BULAN BERCERMIN

Oleh Wuri Kinanti

Tak pernah terbayangkan aku akan menjadi seorang hantu berambut panjang sebelum aku meninggal. Dan aku tidak mau keluarga pamanku hancur melihat keponakan tersayangnya menjadi seorang gadis perawan yang mengerikan sebelum menikah. Aku lebih suka menjadi begini. Tidak boleh ada orang lain yang bisa menatap setiap detail wajahku seinci pun. Aku yakin aku belum gila.

Tidak peduli, aku akan menjadi perawan tua atau tidak menikah sama sekali. Tidak peduli. Dan aku tidak sudi ada mata orang asing yang merajam wajahku. Aku lebih suka menatap rambutku yang terurai di depan wajahku daripada melihat pantulan diriku di cermin atau menatap mata orang lain. Bayangan terakhir wajahku yang kuingat hanyalah wajah ibu. Mata besar dengan iris berwarna coklat seperti ibu, hidung lurus meliuk panjang milik ibu, bibir tipis berlekuk rapat milik ibu dan tulang pipi yang tinggi milik ibu, dan leher jenjang milik ibu. Rambut panjang bergelombang milik ibu. Semuanya milik ibu. Aku seperti tidak mempunyai wajah sendiri.

Sudah beberapa cermin di dinding yang kuhantam dengan buku-buku jariku. Aku tidak peduli cermin itu cermin mahal atau murah. Tidak peduli jika aku pernah hampir diganyang ke Rumah Sakit Jiwa. Tidak peduli bibi menangis ketakutan melihat keponakan semata wayangnya seketika bertingkah seperti kehilangan saraf warasnya. Tidak peduli sepupuku mencoba menghentikanku dengan suara menahan isak tangis. Dan tidak peduli jika aku bisa meminum air mataku sendiri. Tidak peduli.

*

Aku melihat seorang gadis. Seperti satu ilalang di antara rumput liar. Baru kali ini ada pemandangan di mana seorang gadis berjalan dengan penuh percaya diri sekalipun dia tampak kehilangan itu. Akhirnya aku melihat dia. Aku kangen, sampai rasanya setiap gurat-gurat sarafku hampir mau putus karena aku menyimpan satu dosa. Meninggalkan tanpa mengelus pipinya.

Ingin rasanya aku mencemplungkan diriku ke dalam sumur terdekat saat melihat gadis ini. Berambut panjang seperti hantu, tapi aku sangat yakin jika wajahnya pasti bisa mengalahkan rambutnya. Berambut panjang, helai demi helai terjatuh di depan wajahnya, hanya menyisakan celah untuk hidung mancungnya supaya tetap bernapas.

Setiap kali berjalan, maka rambut halusnya yang terurai hingga pinggang akan bergoyang lambat mengikuti ayunan tubuhnya. Aku benar-benar menunggu kapan datangnya angin topan yang akan menerpa rambutnya dan membuka pintu surga untukku melihat wajah manisnya. Dia benar-benar tampak seperti lukisan seorang maestro yang sedang berjalan. Jantungku mulai terasa menggedor tulang-tulang di balik dadaku.

Aku melirik jam tanganku. Sepuluh menit sebelum sekolah dimulai.

Aku berjalan tanpa hasrat, tanpa tenaga. Bosan sekolah. Kelasku terasa jauh sekali. Semua indraku sudah kuhukum untuk tidak merespon hal-hal tidak penting dan bodoh.

”Toilet di mana?” satu logat asing menyerang daun telingaku.
Ado yang berani ngajak aku ngomong? Siapo nian? Nambah-nambahin gawe bae. Pagi-pagi la ganggu wong. Mataku menatap nyalang orang yang hembusan napasnya dapat kurasakan di depan hidungku. Wangi mint. Aku melihat dia tersenyum menyeringai. Apa maksud badut satu ini?

