PEREMPUAN SIMPANG

Oleh Dodi Prananda

Mungkin kau tidak pernah lagi melihatku berdiri di sini. Di simpang. Apakah kau masih mengingat cerita kita selepas hujan atau sewaktu hujan turun? Atau engkau lupa. Bagiku tidak mungkin kau akan melupakan kenangan kita di sini. Asal kau tahu, sampai kaki ini letih untuk tetap berdiri, aku akan terus menunggumu di simpang.

Dulu, beberapa tahun yang lalu aku berdiri di simpang ini. Kala itu hujan turun sangat deras. Tidak hanya hujan, tapi juga angin kencang. Baliho-baliho yang tersusun rapi di jalanan bergoyang-goyang. Seperti dikibas-kibaskan. Tidak ada seorang pun yang berani turun ke jalan. Dan waktu itu kita berdiri di bawah sebuah toko yang tidak pernah dibuka lagi. Kita tidak sengaja berdiri secara bersamaan waktu itu.

Aku berteduh. Kau mungkin juga. Aku tidak menyangka itu adalah awal pertemuan kita. Aku pikir, itu adalah sebuah pertemuan yang romantis di bawah hujan. Aku masih mengingat jelas dalam kenanganku bagaimana senyummu sewaktu kau menyodorkan sapu tangan kotak-kotak milikmu. Aku masih bisa mengimajinasikannya dalam pikiranku waktu kau ingin menawarkanku untuk mengenakan jaket tebal milikmu.

Dan aku masih ingat getar bibirmu kala kau berkata. Aku masih mengingat jelas semuanya. Aku tidak akan pernah melupakannya, kau tahu itu bukan?

Waktu itu, kau mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Tebal. Kau mengenakan celana panjang berwarna biru. Waktu itu kau memotong rambutmu seperti laki-laki kebanyakan. Belah tepi. Rapi. Tapi, ada sisi lain yang membuat kau berbeda dengan laki-laki yang lain, jambulmu. Waktu itu juga dipundakmu kau menyandang tas ransel berwarna coklat. Waktu aku tanya kenapa kau membawa banyak beban seperti itu, kau katakan padaku bahwa kau akan pindah rumah.

Aku tahu kau bercanda waktu itu.

Aku tidak bisa memastikan apakah kau masih mengingat tentang diriku waktu itu. aku menyadari satu hal, waktu itu aku lupa di mana aku menaruh sifat pemaluku. Entah kenapa tiba-tiba aku begitu mudah melontarkan beberapa tanya padamu. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa kita mengobrol terlalu panjang. Lebar.

“Kamu pasti kedingingan, pasanglah jaket ini di tubuhmu,” ucapmu waktu itu sambil menanggalkannya dari tubuhmu lantas menyodorkannya padaku.

Aku berpura-pura membuang pandang dan seolah-olah tidak mendengar katamu. Padahal aku sebenarnya malu. Aku menggeleng waktu kau menawarkan jaket itu untuk membalut tubuhku yang kedinginan. Aku menggigil. Basah kuyup. Maka aku tidak punya banyak alasan untuk menolak jaket itu.

“Tidak usah!”

“Aku tahu kau kedinginan!” sambungmu cepat.

“Kau juga!”

“Tapi aku masih punya baju dalaman yang tidak terlalu basah kuyup, sedang kau…”

Lalu, kau menyodorkannya ke tanganku. Aku tahu kau juga kedinginan. Siapa  yang tidak kedinginan di saat hujan terus turun tanpa henti. Belum lagi angin yang terus mengamuk, menyapu semua sampah-sampah yang ada di simpang. Dengan malu-malu aku meraihnya.

Laki-lakiku, aku suka melihat caramu menghilangkan dingin. Menukar dingin menjadi hangat. Kau mengusap rambutmu yang dikenai percikan hujan dengan tangan. Lalu, kau menggosok-gosok kedua belah telapak tangan. Lalu kita kembali mengobrol, membuat suasana jadi berubah hangat.

Aku menunjuk jalan kecil ke dalam simpang ketika kau menanyakan di mana rumahku. Kau langsung mendapat jawaban ketika kau menanyakan aku pulang darimana. Kau melihat jahitan kecil yang ada pada baju yang kukenakan, sebuah jahitan nama toko tempat aku bekerja.

Agak sejenak kita sama-sama memandang orang-orang yang lalu di hadapan kita, sekadar lewat  menawarkan payungnya. Ojek payung. Sebenarnya kalau tidak ada kau waktu itu, aku akan langsung pulang dan memanggil salah seorang tukang ojek payung. Tapi, ada kau waktu itu. Aku ingin kita berlama-lama di sini. Bercerita. Berbincang tentangmu. Tentang hujan. Tentang apa yang harus kita obrolkan.

