REAL F.K

Oleh Yusrianti Noor

“F.K yuk?”
Begitulah SMS singkat yang dikirim Rafi untukku. Aku benar-benar tidak percaya dengan isi SMS singkat itu. F.K yang maksudnya “first kiss” itu sangat membuatku bingung. Berulang kali aku membaca SMS Rafi itu sampai akhirnya aku membalasnya.

“F.K???”
Lebih dari 15 menit aku menunggu Rafi membalas SMSku. Hatinya penuh tanda tanya, sebenarnya ada apa dengan Rafi. Rafi yang selama ini tidak pernah membicarakan itu, kenapa tiba-tiba ngajakin aku F.K.

“Ih….”, aku ngeri memikirkan F.K itu.
Akhirnya, terdengar juga suara Avril Lavigne yang langsung membuyarkan lamunanku. Dengan hati-hati, kubuka SMS itu.

“Iya .Ara-ku, mau kan first kiss denganku?”
“Ampun dah si Rafi, kenapa jadi aneh gini. Salah makan apa nih Rafi”, bisikku dalam hati. Aku ingin sekali mengatakan tidak pada Rafi. Tapi tidak tahu setan apa yang merasuki pikiranku hingga aku mengiyakan ajakan Rafi itu. Begitu banyak yang telah Rafi lakukan untukku. Berapa banyak sinar mentari yang dia gunakan untuk menerangi hidupku. Berapa sering kugunakan pundaknya untuk kusandarkan saat mataku tak mampu menahan tangisan air mataku. Aku ingin mengabulkan sekali saja permintaan Rafi. Mengingat semua kebaikannya padaku, hatiku tak sanggup menolaknya.

Belum sempat aku membalas SMS Rafi, lagi-lagi Avril Lavigne kembali memperdengarkan suara merdunya. Tapi kali ini menandakan ada panggilan masuk. Nama Rafi tertera di layar ponselku.

“Tuhan, tolong aku”, bisikku sebelum mengatkat panggilan dari Rafi.
“Iya, Ara di sini”, jawabku mencoba setenang mungkin.
“Ehmm, lagi ngapain Ra? Kenapa SMS Rafi nggak dibalas?”,
“Mau dibalas kok, tapi kau sudah nelpon duluan”.
“Mau kan, Ra?” tanya Rafi. Aku langsung menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaannya itu..
“Kok tiba-tiba ngajakin Ara F.K sih Fi? Rasanya, kita nggak pernah bahas masalah ini sebelumnya,” tegasku tapi manis, Rafi pasti mati kutu sekarang.
“Kita pacaran hampir dua tahun Ra, apa salahnya kita F.K, sebagai tanda cinta kita.”

Ah, Rafi… aku mencari pegangan untuk menopang tubuhku yang hampir terjatuh. “Sejak kapan F.K dilambangkan sebagai tanda cinta?”, pekikku dalam hati. Ini benar-benar bukan Rafi yang kukenal selama ini. “Fi, harus F.K ya?”.

“Nggak mau?” tanya Rafi mendesak.
Iini pertanyaan yang kutakuti selama ini. Akhirnya kujawab, “Mmm..aaa.uu dong Fi,” suaraku terbata-bata, karena tidak yakin dengan jawabanku. Aku harap Rafi langsung berhenti membicarakan masalah ini.Tak terdengar apa-apa dari seberang sana. Aku sampai berulang kali memanggil nama Rafi untuk mendengar lagi suara yang tak asing itu.

“Iya Ara, tadi kau ngomong apa?”, jawaban Rafi aneh sekali, seperti ada yang dia sembunyikan dariku. Tapi aku tidak mau membahasnya lagi., perutku mual memikirkan rencana F.K Rafi.

“Oke deh Fi kalau gitu. Udah malam ni, Ara tidur dulu ya.” Pamitku..
“Oke, met tidur ya. Besok jangan lupa bawa surat cinta kita ya. Hehehe”.
“Tenang aja Fi, Ara nggak mungkin lupa. Hehehe.” aku juga ikut tertawa mendengar kata surat cinta itu.
Dan aku pun langsung tertidur tanpa menutup panggilan dari Rafi.