Kuangkat kepalaku tanpa membiarkan rambutku tersibak ke belakang. Wajah asing. Rambutku tidak pernah menutup mataku untuk memperhatikan setiap jengkal sekolah ini. Pria satu ini, pendatang baru yang pasti nantinya akan menjadi selebritis. Beraninya dia membuatku menengadahkan kepalaku hanya untuk satu pertanyaan tentang toilet. Aku mencoba untuk acuh tak acuh. Kuangkat telunjukku ke arah depan. Ke arah pojok gedung paling selatan. Napasnya masih terasa di antara hembusan napasku.

Artis macam apo yang nak ke sekolah pagi-pagi buto cak ini? Artis dari seberang ulu atau seberang ilir Sungai Musi? Pagi-pagi la nak ke toilet. Matanya menatap dari tinggi tubuhnya yang tepat, menyentakkan setiap nadi kehidupan yang tersebar di seluruh tubuhku. Aku tidak mau menyiksa jantungku lebih lama lagi. Aku melengos pergi. Tapi tatapan mata calon selebritis tersebut belum melengos dari tubuhku, mengikutiku dari belakang.

Seketika rambutku terasa dihembus angin. Dia berjalan cepat dari belakang menuju ke toilet. Ekor mataku masih merasakan bola matanya tidak lepas mencabik jantung hatiku. Napasku terasa tercekat. Pria itu sudah berlalu tapi hembusan udara dari hidungku masih memburu. Pagi hari macam apa ini?

Seluruh isi otakku hilang digantikan oleh si cantik berambut panjang tadi. Melihatnya dari dekat sudah membuatku ingin menenggelamkan tubuhku di palung yang paling dalam. Maka aku berani bersumpah jika aku tadi ingin ditampar oleh jari-jari lentiknya untuk membuktikan bahwa aku sedang melihat lukisan gadis setengah malaikat setengah hantu.

Aku berani bertaruh jika rambut kecoklatannya bukan hasil sentuhan salon. Dan jika aku tidak memegang kesopanan budaya timur, maka aku akan membiarkan tanganku menyingkap tirai wajahnya itu. Sekalipun dia harus melayangkan tangannya ke pipiku, aku akan tetap rela jari-jari panjangnya pernah menyentuh pipiku. Memang sudah gila. Aku menjadi manusia setengah gila. Pagi macam apa ini?

Aku berjalan ke arah toilet. Toilet yang kulihat sepertinya agak aneh. Seperti toilet untuk kaum Hawa. Hawanya tidak seperti toilet kaum berjakun. Setengah hati, salah satu telapak kakiku menjejak di atas lantai keramiknya. Satu suara menjerit. Aku langsung panik. Suara sopran itu pasti milik salah seorang gadis. Aku langsung membalikkan badanku. Berarti si cantik tadi mencoba bermain api dengan arang. Ada rasa senang menguap dari kepalaku. Aku bisa bertemu dia lagi. Berpura-pura marah. Memaksa mata coklatnya masuk ke dalam mataku.

*

Aku mulai melihat anak-anak tangga. Memang waktu yang berjalan seperti siput atau sistem koordinasiku yang kacau karena si Adam tadi? Baru dia, makhluk yang membuatku ingin mengibaskan rambutku supaya aku bisa melihat mukanya dengan jelas. Ada bom saja tidak cukup membuatku ingin menyibakkan helaian-helaian rambutku.

Kaki kananku melangkah. Maka aku bisa mengingat matanya yang kelam dibingkai sepasang alis yang tegas. Kaki kiriku menjejak lantai lainnya. Aku mampu merekam tulang rahangnya yang jelas. Dan sekarang dia kembali tampak memenuhi pupil mataku. Dia datang lagi. Tanpa sadar, aku berjalan cepat, mendadak tidak ingin bertemu si Adam ini.

Dia menatap tajam ke arahku. Memaksa pupilku membesar.
”Itu toilet cewek. Kamu kira aku cewek?” dia mengoceh berapi-api. Logatnya terdengar aneh di telingaku. Logat Jawa? Kupicingkan mataku. Aku memalingkan wajahku, membuat rambutku bergerak menggelitik wajahku.

“Oh, aku kiro bapak ini tukang ledeng,” jawabku sekenanya. Hatiku kembali membeku. Tidak pantas terlalu merasakan hal-hal aneh yang tidak ingin diketahui terlalu jelas. Nadi tubuhku harus diganjar untuk tidak merespon kehadirannya. Jangan pernah dia mencuri kesempatan untuk melihat sudut wajahku sedikit pun.