Maka kita terus menunggu di sini. Menanti hujan reda. Di samping kita ada beberapa orang ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya turun dari angkutan umum. Kita saling melempar pandang. Sesekali kita melepas pandangan menuju jalanan basah yang ada di depan kita. Sesekali kita juga melepas pandangan menuju pepohonan yang berjejer dan begitu kuyup dibungkus hujan. Dingin bagai membungkus sore ini.

“Mungkin sehabis hujan ini akan turun rinai”

Aku menggeleng. Tidak mungkin hujan yang deras ini akan begitu mudah digantikan rinai. Maka kita memulai kembali untuk mencari bahan obrolan.

Kau menanyakan apakah aku sudah lama tinggal di daerah ini. Aku menjawab belum lama ini. Aku tinggal di daerah ini karena ibuku ingin mencari daerah yang lain. Ibu merindukan suasana yang lain. Kata ibu, ia akan pindah rumah lagi. Mungkin dua hari lagi.

Aku tidak mengerti kenapa ibu hobi sekali berpindah-pindah rumah. Dari satu rumah ke rumah yang lain, rumah kontrakan maksudku. Kalau sudah tidak suka karena hal kecil saja, maka ibu akan dengan mudah berkata bahwa besok kita akan pindah. Ibu tidak mempermasalahkan bahwa jangka waktu kontrakan masih lima bulan lagi. Lalu esoknya pasti akan pindah.

Kau hanya mengangguk. Sambil memegang dagu. Seperti mengusap-usap jenggot. Mungkin kau mengerti dengan sifat ibuku.

Ketidaksukaan ibu dengan tempat ini hanya karena hal kecil. Yaitu dareah ini sangat dekat sekali dengan simpang. Masuk akal? Bagiku tidak, hanya gara-gara dekat simpang ibu menjadi berubah tidak suka, padahal sewaktu mendapatkan rumah kontarakan di sini, ibuku tak tanggung gembiranya. Di situlah keningku akan mulai berkerut. Mencoba memahami sifat aneh ibuku.

Sudah sepuluh bahan obrolan yang kita bincangkan di sini. Tepat di menit kelima pada pukul delapan, hujan mulai reda. Aku melepaskan jaket kulit hitam yang kukenakan di tubuhku ini, lantas balas membalutkannya di tubuhmu. Suasana malam ini kental sekali dengan dinginnya. Lampu-lampu jalanan menyala sayup. Ada laron-laron yang beterbangan di sana. Hinggap dari satu lampu ke lampu yang lain. Menyisakan sayapnya yang patah-patah.

Sedangkan  hujan yang deras tadi, hanya bersisa butir-butir hujan bernama gerimis yang menyisa di malam ini. Aku pamit padamu. Kau berkata singkat sekali. Hati-hati.

Aku pulang cukup dengan berjalan kaki saja. Rumahku tidak terlalu jauh dari simpang ini, bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Aku melewati pangkalan ojek. Aku menggelang ketika beberapa orang dari tukang ojek itu menawarkan tumpangannya. Aku menunjuk rumahku yang tidak terlalu jauh. Terdengar jelas di telingaku siulan tukang ojek dengan nada  genit.

Mungkin ibu sudah menungguku di rumah. Mencemaskanku. Aku pikir, saat ini ibu berjalan mondar-mandir di depan rumah sambil memasang wajah khawatir, karena jam segini aku belum pulang. Bisa jadi ibu masih bermain ramalan yang tidak masuk akal itu. Aku mengira di malam dingin yang menusuk tulang ini, ibu telah tergolek letih di ranjangnya. Atau barangkali sedang duduk santai di depan rumah sambil menikmati segelas kopi. Sepiring gorengan.

Aku sampai di depan rumah batu yang bisa dibilang sudah tua. Rumah yang kental dengan arsitektur Belandanya, mengingatkan aku pada masa penjajahan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Aku mengetuk pintu. Tidak terkunci. Aku pikir ibu tertidur hingga lupa mengunci pintu. Mungkin tadi ibu sengaja membuka pintu agar aku tidak menganggu tidurnya.

Aku menutup pintu rapat-rapat. Tanpa mengundang bunyi sedikit pun. Lalu aku memutar anak kunci dua kali. Pintu tertutup rapat dalam keadaan terkunci. Ruang tengah gelap. Lampunya sudah dimatikan. Seolah memperjelas bahwa ibu sudah tidur. Aku memetik kembali stok kontak lampu. Lampu lima belas watt langsung menyala terang. Pintu kamar ibu kulihat menganga. Barangkali ibu sengaja membiarkan pintu sedikit menganga agar  ibu awas, kalau-kalau saja ada orang yang tidak dikenal masuk rumah dan orang itu bukan aku.