*

“Kira-kira, lirik lagu apa ya yang ditulis Rafi dalam suratnya?” aku memikirkan itu sambil tersenyum di depan kaca. Iya, tukar-menukar surat merupakan tradisi kami setiap bulan pada tanggal jadian kami. Biasanya, Rafi nulis satu lirik lagu untukku dalam suratnya.

“Ara, sampai kapan kamu mau berdiri di depan kaca seperti itu? Ayo makan! Nanti nasinya lari dari piringnya,” terdengar mama mengomel dari dapur.

Dengan muka agak ditekuk, aku ke meja makan. Aku memang paling sulit kalau disuruh makan.

“Aduh Ara, senyum sedikit. Kalau ketemu sama nasi jangan cemberut.” – itu ceramah yang kuterima setiap pagi dari ayah. Bukannya aku tersenyum, tapi kubuat mukaku semakin kutekuk.

“Kalau ngomong masalah senyum sama nasi, jangan sama Ara. Papa kayak tidak tahu Ara saja,” balas mama sambil melirik aku.

“Daripada nanti mama dan papa yang berantem, lebih baik Ara pergi ke sekolah dulu ya,” pamitku pada mama dan papa.

Tanpa persetujuan dari mereka, aku langsung pergi..

*

Aku tidak ingin bertemu Rafi di sekolah hari ini. Walaupun itu mustahil, karena hari ini kami akan tukar-menukar surat. Tapi aku tetap ingin mengulur waktu untuk bertemu dengan Rafi.

Aku sudah mencari Maya hampir seantero sekolah. Tapi tidak ada tanda-tanda adanya Maya di sana. Sepertinya Maya sedang bersembunyi di sudut sekolah, yang tidak mungkin bisa dideteksi oleh anjing pelacak sekalipun. Maya, sahabatku yang selalu kujadikan tempat pelampiasan masalahku, pemberi saran paling jitu, sepertinya akan kujadikan tempat berkeluh kesah hari ini. Aku harus berdiskusi dengan Maya untuk menghadapi masalahku. Huh, kakiku sudah hampir lepas, barulah aku menemukan Maya yang baru saja keluar dari toilet.

“May, Maya,” teriakku memanggil Maya, sebelum Maya sempat menghilang lagi.
“Ada apa Ra? Penting banget ya sampe segitunya,” seru Maya.
“Aku mau cerita nih May masalah Rafi”.
“Ada masalah apa lagi Ra sama Rafi?”.

Aku mulai menceritakan kejadian kemarin dari A sampai Z, seputar F.K yang diminta Rafi. Aku melihat ekspresi Maya saat mendengar ceritaku. Aku lihat begitu cepat perubahan pada muka Maya. Berulang kali Maya bergidik ngeri saat kuucapkan kata “F.K”. Tidak terbayang betapa marahnya Maya bila tahu aku telah mengiyakan permintaan Rafi. Jadi aku tidak menceritakan masalah itu. Aku ingin melihat tanggapan Maya dulu.

“Wah, aku benar-benar nggak nyangka Rafi bisa minta kamu melakukan itu.Aku kira Rafi cowok baik-baik,” ucap Maya dengan muka setengah tidak percaya. “Jadi kamu jawab apa Ra?”.

“Nggak tahu May, aku masih bingung. Menurutmu gimana?”
“Tahu kan Ra, pembuktian itu tidak harus dengan kiss. Masih banyak hal positif lain yang bisa kalian lakukan. Kita kan sama-sama tahu gimana si Rafi. Dia kan lurus banget”.

Aku mulai mencerna setiap perkataan Maya. Ada benarnya juga yang diucapkan Maya. Mana mungkin Rafi bisa meminta hal-hal yang aneh seperti itu. Aku berpikir keras untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Dan kemudian, aku langsung menoleh ke arah Maya yang langsung mengarahkan pandangannya kepadaku. Saat mata kami bertemu, aku sangat yakin apa yang ada dipikiranku sama dengan yang dipikirkan Maya. Kemudian Maya tersenyum dengan senyum hangat seperti biasanya.

“Makasih banyak ya May.”
“Makasih untuk apa? Sebenarnya kamu memecahkan masalahmu sendiri, tanpa aku Ra,” kali ini senyum Maya benar-benar tulus.