Matanya kembali terasa membakar wajahku. Siapa dia? Seenaknya membakar wajah orang. Dia memang belum tahu betapa membahayakannya seorang gadis berambut panjang. Aku mencoba tetap terlihat tak acuh. Aku menghela napas, membuat rambutku bertiup menjauhi hidungku. Sepertinya dia sedang terpesona melihat sekumpulan gas oksigen keluar dari hidungku. Mungkin heran melihat seorang hantu bisa bernapas.

”Kenapa kamu bernapas?” lengkingan suaranya tampak mengejek gas oksigen yang kuhembuskan barusan.

Aduh, nyai. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Masa orang ini tidak tahu, manusia akan mati jika tidak bernapas.

Aku memutar leherku dengan geram ke arah manusia gila ini. Aku berusaha menatapnya, membiarkan mataku mencabik-cabiknya. Tapi matanya malah berubah menjadi sepasang bulan sabit hitam. Seulas senyum terkulum. Aku merasakan sengatan listrik dari ujung jari kaki sampai ubun-ubun.

Mengejek? Baru kali ini sebuah ejekan bisa menyetrum sekujur sarafku. Aku berharap hari ini hanya mimpi. Aku harap setiap helaian hitam rambutku masih waras untuk menjadi tirai wajahku. Aku tidak tahan lagi. Kuacuhkan dia dengan terpaksa, berjalan menaiki tangga lantai dua. Pria sinting ini masih tetap mengulum senyum hipnotisnya.

*

Aku senang merasakan hembusan napasnya. Hembusan napas karena menahan geram. Aku senang melihat gelombang-gelombang rambutnya bermain-main di depan wajahnya. Aku senang melihat bayangan matanya di balik rambut panjangnya yang memenuhi wajah berliannya. Matanya berwarna coklat. Semakin berbinar diterpa matahari pagi. Bibir merah yang terkatup rapat tapi bergetar menahan marah karena merasa paginya diganggu. Aku suka memaksanya menatap wajahku. Aku suka tersenyum kepadanya. Aku mencoba meraih ujung rambutnya saat dia berpaling. Bahkan ujungnya saja terasa sehalus sutra di jemariku. Dia berlalu, tapi ada sesuatu di hatiku yang tidak mau berlalu. Aku kembali bertemu dia.

*

Pelajaran Bimbingan Konseling. Hentakan sepatu Bu Nilam terasa bergetar di bawah kakiku. Tapi tampaknya ada empat kaki yang akan dijejakkan ke dalam kelasku. Dadaku mulai terasa berdenyut-denyut. Setiap pupilku membesar, detakan terasa menggila di dalam rongga dadaku.

Mataku benar-benar melotot, terasa menembus rambut di depan wajahku. Pria kekurangan otak tadi pagi. Hari macam apa ini? Ibu Nilam mulai bersuara. Diterangkannya bahwa pria tukang ledeng palsu itu adalah Mahasiswa Fakultas Psikologi semester akhir yang sedang melakukan penelitian untuk bahan skripsinya.

”Namanya Adam,” Ibu Nilam menambahkan. Sesuai jenis kelaminnya.
“Umurnyo berapo, Bu Nilam?” Sebuah senyum terpulas di wajah tampan Adam.
Suaro siapo pulok itu? Cerudi’an nian. Risih sekali mendengarnya.
”Sebaiknya ditanya sendiri. Beliau akan mulai meneliti dari proses belajar kita.”
Suara tertawa cekikikan mulai terdengar.
”Pak Adam, silahkan duduk di belakang. Di sebelah kursi itu.” Bu Nilam menunjuk bangku di sebelahku.

Geledek tanpa hujan terasa mengaliri tulang belakangku. Baru hari ini dadaku penuh emosi.

