Tiga Perempuan dalam Hitam

Oleh Maghriza Novita Syahti

HITAM

Dingin angin masuk menyelinap melalui celah pintu dan jendela. Ruangan yang tak besar itu semakin dingin dalam balutan warna putih bersih tak bernyawa. Ketika membuka mata, sejauh mataku memandang, kurasa dunia ini miskin sekali akan warna. Kuarahkan kedua mataku ke kanan, putih. Kuputar lagi berbalik arah, putih. Mataku mencari-cari keberadaan warna lain, hitam misalnya, yang dapat kupandang.

Kupicingkan mataku sejenak, mengingat keberadaanku kini. Ah, betapa payahnya ingatanku. Kuulangi lagi menjelajahi ingatan. Kali ini keningku mengerut membuat kedua alis mataku nyaris bertemu. Tak lama, entah darimana ingatan itu datang dan mengabarkan padaku bahwa aku sedang berada di kamar baru di ruangan kecil belakang rumah. Begitulah setiap pagi aku mengawali hariku. Bertanya-tanya pada angin dingin yang bertamu.

Kudapati tubuhku dibalut baju kaos lusuh entah sudah berwarna apa. Bukan putih, kuning, bukan pula hitam. Segera aku menuju kotak alat tulis yang berada di atas meja. Kubuka baju kaos yang kukenakan kini, kemudian kuwarnai kaosku dengan spidol hitam.

Duduk aku, membebankan berat tubuhku pada dinding. Pikiranku berkelana hingga hinggap pada kecemasan di sebuah pagi yang masih belia. Kata ibu, akan ada perempuan yang mengantarkan makanan untukku. Aku cemas untuk itu. Satu-satunya manusia yang masuk ruangan ini untuk mengantarkan makanan buatku. Kulemparkan pandanganku pada dinding putih itu. Aku ternganga, bibirku membulat membentuk huruf O. Pada satu bagian dinding itu kulihat beberapa garis tak beraturan berwarna hitam. Kuhadapkan tubuhku pada dinding yang lain. Garis hitam itu ada pula. Lebih berserakan daripada dinding yang sebelumnya kulihat. Kuputar lagi tubuhku. Garis hitam itu semakin banyak dan hampir memenuhi sebidang dinding keempat, tempat aku bersandar kini. Entah cat entah apalah namanya, tampak seperti meleleh dari bagian dinding atas. Hingga menitikkan warna hitam itu ke lantai.

Kurasakan hitam itu menitik tetes demi tetes hingga menggenang ia di lantai. Seperti ombak, cairan hitam itu mengejarku dan terus mengejar hingga aku terkurung di sudut ruangan. Tak lama lagi, cairan hitam itu akan dapat menyentuh kakiku hingga warna hitam itu menjalar ke seluruh tubuhku. Semasa itu, aku merasa ayah sedang mendatangiku, sosok ayah menyatu dengan jiwa dan ragaku.

Kupicingkan mataku lama. Setelah menutup mata pun, warnanya masih hitam. Semakin lama mataku tertutup, perlahan warna hitam itu berganti putih hingga ketika membuka mata kudapati semuanya berwarna putih, seperti semula. Kupicingkan lagi mata agar dapat melihat warna hitam yang mendominasi penglihatanku.

PEREMPUAN 1

Entah berdosa apa aku selama ini hingga hidupku sangat tak indah. Orang-orang pernah bilang padaku, menjadi istri dan ibu adalah menyenangkan. Tapi, bagiku tidak. Sama sekali tak pernah menyenangkan.

Pernah pula aku berpikir bahwa Tuhan tak adil. Cerita hidupku selalu saja di dalamnya terdapat kata sedih, benci, menderita. Sedih karena sebulan yang lalu suamiku meninggal dunia, benci karena aku harus menanggung beban hidup sendiri, dan aku menderita harus membesarkan anak cacat itu seorang diri. Apalagi, kini kurasa ia tak cuma cacat fisik, tapi juga agak gila. Gila dengan warna hitam, yang mengingatkannya pada kematian ayahnya.

Pernah suatu ketika ia berkata padaku bahwa ia ingin kami mengingat kematian ayahnya setiap hari. Menyelenggarakan pemakaman setiap hari, mengenakan baju hitam setiap hari, semuanya harus serba hitam. Bagaimana ia tidak gila jika seperti itu? Mengerikan sekali. Bisa jadi ia membunuh orang setiap hari karena menginginkan pemakaman setiap hari. Bisa jadi pula, aku menjadi korban pertamanya karena hanya kami yang ada di rumah itu.