Sifat yang satu ini yang benar-benar kusuka dari Maya, tulus.
Ternyata, Rafi datang menghampiri kami sambil membawa amplop biru di tangannya. Melihat Rafi, jantungku berpacu layaknya mau keluar dari tubuhku. “O, kalian di sini ya,” Rafi melihat ke arahku dan Maya yang sama gugupnya denganku.

“Hai Fi,” Maya menyapa Rafi..
“Kenapa Fi? Aku sudah siap tukar-menukar surat.” aku mencoba membuat lelucon yang terdengar garing di telingaku.

“Ya sudah, aku mau ke perpus dulu ya, mau pinjam buku untuk referensi tugas,” pamit Maya pada kami.

“Hati-hati ya May,” itulah jawaban kompak kami mengantarkan kepergian Maya. Setelah Maya pergi, aku menoleh ke arah Rafi yang dari tadi mengamati wajahku. “Kenapa Fi?”.

“Kau cantik banget sih hari ini. Mukamu bersinar,” Rafi mengamati wajahku sambil tersenyum.

Aku jadi salah tingkah. Aku rasakan jari Rafi menyentuh daguku dan menegakkan kepalaku agar mataku bisa menatap matanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya menuruti saja.

“Jangan gini dong Fi. Mau ya aku pingsan karena nggak tahan menahan malu,” – kurasakan pipiku memerah..

Rafi meletakkan telunjuknya di bibirku, mengisyaratkan agar aku diam. bicara. Akupun diam dan hanya menatap Rafi.

“Jawab pertanyaanku dengan jawaban ya atau tidak. Oke?” Rafi menatapku. Aku mengangguk, sepertinya aku benar-benar terbius sekarang.

“Kamu mau F.K denganku, Ra?”

“Ya.” jawabku terbata-bata. Sebenarnya aku hanya ingin memancing Rafi. Aku tahu benar siapa Rafi. Dia tidak akan berani nyium aku. Mendengar jawabanku, kulihat titik kecemasan di matanya. Aku tersenyum di dalam hati melihat Rafi. Tapi tiba-tiba, titik kecemasan itu hilang.

“Bagus kalau gitu, kapan kita mau melakukannya Ra?,” aku terkejut mendengar jawaban Rafi. Benar-benar diluar dugaan. Tapi aku tak menyerah, aku kembali memancing Rafi.

“Sekarang siap kok, Fi!” tantangku, berpura-pura. Tapi, tidak terdengar nada takut dalam suaraku.

Rafi tidak membalas perkataanku. Tanpa bicara, dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Muka Rafi semakin dekat. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Matanya tetap memandangku mencari ketakutan di mataku. Aku benar-benar takut. Saat muka Rafi hanya tinggal beberapa senti meter lagi, aku menjauhkan tubuhku dan mulai menangis tersedu-sedu. Aku tidak tahu kenapa begitu derasnya air mata yang keluar, Rafi hanya diam terpaku melihatku yang menangis. Saat tangisanku mereda, Rafi mendekat dan menghapuskan air mataku dengan lembut.

“Aku benci F.K. Jangan paksa aku melakukannya Fi. Terserah kau mau marah atau melakukan apa saja padaku, yang penting bukan F.K. Maafkan aku mengecewakanmu.” Air mataku kembali keluar dengan derasnya.

“Kata-kata ini yang kutunggu Ra. Kata-kata yang jujur dari hati seorang Ara. Aku nggak marah. Malahan Rafi bangga. Kau nggak gampangan melakukan F.K sama cowok, sama aku sekali pun” kata Rafi lembut.

Kutatap mata Rafi. Aku cari kebohongan di matanya. Tidak ada. Kejujuran yang ada di matanya. Aku makin sayang pada Rafi.

Yusriani, Siswi SMAN 2 Sekayu MUBA Sumatera Selatan
Pemenang Harapan LMCR 2009 untuk kategori B (Pelajar SLTA)

Incoming search terms for the article:

cerpen first kiss, cerpen first kiss dengan musuh, cerita first kiss, cerita first kiss doc, cerita first kiss remaja, cerita first kiss di sekolah, cerpen remaja kiss, cerpen kiss, Cerpen remaja first kiss, Cerita remaja first kiss

This entry was posted in Karya, SMU and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to REAL F.K

  1. bagusss deh mendidik nihh. g boleh ya kiss-kissan adik-adik hehe 🙂