Dia mulai berjalan, dan dalam beberapa degupan jantung. Tubuh tingginya sudah mendarat di kursi sebelahku. Ditaruhnya segala macam kertas dan jurnal serta laptopnya. Napasku sesak. Baru kali ini, aku merasa seperti mendaki gunung, naik turun lembah dengan tidak jelas. Semua orang di sekolah sudah membiasakan diri menerima kehadiran seorang hantu berambut panjang. Tapi sang Adam tampaknya belum bisa. Aku ingin setiap hembusan napasku berarti melewati satu jam, supaya aku segera bisa mengganjar jantungku untuk berhenti merobek dadaku.

*

Aku berdiri gentayangan di depan kelas Yasmin. Pupil setiap orang membesar menyadari hantu berkaki menjejak tanah sedang berpose di depan pintu kelas mereka. Yasmin datang dengan senyum mengembang. Dia datang memelukku. Badanku terasa kaku saat dia merengkuhnya.

”Tumben sepupu tercinto nak datang ke sini ado apo?” Yasmin mulai berceloteh tanpa tanda baca. Dengan seenaknya, dia mencubit daguku. Aku hanya diam. Berjalan berlalu menuruni tangga paling sepi di sekolah ini menuju ke kantin. Yasmin tahu. Dia mengekor di belakangku dengan setia.

Aku duduk di salah satu sudut kantin. Di bagian paling luar, paling sulit terjamah siswa. Yasmin membawa nampan dengan dua gelas minuman dan sepiring pempek. Gelas berisi lemon tea dengan bongkahan es diletakkan di depanku. Aku melihatnya dengan malas. Sepupu tersayangku ini mulai duduk, mengeluarkan senjata tajamnya, sisir yang sebentar lagi akan menyentuh helaian rambutku. Dia sudah tahu, dia hanya boleh menyisir rambut di bagian belakang dengan prioritas tidak menyibakkan rambut yang menjadi tirai wajahku.

”Kalau kau sampai nyisir bagian depan, gek malem bakalan kubuat botak kepala kau,” aku berkata mendesis dengan penuh ancaman.

”Iyo, ngerti, ngerti. La berapo lamo kita bersepupan, Lan?” Yasmin hanya tersenyum. Dia masih menyisir rambutku. Aku senang mempunyai seorang gadis manis macam dia. Tinggal seatap dengannya mampu membuka hatiku walaupun hanya sedikit. Tapi aku sudah lupa caranya berekspresi. Emosi seperti itu seperti sudah tertiup angin entah ke mana.

Setiap tetesan air mata Yasmin sudah cukup membuatnya mengerti dan akhirnya membuatnya berhenti memaksa diriku. Betapa susahnya dia memberitahu bahwa aku tidak pernah sendiri. Tapi saat itu air matanya tidak bisa mengalahkan air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya, sampai ketika aku berhenti, aku merasa aku sudah menghabiskan seluruh air mataku. Dan yang kutangisi memang tidak bisa menjadi bayanganku lagi.

Ketika mataku sudah dibanjiri air asinnya, aku memberanikan melihat cermin. Tapi wajah itu muncul lagi. Membalut pipiku dengan air lagi. Membuat hatiku kembali berlubang. Membuatku menghujat ayah dan mengutuknya. Membuat Yasmin takut. Membuat paman dan bibi merasa bahwa rumahnya telah dimasuki setan wanita.

Air mataku habis, rambut menjadi panjang. Aku biarkan helaian hitamnya menjadi tameng hidupku. Berubah menjadi benteng pertahananku. Asalkan aku masih bisa hidup waras, itu tidak masalah. Aku selalu bertanya di mana wanita itu, tapi jawaban selalu itu-itu saja.

“Boleh duduk di sini?” suatu alarm seperti membuat perutku mulas, membuyarkan ingatan tentang wanita itu. Adam membawa secangkir minuman. Wanginya seperti kopi. Kenapa sarafku selalu bermasalah dengan si Adam ini? Yasmin berhenti menyisir rambutku –pekerjaan rutinnya- setiap istirahat, tanda sayang terhadap sepupu satu-satunya. Aku melirik Yasmin. Dia melongo, melotot, dan siap histeris. Tidak bisakah bersikap biasa? Seperti melihat tukang sapu, pak satpam, pengamen, orang gila ataupun spesies lainnya yang menyandang gelar Adam, makhluk berjakun yang sebisa mungkin tidak melintas di mataku.

