Wajah Untuk Nayla

Oleh Melia Herlina

            Aku  melihat dirinya setiap hari di pojok ruangan itu. Duduk di kursi kayu tua yang menghadap ke jendela kamarnya. Ia  tampak sedih dan raut wajahnya penuh dengan kekecewaan. Mimiknya seakan berkata bahwa ia ingin tidak dilahirkan. Aku bisa memahami perasaannya. Aku bisa merasakan betapa menderitanya dia sejak kejadian itu. Ya, kejadian sembilan tahun lalu,  meninggalkan begitu banyak luka di raga dan jiwanya: Nayla!

*

            Masih menggores jelas di kepalaku memori yang berbekas itu. Memori itu membawa tubuhku kembali ke kejadian sembilan tahun lalu di mana aku dan keluargaku berada di dalam mobil hitam. Malam itu, suamiku yang memegang kendali mobil dan kami merasa sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama-sama di Kebun Raya Cibodas hari itu. Ketika kami hendak pulang menuju rumah kami ketika tiba-tiba ada sebuah truk dari belakang yang menabrak mobil kami. Truk besar yang mengangkut bahan bakar minyak itu tanpa ampun menghantam mobil kecil kami hingga terpental sejauh lima meter dalam kondisi terbakar. Aku merasa beruntung karena dapat keluar dari dalam mobil saat tragedi itu menimpa kami.

Beberapa detik sebelum kejadian itu terjadi, aku sudah terlebih dahulu melepas sabuk pengaman yang mengikatku. Tetapi hal itu tidak terjadi pada suami dan anakku. Mereka terjebak di dalam mobil karena mobil tersebut dalam keadaan terbalik. Entah kenapa di saat yang genting itu aku memilih menyelamatkan putri kecilku, yang kebetulan tidak memakai sabuk pengaman sehingga aku bisa menariknya keluar dari mobil dengan mudah. Sayangnya suamiku tak bisa kuselamatkan karena si jago merah sudah melahap tubuhnya sampai habis.

Hatiku begitu sakit menerima kenyataan bahwa orang yang selama sepuluh tahun telah menemaniku harus pergi meninggalkanku. Aku tidak terima dengan kepergiaannya yang begitu tragis. Beliau tak pantas pulang dengan cara seperti itu. Aku pun tak bisa menyalahkan diriku karena aku harus memilih siapa yang harus aku selamatkan. Tidak mungkin aku bisa menyelamatkan mereka berdua sekaligus. Tapi hatiku cukup terhibur karena putri semata wayangku selamat, walaupun dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuh mungilnya hitam gosong, rambutnya rontok, kulitnya terkelupas hampir seluruhnya, dan yang paling membuatku sedih adalah dia tak bisa melihat. Iya, sejak peristiwa itu putri kecilku ini menjadi buta. Aku tak tahu apa dia bisa menerima dirinya ketika tahu bahwa ia sekarang buta. Dan sekarang aku sudah tahu jawabannya.

“Kita sarapan yuk Nay,” ajakku pagi itu. “Ibu masak nasi goreng kesukaanmu lho.”

Nayla mendongakkan kepalanya ke arahku kemudian berdiri dari kursinya. Aku menggandeng tangannya menuju ruang makan. Nayla duduk kemudian makan dalam diam.

“Nay, tiga bulan lagi kamu akan berumur tujuh belas tahun. Bagi anak gadis, umur tujuh belas tahun adalah momen yang istimewa, yang perlu dirayakan. Apa kamu mau ulang tahunmu dirayakan?” tanyaku memecah keheningan.

Nayla hanya menggeleng kemudian melanjutkan makannya kembali.

Aku menghela napas kemudian bertanya lagi. “Kalau begitu apa ada sesuatu yang kamu inginkan?”

Tiba-tiba Nayla berhenti mengunyah. “Ibu sungguh ingin memberikan apa yang aku minta?”