Kuasingkan ia di kamar belakang. Aku tak mau berurusan dengan anak cacat itu. Kalau boleh kuberitahu, selama ini aku hanya berpura-pura menyayangi anak itu di depan suamiku. Entah apa sebabnya, aku tak suka anak cacat itu, anak kami satu-satunya. Aku lebih suka bekerja, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas. Aku tak pula mau terlibat langsung dalam merawat anak cacat itu. Kucarikan perempuan yang akan memberinya makan dan merawatnya.

Hari ini, kutemukan seorang perempuan dari perusahaan jasa tenaga kerja. Mulai hari ini ia akan merawat anakku yang cacat itu. Entah apa jadinya nanti. Semoga akan baik-baik saja.

PEREMPUAN 2

Ini kali pertama aku akan bertemu seorang anak perempuan di rumah ini. Kali pertama pula aku bekerja pada keluarganya. Pekerjaanku sebenarnya tak berat. Memasak, mengantarkan makanan untuk anak itu, menyuapinya makan, kemudian keluar dari ruangannya.

Kurasa, ia mendengar suara langkah kaki yang sepertinya perlahan dan memang perlahan, semakin perlahan menujunya. Tak lama, pintu itu kubuka, berderit pelan. Sesuai dengan perintah ibu, pintu ini hanya dibuka dua kali dalam sehari selama lima menit. Hanya untuk mengantarkan makanan, menunggui anak itu makan, kemudian ditutup kembali.

Tampak seorang anak perempuan yang kira-kira berusia empat belas tahun. Tiba-tiba, kudapati tangan dan kakinya tak seperti tangan dan kaki manusia normal. Tangannya agak bengkok. Seperti tak bertulang saja, bisa ia bengkokkan ke dalam, bisa pula keluar. Tangan itu bergerak liar tak henti. Kurasa, ia tak mampu mengendalikan gerakan tangannya sendiri. Kulihat pula kaki kanannya. Jika tangannya selalu bergerak, maka kaki kanannya tak bisa digerakkannya sendiri. Harus diseretnya pula kaki kanannya itu jika akan berjalan.

Sebenarnya aku tak takut pada anak ini. Tapi, di luar tadi, orangtuanya bilang padaku bahwa anak yang berada di dalam ini mengerikan. Kau bisa saja dipukulnya, dijambaknya rambutmu, bahkan dibunuhnya. “Berhati-hatilah,” pesan ibu empat puluh tahun itu. “Dan jangan lupa pakailah baju berwarna hitam jika kau tak ingin ia mengamuk,” lanjut ibu itu.

Kulihat ia tercengang melihat sosokku, perempuan muda berdaster hitam memasuki ruangan tempatnya berada. Dilihatnya langkah kakiku dari sudut matanya. Kini aku duduk di sisi kanannya. Tak kusangka ia akan mendorongku, keras. Tatapan tajam matanya seakan mengatakan padaku bahwa aku tak boleh duduk di kanannya.

“Kau mengambil tempat malaikat yang selalu mendampingiku dan mencatat amal baikku. Kau mengganggu malaikat yang sedang melihatku merindukan ayah,” teriaknya padaku.

Ia mendorongku. Aku terjengkang karenanya. Aku tahu, ia hanya melihatku dari sudut matanya. Terdengar suara sesuatu pecah, piring makanan yang kubawa untuknya. Ia menatap mataku lekat-lekat hingga aku menundukkan kepala. Tak mampu aku menatap matanya yang sedang menatap mataku. Dari sudut mata dapat kulihat ia akan melihat wajah cemasku akan anak kecil itu. Mungkin, ia bertanya-tanya tentang apa yang kucemaskan. Perlahan kedua bola mataku menari-nari ke kiri, ke kanan. Kurasa, kini matanya sedang mengikuti alur garis berliku di daster hitamku. Bangkit ia dari duduknya, kemudian beringsut pelan ke arahku. Semakin cemas aku dibuatnya. Dapat kurasakan betapa kencangnya detak jantungku kini. Cepat aku berdiri sebelum ia benar-benar menjangkauku. Aku berlari ke arah pintu, kemudian keluar. Sayup-sayup kudengar ia berkata sesuatu, entah apa.