Aku menurunkan tangan Yasmin yang masih terbang di udara dengan sisirnya. Menariknya lembut. Mengajaknya beranjak dari situ. Saat pinggulku mulai beringsut, sesuatu yang hangat menahan pergelangan tanganku. Berdesirlah semua aliran darahku, menyengat setiap epidermis yang ada di atasnya.

”Tolong, jangan pergi, tidak ada salahnya duduk bersama, kan?” suaranya baritonnya menahan aku dan Yasmin. Yasmin tersenyum lebar, bersemangat. Dia memaksa bahuku untuk turun kembali. Adam tersenyum. Atau menyeringai? Yang pasti senyum setannya sangat mengusik hati para perawan. Aku menatapnya dengan garang. Berani sekali dia! Aku tidak sadar tanganku masih terperangkap di dalam cengkeramannya.

”Bulannya April..” Adam membaca ukiran di gelangku. Suaranya mengganggu. Langsung kutarik kembali tanganku. Sepasang bulan sabit hitam kembali muncul di bawah dahinya.

”Lahir bulan April, Bulan?” alunan suaranya melembut.
Katek aguk nian nak nanyo-nanyo cak itu. Tubuhku mengeras. Kukunci rapat bibirku.

“Iyo, dio lahir Bulan April, pak. Kenalin, aku, Yasmin,” Yasmin langsung menyerocos saja. Adam hanya menyalaminya. Tersenyum lagi.

”Oh,hai. Bisa tolong bantu buat ngenalin sekolah ini?” arah bicaranya ke Yasmin, namun ekor mataku tidak berbohong, jika mata Adam tidak melepaskan setiap gerakanku. Yasmin mengangguk berulang-ulang. Mereka mengobrol panjang lebar. Adam terus bertanya tentang warga sekolah. Ini apa? Itu apa? Aku seperti tidak dianggap.

Semakin lama mendengar suaranya,aku tahu ada satu bagian dirinya yang terasa telah menjajah hatiku sejak lama. Aku tidak tahu apa.

*

Dua hari kemudian…
Aku menunggu Yasmin pulang. Dua jam yang membuatku seperti terasing. Hanya Yasmin temanku sekaligus sepupu tersayang. Aku berjalan menyusuri pinggir lapangan. Sendirian. Menikmati hembusan angin memainkan rambutku. Aku tidak takut berjalan di sini sendirian, karena tidak ada yang bisa merajam wajahku. untuk pertama kalinya, aku menyunggar rambutku ke belakang. Harus lebih banyak menghirup napas lebih banyak karena jantungku terlalu lelah. Aku menatap ke salah satu pohon. Hanya ada satu pohon jenis itu di sekolahku. Sekarang sedang musimnya untuk berbunga. Serbuknya berwarna merah muda pekat. Angin menghembuskan serbuk-serbuk itu membuat tanah di bawahnya seperti karpet piknik. Aku tidak sadar serbuknya juga menjatuhi rambutku. Aku menjadi ingat yang membuatku kembali kosong.

Tentang wanita perkasa itu, yang kupanggil ibu. Ketika rahimnya kutendang-tendang selama sembilan bulan. Tapi kini ibu seperti tersapu angin. Tidak ada. Karena pria jahaman dan biadab yang kupanggil ayah. Tak pernah kubayangkan, darahku juga mengandung darah pria itu. Berbulan-bulan aku mengutuknya. Sehebat apa benar dia beraninya menyiksa ibu sampai menghilangkan nyawanya?

Air asin kembali jatuh, berujung pada ujung daguku yang tajam. Aku rindu setengah mati dengan ibu. Sampai mau mati rasanya jika tidak ada yang memelukku seperti wanita hebat itu. Tapi ketika melihat cermin, melihat bayanganku sebagai duplikat asli ibu, maka mataku akan kembali basah.

Satu siulan yang sangat berjasa menggangguku. Sukses melebur semua ingatanku. Aku mengibaskan rambut. Menghindari wajahku menerima tatapan tidak penting. Aku menemukan Adam sedang bersandar di samping motor gedenya. Aku berdiam di tempatku berdiri. Ingin lari tapi ingin menunggu. Ada yang membuat penasaran. Satu kutub dirinya menarik kutub diriku. Tapi aku tidak berani melihat wajahnya tanpa jarak. Mengingat tadi pagi aku telah memanggilnya tukang ledeng.

