak majikannya menyelinap diam-diam ke kamarnya. Lalu memeluknya dari belakang. Samar-samar Abu Sofyan merayunya dalam kegelapan.

“Zarqaul Aini, ” Kata-kata Abu Sofyan terdengar begitu bernafsu.
Kartini begitu ketakutan. Sekuat tenaga diterjangnya laki-laki itu. Dengan nafas terengah ia bisa melepaskan diri dari jeratan Abu Sofyan. Kartini bersembunyi di dalam kamar mandi, dan tak berani keluar sampai besok paginya.

*

Pandangan mata Kartini terasa gelap. Dahinya berdarah terkena lemparan piring oleh Ny.Ahmed. Diusapnya pelan darah di dahinya itu dengan gugup. Tak terdengar lagi ceracau dan makian majikannya itu. Karena telinganya sudah hampir tuli terkena lemparan gagang sapu dari besi kemarin. Terhuyung-huyung Kartini mencoba untuk bertahan, namun daya tahan tubuhnya berangsur meringsut. Kartini jatuh terkapar di lantai dapur.

Esoknya Kartini tersadar di ruangan gelap. Dan ia tahu betul kalau tempat yang ditidurinya sekarang adalah gudang perlengkapan. Tanpa makanan dan setetes air, Kartini mencoba untuk bertahan dan tidak membuang energinya sia-sia. Untunglah di tempat gelap ini tak ada tikus atau kecoa. Setidaknya itu bisa menyelamatkannya dari rasa takut yang mendera. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Kartini tampak gugup-menyeret tubuhnya ke sudut ruangan.

“Kali ini kamu tak bisa lepas dariku, si mata biru yang indah.” Suara Abu Sofyan bagai Srigala yang siap menerkamnya.

“Tidak, tolonglah. Anggap aku sebagai saudaramu. Aku mohon.” Teriak Kartini.

Abu Sofyan seperti kerasukan setan. Tak dihiraukannya lagi tangisan Kartini. “Kau seperti Dajjal, Allah akan melaknatmu. Ingatlah pada hari akhir, Abu Sofyan. Allah akan melaknatmu,” balas Kartini lagi dengan bahasa Arab yang terbata-bata.

Abu Sofyan mendekat, menerkamnya dengan penuh nafsu. Kartini terkapar dengan darah bercampur keringat yang mengecer di lantai. Kartini mencoba mengais sisa-sisa energi yang ia punya. Tidak susah baginya mencari kertas dan pena. Karena memang ini gudang perlengkapan kantor milik majikannya. Tangannya gemetar memegang ujung mata pena.

Assalamualaikum. Wr.wb
Untuk seseorang mulia yang menemukan suratku ini.
Mohon, sampaikan suratku ini ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Arab Saudi. Aku seorang TKW, namaku Kartini. Majikan mengurungku dan menyiksaku di gudang rumahnya. Aku sekarang tak berdaya lagi, setelah berkali-kali diperkosa oleh Abu Sofyan-anak majikanku. Engkau telah dipilihkan oleh Allah Swt untuk menerima suratku ini. Tolonglah aku. Allah Swt akan membalas kebaikanmu dengan berlipat-lipat keberkahan. Aku hanya mampu bertahan sebentar karena tak ada makanan dan minuman di sini. Oksigen yang kudapatkan juga sangat terbatas. Terima kasih atas kebaikanmu, wahai orang yang mulia.

Wassalamualaikum. Wr.wb.

Sekuat tenaga Kartini membuka pintu jendela gudang dan melemparkan surat itu keluar, hanya setitik harapan dan keyakinan bahwa surat itu bisa ditemukan oleh seseorang di luar gudang.

*

Siou Yu terbangun dari tidurnya dengan cucuran keringat sebesar bola bekel. Ia bermimpi tentang Kartini yang tenggelam di sungai Musi. Tangan Kartini mencoba menggapai-gapainya, Siou Yu hampir bisa menangkap tangan Kartini, tapi tiba-tiba gengaman itu terlepas. Dan Kartini hanyut ditelan ombak.