Aku tersenyum mendengar tanggapannya. “Tentu sayang. Apapun yang kamu minta, Ibu akan menyanggupinya.”

Gadis berambut ikal itu tersenyum lebar. “Aku ingin melihat wajahku di usiaku yang ketujuh belas ini.”

Jawaban singkat itu membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Aku sungguh terkejut mendengar permintaannya. ‘Apa?? Ia ingin melihat wajahnya? Tapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Ia tidak dapat melihat. Sekalipun bisa melihat, wajahnya sudah tidak utuh lagi. Bagaimana aku bisa memenuhi permintaannya?’

“Ibu, kenapa Ibu diam saja?” Nayla memecah lamunanku. “Ibu mau kan memenuhi permintaanku?”

“I..iya Nay. Ibu akan memenuhi permintaanmu. Ibu akan menyanggupinya.”

Tiba-tiba Nayla memeluk tubuhku. Sekali lagi aku dibuatnya terkejut. Selama Sembilan tahun ini, Nayla tidak pernah memelukku. Aku bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan dalam pelukannya itu. Dirinya seakan menemukan secercah harapan. Mungkin hanya permintaan inilah yang sanggup mengembalikan semangat hidupnya.

*

            Sudah seminggu ini aku tidak bisa tidur. Kepalaku terus dibayangi oleh pertanyaan bagaimana mewujudkan permintaan Nayla. Aku sangat ingin mewujudkan permintaan lugunya itu. Selama ini gadisku itu tidak pernah meminta apapun dariku. Permintaannya ini harus aku penuhi tapi bagaimana?

“Dokter, apa tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan kedua mata putri saya?” tanyaku sore itu di sebuah rumah sakit.

“Maaf Bu Rissa, tetapi kebutaan anak Ibu itu permanen dan tidak bisa disembuhkan.” Sang Dokter menjawab dengan tegas.

Aku menghela napas. Tidak bisa ku ungkapkan perasaanku saat itu. Sedih, bingung, kecewa, marah, semua bercampur aduk. Aku begitu putus asa saat ini. ‘Nak, apa yang harus Ibu lakukan untuk mewujudkan permintaanmu?’

*

            Tidak terasa dua minggu telah lewat. Ulang tahun Nayla terasa semakin dekat. Aku masih berkutik dengan pikiranku sendiri. Keningku terasa hangat. Sepertinya otakku sudah terlalu lelah untuk memikirkan permintaan Nayla.

Siang itu, kota Makassar terasa begitu panas. Matahari memancarkan sinarnya terasa menyengat. Para pejalan kaki melindungi kepala mereka dengan payung. Peluh menetes dengan bebas di dahiku. Aku menyusuri pertokoan di sepanjang jalan. Melewati para pedagang yang duduk di pinggir jalan. Ku tengokkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Mencari inspirasi untuk memenuhi keinginan Nayla.

Tanpa sengaja pandanganku tertuju pada suatu tulisan bewarna kuning cerah, tulisannya “Pelukis Jalanan, terima melukis semua wajah.” Tiba-tiba ada lampu bohlam yang seakan-akan menyala di atas kepalaku. ‘Ah, ide yang bagus! Aku minta pelukis jalanan ini saja untuk melukis wajah Nayla.’ gumamku dalam hati.

Ketika aku hendak menghampiri sang pelukis, tiba-tiba aku terpikir sesuatu. ‘Tunggu dulu. Bagaimana aku dapat meminta pelukis ini untuk melukis wajah Nayla kalau wajahnya saja sudah tidak utuh lagi? Mukanya nyaris tak berbentuk, tidak seperti muka manusia pada umumnya.’

Tanpa diperintah, lampu bohlam yang tadinya bersinar terang di atas kepalaku sekarang menjadi padam. ‘Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?’