Aku menutup kembali pintu kamar ibu. Pelan-pelan sekali. Agar ibu tidak terbangun dari tidurnya. Tapi, aku seperti mendengar suara yang lamat-lamat sekali. Mirip suara orang yang sedang berbisik-bisik. Baru aku mengerti, ibu pasti belum tidur.

“Dina, masuk!”

Aku berjalan menuju kamar ibu. Benar yang kukira sebelumnya, ibu belum tidur dan bermain dengan kartu ramal yang tidak masuk akal itu. Ibu menyusun-nyusun kartu itu. Mungkin sedang membaca sesuatu yang ada dalam kartu yang baru saja dibukanya.

“Tadi hujan Bu, makanya Dina menunggu sampai hujan reda di simpang!” aku langsung berujar sebelum ibu bertanya.

“Ibu tahu, tapi kau sedang bersama laki-laki tadi. Ibu sudah melarangmu untuk tidak dekat dengan sembarang laki-laki, bukan?”

Aku mengangguk.

“Tapi laki-laki tadi orang baik-baik, Bu!”

Ibu menyuruhku mendekat ke arahnya. Ia mendekapku. Mengusap rambutku. Memelukku. Aku bisa menebak bahwa ibu takut terjadi apa-apa padaku. Ibu pernah mengatakan padaku bahwa aku harus berhati-hati dengan laki-laki. Ibu selalu mencemaskan keadaanku. Ibu takut kalau hal yang tidak diinginkan menimpaku. Ibu menyuruhku masuk kamar dan tidur. Sebelum aku masuk kamar, ibu membisikkan sesuatu ke telingaku.

“Ibu tahu dia laki-laki baik-baik!”

*

Laki-lakiku, aku ingin kau kembali ke tempat ini. Setahun setelah pertemuan kita aku sudah berpuluh-puluh kali berpindah rumah. Dari daerah yang bersimpang dan tidak. Aku ingin sekali hujan turun lagi. Aku ingin kembali kita bercakap-cakap di bawah atap dan di depan kita hujan mengalir pelan-pelan. Sungguh, aku ingin kembali merasakan saat-saat kau menawarkan sapu tangan kotak-kotakmu untuk mengusap wajahku yang penuh dengan cipratan hujan.

Mungkin hari ini kau tidak akan datang ke tempat ini. Tapi, aku sudah datang kembali ke simpang ini. Barangkali kau mendengar suara hatiku. Mendengar harapku agar kau datang dari tempat beradamu sekarang dan datang ke simpang ini. Kau perlu tahu, aku sudah menanti berminggu-minggu untuk menyambutmu di simpang.

Aku sudah melewati empat kali turunnya hujan. Dan aku berdiri di sini, persis di tempat aku berdiri dulu. Di depan toko yang tidak dibuka lagi. Kata ibu, aku harus menjadi perempuan simpang yang setia menanti kedatanganmu. Kata ibu aku sedang bermimpi, sebaiknya aku tidak usah menyebut-nyebut ibu di detik ini. Ibu selalu saja berkata yang tidak masuk akal setelah mengacak-acak kartu ramalnya.

Aku tidak akan membiarkan setiap laki-laki yang masuk ke simpang ini. Siapa tahu ada kau. Aku mengamati satu persatu laki-laki. Tidak kau. Kau berjaket kulit warna hitam. Kau menyandang tas ransel warna coklat. Kau berambut belah tepi dan memiliki jambul. Aku sangat hafal sekali wajahmu.

Aku ingin mengatakan jawabanku atas tanyamu malam itu. Aku tahu kau suka padaku. Justru karena hal itu aku kembali ke sini, karena ibu menyetujui hubungan kita. Ibu tahu dari kartu ramalnya bahwa kau adalah laki-laki yang baik. Pantas untukku.

Sampai kapan pun aku masih di sini. Sampai kau datang dan menemuiku di sini. Aku ingin menyampaikan kabar baik ini padamu. Aku yakin kau akan bahagia mendengarnya.

Tiba-tiba air dari langit menetes di ubun-ubunku. Aku merasakannya. Dingin. Hujan. Angin. Persis seperti awal pertemuan kita.

Aku tidak akan berlindung ke tempat yang teduh agar aku tidak terkena hujan. Aku ingin basah kuyup dan kau membawakan sebuah payung untukku, lalu kau membawaku pulang. Lalu hujan semakin menderas. Arah angin tepat ke arahku, dan aku terasa ditampar hujan. Sangat terasa jelas tetes air hujan yang mengenai kepalaku. Seperti bongkah-bongkah kerikil yang jatuh dari langit dan mengenai ubun-ubun. Aku tidak peduli, sekarang aku ingin kau datang laki-lakiku.