Siou Yu tampak gemetar. Tanpa mandi ia langsung mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Sudah lama sekali suratnya tak kunjung ada balasan dari Kartini, mungkin ini suatu pertanda buruk. Siou Yu menuju ke Benteng Kuto Besak. Tujuan tempat dalam pikirannya hanya pulau Kemaro. Ia ingin mendoakan keselamatan Kartini di sana.

Getek berjalan pelan menerjang ombak. Melewati aliran sungai kehidupan-Venesia dari timur. Begitu kata orang-orang Eropa tentang kota Pempek ini. Getek-getek yang berseliweran ini seperti Gondola-gondola di Venesia. Pasar 16 Ilir tampak sedang ramai. Banyak tongkang mengangkut barang-barang yang baru datang.

Getek sudah merapat ke jembatan ponton. Siou Yu langsung menuju ke altar Thien. Dengan khusyuk ia berdoa, meminta keselamatan untuk Kartini. Tangis Siou Yu pecah di situ. Bayangan wajah Kartini dengan mata birunya yang khas menyelinap di ujung pelupuk matanya. Gadis itu seperti Ibu Kartini, sosok wanita kuat yang tak lekang dimakan usia.

*

Sosok Kartini ditemukan oleh petugas dua hari setelah surat Kartini sampai ke KBRI di Arab Saudi. Keluarga Ahmed sedang menjalani proses pemeriksaan. Keluarga Siou Yu yang mendengar kabar tentang Kartini langsung membentuk tim pembela yang didatangkan khusus dari Indonesia. Surat kabar tanah air begitu ramainya membicarakan persoalan nasib menyedihkan para TKW yang tak kunjung usai ini.

Siou Yu berjalan pelan melewati sekat-sekat lorong sempit di rumah sakit. Tangannya menggengam erat tangan penuh keriput milik Ayah Kartini. Hatinya berkecamuk-hancur lebur. Ia yakin hati ayah Kartini pasti lebih sakit lagi melihat penderitaan anak kebanggan keluarganya.

Siou Yu mendengar suara jeritan dan lengkingan. Para suster rumah sakit tampak sedang menyuntikan obat penenang pada pasien yang berteriak itu. Dari jauh Siou Yu melihat wajah penuh ketakutan yang mulai lunglai karena pengaruh obat penenang. Siou Yu memerhatikan dari jauh. Lalu ia berlari sekuatnya hampir tersungkur. Mata itu….mata biru yang dikenalnya tampak kuyu dan mulai menutup pelan.

“Kar-tini…,” teriak Siou Yu menggema ke seluruh ruangan.
Tangis Sio Yu meledak. Ia tiba-tiba teringat ucapan terakhir Kartini ketika di Pulau Kemaro.
“Jika suatu hari aku tak bisa mengingatmu lagi, apa kamu akan tetap mengingatku?”
Siou Yu memeluk Kartini erat, serasa tak ingin dilepaskannya pelukan itu.

Raudhoh, Mahasiswi Sekolah Teknik Tinggi PLN Cengakreng Jakarta Barat
Pemenang Harapan LMCR 2009 untuk kategori C (Mahasiswa, Guru dan Umum)

Incoming search terms for the article:

mata biru kartini, cerita pendek kartini, majikan ku getek, rumah yang tampak biru oleh cahaya bulan, cerita kartini pendek, anak kecil mata biru, cache:_AAEnoCNBOgJ:ceritanakal info/artis/cerita-perkosa-nyonya html perkosa nyonya, Aku memperkosa nyonya majikan di dapur, Www perkosamajikan com, cerita kakekku memperkosaku berkali-kali

This entry was posted in Karya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to MATA BIRU KARTINI

  1. dede says:

    Message:
    keren….sampai terisak saya

  2. pepe says:

    Message:
    VERY GOOOD