PEREMPUAN 3

Lagi-lagi kini kudengar suara langkah pelan. Entah langkah siapa. Mungkin perempuan berdaster hitam lagi. Kuamati gerak pelan pintu itu dibuka. Tampak seorang perempuan setengah baya mengenakan daster hitam dengan motif bunga-bunga masuk ke ruangan ini. Perlahan ia menujuku. Membawa nampan yang berisi sepiring nasi, lauk, dan segelas air putih. Kuamati ia. Duduk ia tepat di sebelah kananku. Aku jelas-jelas tak suka itu. Kuteriakkan padanya, “Kau mengambil tempat malaikat yang selalu mendampingiku dan mencatat amal baikku. Kau mengganggu malaikat yang sedang melihatku merindukan ayah”

Kupandangi ia. Tampak cemas raut wajahnya. Hingga pandanganku mencapai kantung mata yang bergelayut di bawah mata yang korneanya tak lagi putih bersih, bibir yang pecah-pecah dan tak lagi merah, lehernya yang mulai keriput, dagu yang menggantung. Mataku perlahan jatuh pada daster hitamnya, mengikuti alur garis berliku dan bunga-bunga motif daster itu.

Kudekati ia. Merasa bersalah pula aku dibuatnya. Entah cemas untuk apa ia, aku tak tahu. Ketika kuangkat dan kuseret kaki kananku perlahan menujunya, ketika itu pula ia cepat berdiri dan keluar dari ruangan itu.

Kuteriakkan padanya, “Besok pakai baju berwarna putih, ya!” Entah didengarnya entah tidak.

Melayang pikiranku pada ibu. Ibu yang tak pernah mengunjungiku di kamar belakang ini setelah kematian ayah. Ibu seperti tak merasa kehilangan ayah saja. Ia tak tampak berduka. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku ketika dua hari setelah ayah meninggal, aku mendapati ibu tertawa-tawa, makan-makan, setengah berpesta dengan teman-temannya. Raut kemenangan dan kesenangan tergambar jelas di wajah ibu-ibu cantik itu. Agak sore, datang pula segerombolan ibu-ibu lagi. Kali ini bersama beberapa orang laki-laki yang sudah pasti bukan suami mereka. Laki-laki itu tampak lebih muda daripada usia ibu-ibu yang sudah mulai keriput itu.

Ketika hari sudah mulai gelap, aku dikunci di dalam kamar kecil berwarna putih itu. Kumatikan lampunya agar aku dapat melihat warna hitam, meskipun tak pekat. Tak pernah lagi aku bercakap-cakap dengan ibu setelah ayah meninggal. Mungkin dalam pikiran ibu, aku ikut-ikutan meninggal seperti ayah. Hingga dengan sekali mengedipkan mata, ia merasa bahwa anak dan suaminya sudah tak ada lagi.

PEREMPUAN 1

Ketika malam menjelang, kurebahkan tubuhku, hilangkan penat hari ini. Tak lama, aku kaget, terbangun. Sesuatu meraih kakiku. Kukira akan terjadi adegan film horror. Ternyata anak perempuanku yang meraih kakiku.

Kukatakan padamu, aku benar-benar tak suka padanya. Sebisa mungkin aku tak bertemu dengannya. Kali ini ia mendatangiku dengan baju kaos yang sepertinya diwarnai menjadi hitam. Wajahnya tampak mengerikan dalam keremangan malam itu.

Ia memintaku untuk menemaninya malam ini. Tentu saja aku menolak. Ia kemudian memelas. Tak pula tahan aku melihatnya seperti itu. Ingin rasanya menolak, tapi tak bisa. Kuturuti ia hingga ke kamar kecil yang biasa ia tempati di belakang.

PEREMPUAN 2

Kudengar suara isak tangis ibu dari kamar sebelah, kamar anak itu. Kudengar pula suara orang bercakap-cakap. Ingin rasanya mencari tahu ke sana, tapi kurasa itu bukan urusanku.

Tak lama, kudengar suara teriakan.

“Hitaaaaam!”

Kubuka pintu kamarku, berlari aku ke sumber suara. Kucoba membuka pintu kamar itu, tapi tak bisa. Tiba-tiba kurasakan kakiku basah. Air dari mana ini, pikirku. Tak mungkin pula air. Warnanya hitam, kental. Apa ini? Bertanya-tanya aku dalam hati, apa yang sedang terjadi di dalam.

PEREMPUAN 3

Ketika aku tahu ibu sudah pulang bekerja, kususul ia ke kamarnya. Ketika sampai di kamarnya, kulihat ibu sedang berbaring di tempat tidurnya yang terlalu besar untuk ditiduri seorang. Kuminta ia mengenakan baju putih dan kubawa ia ke kamar kecilku di belakang. Tampak ia bertanya-tanya maksudnya, tapi aku tak memedulikannya. Kududukkan ia di lantai, kubiarkan ia bersandar di sana.