Gelombang rambutku dihembus angin. Sepertinya percuma saja mempertahankan tirai wajah ini. Aku memaksa membalikkan tubuhku.

“Tunggu, Anya!” Adam memanggil nama itu. Tulang-tulang leherku berkontraksi. Aku tidak percaya itu dia. Nama itu sudah bertahun-tahu tidak pernah kudengar lagi. Sudah lama sekali dia pergi. Sampai aku tidak ingin melihat wajahnya karena meninggalkanku tanpa senyum. Cuma dia yang memanggilku seperti itu. Otakku mulai kabur, kacau menyusun ingatan yang sudah kukubur dalam-dalam. Adam berjalan mendekat, membawa helmnya. Sebusur senyum mulai mengusikku. Aku berjalan mundur. Kaget. Sedih. Tidak siap membuka hati.

”Perkenalkan, aku Farnandyo Adam Saputra.” Hatiku mulai hancur. Aku rindu ibu. Tapi ternyata aku masih merindukan pria ini yang aku tahu persis umurnya lebih tua lima tahun dari seorang gadis bernama Bulannya April.

Aku sungguh ingin menghantamkan kepalaku ke dinding. Nandyo yang selama ini sudah kupupus. Teman masa kecil yang sudah lama pergi entah ke mana. Yang sangat ingin kucekik karena tidak pernah pamit, tidak pernah berbasa-basi sebelum pergi. Air mataku mengalir deras. Tidak peduli angin mulai mengibarkan rambutku setinggi langit. Aku tidak tahu harus bagaimana. Tidak mau menyaksikan dia melihatku seperti hantu. Wajahku mulai tersingkap.

”Boleh aku mendekat?” suaranya menembus tubuhku. Aku tahu sekarang aku ingin sekali mendengar jelas suaranya.

”Dak pacak, sekali bae cobo-cobo ke sini. Aku bakal nendang kau sampai Jembatan Ampera!” aku gugup. Ibu, aku harus bagaimana? Dulu aku selalu berlari kepada Nandyo jika ibu tidak ada. Ibu sendiri yang menyuruhku berlari ke sana. Tapi sekarang tidak bisa begitu.

Nandyo Adam masih nekat mendekat. Dia sudah sampai di depan mataku. Air mataku sudah menggenang. Aku melayangkan telapak tanganku ke wajahnya. Suara kerasnya menggema sampai ke hatiku. Aku rindu ibu, tapi kenapa harus dia yang muncul. Butuh usaha cukup keras untuk memutuskan berhenti menunggu dia. Teman kecil yang menjadi orang pertama dimana aku bisa lari. Tapi dia tidak ada dan aku anak tunggal. Harus kemana aku berlari? Sampai paman datang dan menyadarkanku jika mempunyai sekuntum Yasmin.

Pipiku basah. Wajahku diterpa matahari. Adam bisa melihat wajah teman kecilnya versi remaja sekarang. Aku berharap dia tidak akan kecewa. Aku bingung. Ibu, aku harus bagaimana? Jari Adam mengusap pipiku, berusaha mengeringkan air mataku. Tangannya membersihkan serbuk merah muda dari rambutku. Pelupuk mataku semakin banjir. Hari ini seperti puncak kelelahanku, kejengahanku. Ada yang membuka otakku. Farnandyo Adam Saputra.

”Ngapo baru dateng sekarang? Tega nian buat aku ngeraso pilon selamo berbulan-bulan.” Aku mulai emosi. Adam diam.

”Ditinggal katek kabar, kau pikir lemak, Adam? Pura-pura dak kenal kemarin, sekarang sok katek apo-apo muncul di depan muko aku.?” satu beban berat menggunakan rambut sebagai tameng wajahku, membangun benteng yang tidak dapat ditembus selama setahun, akhirnya bisa dirobohkan oleh seorang Adam. Adam mendekatiku. Menyentuh bahuku. Menenangkan napasku yang naik turun.