Beberapa orang menegurku agar segera berlindung ke tempat teduh itu. Toko yang sudah tidak dibuka itu. Aku menolak. Aku ingin terus di sini menjadi perempuan simpang yang menanti laki-lakinya. Aku berubah kasar, melempar payung yang diberikan oleh seorang laki-laki yang datang tiba-tiba. Aku tidak akan menerima payung dari laki-laki mana pun selain laki-lakiku. Ia pasti akan datang dengan menggunakan jaket kulit berwarna hitam dan membawa payung untukku.

Ketika hujan semakin deras aku masih di sini. Dengan gigil. Basah kuyup. Lalu tubuhku ambruk ke tanah. Dan datang seorang perempuan berjaket kulit warna hitam yang membawa payung untukku.

*

Aku tidak begitu asing dengan bau rumah ini. Setahun yang lalu aku tinggal di sini. Di rumah batu yang tua, di dekat simpang. Aku tahu bukan laki-lakiku yang datang memakai jaket kulit warna hitam dan membawa payung untukku. Aku tahu dia perempuan. Perempuan yang datang tiba-tiba membawa payung untukku dan membopongku ke rumah lama ini.

“Dina, kau sudah sadar, Nak?”

Ibu mengusap keningku yang masih basah. Aku terus menggigil. Menahan hasrat dan gejolak yang entahlah. Ibu menyodorkan segelas teh panas yang mungkin dibelinya di warung depan ke mulutku. Aku menggeleng. Ibu, aku tidak butuh teh saat ini. Aku tidak ingin dirimu yang menyelematkanku saat tubuhku ambruk tadi. Aku ingin laki-lakiku.

Ibu menaruh teh panas itu di sampingku. Lalu, ia pergi ke belakang. Meninggalkanku sendiri di kamar ini. Entah dorongan dari mana aku tiba-tiba ingin berjalan-jalan kecil di ruangan ini. Memperhatikan satu persatu gambar yang dilukis di kertas putih kemudian di pajang di kamar ini. Aku tahu gambar itu milik ibu. Mungkin ibu sengaja meninggalkannya di sini dan tidak membawanya ke rumah baru.

Ibu memang suka sekali menggambar. Aku takut sekali kalau aku yang digambar ibu. Ibu akan menggambar siapa saja sesuai yang ia baca di dalam kartu ramal yang dibukanya. Dulu, sebelum ayah meninggal pada kecelekaan bus yang ditumpanginya, ibu sudah menggambarnya terlebih dahulu, jauh hari sebelum ayah meninggal. Dan sejak itu aku merasa takut kalau-kalau saja wajahku yang digambar. Tidak masuk akal, akh, mungkin aku harus mencari kata-kata lain untuk mengganti kata-kata tidak masuk akal.

Aku tertarik dengan sebuah gambar. Aku memperhatikanya teliti sekali. Mengamatinya. Memahaminya. Memperhatikannya lekat-lekat. Gambar seorang laki-laki. Memakai jaket kulit warna hitam, menyandang tas ransel warna coklat, memegang sapu tangan kotak-kotak, rambut belah tepi, dan berjambul. Laki-laki itu seperti sedang menunggu seorang perempuan di sebuah simpang. Barangkali aku mengenalinya.

Lalu, ibu kembali dari belakang. Membawa jaket kulit berwarna hitam, tas ransel warna coklat,  dan sebuah sapu tangan kotak-kotak yang penuh dengan bercak-bercak darah.

“Ibu menggambar gambar ini seminggu sebelum kamu bertemu dengan laki-laki itu”

Aku menggigil.*

Dodi Prananda, Siswa SMAN 1 Padang Sumatera Barat

Incoming search terms for the article:

perempuan simpang, cerpen wanita simpang, perempuan simpang cerpen dodi prananda, dodi prananda, perempuan simpang lmcr 2010, resensi perempuan simpang, cerpen perempuan samping by dodi, suasana cerpen perempuan di simpang tua, gambar perempuan mengenakan jaket kulit dan kata-kata, kedinginan dan menggigil cerpen

This entry was posted in Karya, SMU and tagged , . Bookmark the permalink.

6 Responses to PEREMPUAN SIMPANG

  1. WIdy says:

    wah….a great story..^^

  2. rayi says:

    cerpennya bagus banget.. ending yang memunculkan banyak pertanyaan membuat pembaca jadi penasaran..

  3. shandra says:

    keren, dan pantas jadi pemenang. jalan ceritanya membuat orang bertanya-tanya, dan akhir ceritanya sangat-sangat tidak terbayangkan. bagus :). congrats yaa 🙂

  4. indra says:

    subhanallah, kak Dodi punya inspirasi dari mana??

  5. Rifki says:

    Kereen..
    Belajar darimana deh sampe bisa buat cerpen kaya gini?

  6. Rifki says:

    Kereen…
    Belajar darimana deh sampe bisa buat cerpen kaya gini?