“Bu, tunggu di sini sebentar,” ucapku sembari menutup pintu kamar kemudian menguncinya.

Dapat kudengar suara ibu yang berteriak kemudian menggedor-gedor pintu kamar itu dari dalam. Tak lama, setelah mencuci muka, kubuka pintu kamarku dan mempersilahkannya masuk. Kututup lagi pintu kamar itu dan menguncinya. Kudengar isak tangis ibu.

“Apa ini?” tanya Ibu.

“Hitaaaaam!” teriak ibu.

Kupandangi ibu yang duduk di sudut ruangan itu. Kudongakkan kepalaku ke langit-langit kamar. Hitam. Garis hitam itu kembali ada. Kali ini garis itu meleleh persis di atas kepala ibu. Kubalikkan badanku. Kudapati pula garis hitam itu. Semakin banyak, semakin melebar, semakin menjajah ruangan ini. Di sudut sana, sudah ada yang menetes. Satu tetesan, dua tetesan. Menjalar cairan itu ke lantai hingga sampai di kakiku. Cairan hitam seperti tinta cumi-cumi.

Kulihat ibu di sudut sana, masih menangis. Sebagian tubuhnya sudah dilumuri cairan hitam yang menetes dari dinding itu. Ibu mencoba mengelak dari tetesan cairan hitam itu. Tapi tak bisa. Di mana-mana cairan hitam itu menetes. Tubuhku pun kini sudah hitam karena cairan itu.

“Ayah sedang memeluk Ibu, juga aku,” ucapku pelan.

Kurasakan hitam itu menitik tetes demi tetes hingga menggenang ia di lantai. Seperti ombak, cairan hitam itu mengejarku dan terus mengejar hingga ruangan itu hitam. Aku dan ibu seperti sedang berenang dalam cairan hitam itu. Kurasakan tubuh ayah memelukku semasa itu.

***

*Padang, 4 Januari 2009 Pemenang Ke-3 LMCR 2009 untuk kategori C (Mahasiswa, Guru dan Umum)

Incoming search terms for the article:

cerpen tiga perempuan dalam hitam, tiga perempuan dalam hitam, cerpen jasa ibu, tiga wanita hitam, resensi cerpen 3 perempuan dalam hitam, tiga wanita dalam hitam, cerita pendek anak cacat, cerita 3 wanita daster pendek, cerita 3 remaja perempuan, aku ditiduri ayah

This entry was posted in Karya, Umum and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Tiga Perempuan dalam Hitam

  1. Val says:

    Semula aku nggak ngerti apa maksud dari cerita ini. Kira-kira apa sih maksud penulisnya? Namun setelah aku hayati lebih dalam lagi, aku jadi takjub. Oh… jadi begini ceritanya! Ternyata antara aku yang pertama, kedua, dan aku yang ketiga sangat berkaitan. Dari kualitas bahasanya pun bagus. Literer. Menarik. Suspensnya juga dapet. Kata-kata ‘hitam’ yang penulis sampaikan memang membuat aku ngerti. Tapi justru itulah sisi kelebihan yang ingin ditampilkan. Dan tampaknya penulis ingin membuat pembaca menterjemahkan sendiri apa arti ‘hitam’ tersebut. Selebihnya top deh cerpennya. Teruslah berkarya!

  2. bagus, menggunakan tiga tokoh yang berkaitan. like this. tapi rada horor auranya…

  3. Chaca says:

    Message:sumpah ga ngerti ~_~
    qu bingung nih, ikut kategori B, q dah ga masuk pelajar..
    Kategori C, kok bhasanya tingkat tinggi 😀

  4. Daus says:

    Aku suka banget cara penyampaiannya. jadi ingat novelnya orhan pamuk. Sayang, aku tak terlalu suka cerita yang endingnya seperti tak memberikan pesan apa pun. Masih banyak yang menggantung. Tapi, cara penyampaiannya tetap keren dan paling berkesan buatku.

    Selamat atas kemenangannya ya!

  5. aini says:

    Message:Orang Sumatra memang pandai berkata-kata. Aku sangat suka tipe cerpen begini, seperti yang kerap dimuat dalam majalah sastra Horison. meski menggantung namun emosi ketiga tokoh tersebut bisa ku tangkap.Salam hangat untuk penulis, selamat atas kemenangannya!

  6. Pingback: Tiga Perempuan dalam Hitam | Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja - Website Kumpulan Dongeng