”Jadi nyesel ketemu tukang ledeng?” dia akhirnya bersuara. Aku menjawabnya dengan satu raungan keras, dengan beberapa bulir air mata yang meluncur jatuh. Tapi akhirnya aku menggeleng.

”Sebenarnya aku yang nyesel ninggalin kamu. Makanya aku ke Palembang lagi.” Aku masih menangis. Membuang yang selama ini aku pendam, sekalipun di depan Yasmin.

”Ceritanya udah sebagian aku dengar dari Yasmin.” Dia tetap bersuara tenang. Yasmin. Aku tahu aku cinta Yasmin. Aku tahu cinta ibu. Aku lebih tahu kalau aku masih menyimpan cintanya Adam. Aku kembali meraung. Adam memelukku. Lama sudah tidak ada yang memberiku pelukan. Kemejanya basah karena air mataku.

”Tunggu sampai tiga bulan, sampai penelitianku selesai di sini, lalu kita akan kembali menata hatimu. Oke?” Aku mengangguk dalam pelukannya yang hangat. Adam menepuk-nepuk punggungku. Diusap-usapnya rambut panjangku. Ada satu yang mencair. Es di dinding hatiku. Karena aku sudah menemukan pengganti ibu seperti dulu. Dan Adam memberitahu jika tidak semua pria pantas dihujat.

*

Dia sehat. Kembali merona. Padahal aku pikir hati dan sarafnya sudah mati. Tidak ingat teman masa kecilnya. Memang itu dosaku membuatnya merana. Meninggalkannya tanpa kecupan sayang seorang teman kecil. Dosa besar aku berani membuatnya seperti hantu gentayangan yang mati suri. Bulannya April, aku janji tidak akan pernah membiarkan emosimu beku. Aku telah berjanji dengan Tante Risma, untuk menjagamu. Ibumu, sosok hebat yang tahan dibanting ayahmu, membuatmu menjadi gadis luar biasa yang berdiri tegap di atas ketakutan terbesarmu.

Aku mengusap lembut rambutnya dengan sayang. Kalau saja, gadis ini masih bayi, sudah kutimang dia sampai tertidur. Tidak akan kubiarkan Bulan menjadi hantu perawan tua dengan rambut panjangnya.

Aku berharap Bulan masih ingat jika aku berjanji akan menikahinya.
Bulan harus bisa kembali berani bercermin.

Wuri Kinanti, Siswi SMAK Xaverius 1 Palembang Sumatera Selatan
Pemenang Harapan LMCR 2009 untuk kategori B (Pelajar SLTA)

Keterangan:
Ado: ada, siapo:siapa, nian: sangat, gawe: kerja, bae: saja, la: telah, wong: orang, nak: hendak, buto: buta, cak: seperti, kiro: kira, nyai: nenek, berapo: berapa, pulok: lagi, cerudi’an: usil, tercinto: tercinta, apo: apa, gek: nanti, lamo: lama, katek: tidak ada, aguk: perasaan, nanyo: bertanya, dio: dia, dak: tidak, pacak: bisa, cobo: coba, ngapo: kenapa, ngeraso: merasa, pilon: bodoh, selamo: selama, lemak: enak, muko: wajah.

Incoming search terms for the article:

wuri kinanti, cerita rambut panjang wanita, cerpen remaja hantu dalam sumur, cerpen ketika aku bercermin, cerita hantu remaja, cerpen setan remaja, Bulan Bercermin Wuri kinanti, cerita hantu kinanti, cerita wanita berambut panjang, cerpen rambut panjang wanita

This entry was posted in Karya, SMU and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to BULAN BERCERMIN

  1. ady says:

    Message:cerpennya bagus banged,,,,ajarin dong cara menulis cerpen yang menarik dan selalu berisi hal yang belum pernah terpikirkan oleh seseorang..

  2. mushy says:

    Message:suuuuuuuukkaaaaaaaaa bgd mah nih cerpen…. ^_^

  3. Mutiara Fatimah Ekaputri says:

    Message: Wow, good job

  4. Hanifah says:

    Message: Keren!!!!!