*

            Di rumah aku mencari album foto Nayla. ‘Muka Nayla pasti tak jauh berbeda dengan fotonya ketika masih kecil.’ Aku membongkar tumpukan buku di lemari kaca, mencari album foto yang sudah lama tak ku sentuh. Foto terakhir yang ku simpan adalah ketika Nayla berusia delapan tahun; delapan tahun sebelum kejadian mengerikan itu. Ia mengenakan dress biru muda sambil memeluk boneka jerapahnya. Di foto itu ia terlihat manis sekali. Sejak peristiwa itu aku tidak pernah melihatnya tersenyum. ‘Nay, kamu cantik sekali di foto ini. Ibu rindu senyum manismu, Nay.’ gumamku sedih.

*

            Hari ini aku berencana untuk datang ke tempat pelukis jalanan yang kulalui kemarin tetapi kemudian kuurungkan niatku itu. Aku baru menyadari bahwa aku tidak memikirkan kalau sebuah lukisan tidak dapat diraba dengan tangan. ‘Bagaimana Nayla bisa tahu bentuk wajahnya seperti apa? Bagaimana ia tahu hidungnya mancung atau tidak atau alisnya tebal atau tidak jika hanya melalui sebuah lukisan di atas kanvas? Aku merasa begitu bodoh. Kenapa aku tidak memikirkannya secara matang? Karena lelah aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana dan menonton televisi.

Aku berulang kali menekan remote televisi, mencari acara yang menarik untuk dilihat. Seketika ibu jariku berhenti di salah satu saluran televisi yang menayangkan gambar wajah seseorang. Wajah tersebut terbuat dari sebuah patung lilin. Baru kali ini aku mendengar dan melihat tentang patung lilin. Ternyata tidak hanya wajah saja, tetapi tubuh seseorang secara keseluruhan dapat dibentuk menjadi sebuah patung lilin yang sangat cantik dan yang begitu menyerupai aslinya.

Kemudian kumelihat sang pembuat patung lilin diwawancarai oleh si pembawa acara. Di saat itulah aku terperanjat. “Lho?? Bukannya itu Vano?” aku berbicara pada diriku sendiri. Aku memincingkan kedua mataku untuk melihat lebih jelas lagi dan saat itulah aku melihat dengan jelas sebuah nama yang tertera di kolom bawah. Nama “Silvano Sebastian” tepampang dengan jelas di layar televisiku. “Ya ampun! Ternyata itu beneran Vano.” Aku berteriak tidak percaya. Aku mendengarkan dengan saksama talk show tersebut dan ternyata galeri seni miliknya terletak tak jauh dari tempat tinggalku. “Waahh, ini kebetulan sekali.” ujarku senang. Aku segera mencatat alamat galeri seni yang terpampang di layar televisi. “Besok aku harus ke sana.”

*****

            “Ya Tuhan, Rissa!” terisak Vano histeris. “Bagaimana kabarmu? Sudah hampir tiga puluh lima tahun kita tidak bertemu. Dari mana kamu tahu aku disini?”

“Hahaha. Vano, Vano. Kamu kan sekarang sudah menjadi orang yang terkenal,” jawabku santai. “Kemarin wajahmu muncul di televisi, bukan?”

“Hahaha. Oh, rupanya kamu melihat acara talkshow itu. Tidak heran ya kamu bisa ada di sini.”

Kami bercengkerama cukup lama; tertawa lepas sambil bernostalgia ria. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari kenangan sewaktu SD, teman-teman SD kami yang ingin kami temui, guru-guru yang dulu mengajar kami sampai pelajaran yang kami tidak sukai waktu itu. Setelah puas mengobrol dengannya, aku langsung mengutarakan maksud kedatanganku kepadanya.

“Van,” panggilku pelan. “Aku ingin meminta bantuanmu.”

“Minta bantuan apa, Ris?” balasnya sambil tersenyum. “Selama aku bisa bantu, aku akan bantu.”

Aku menarik napas dalam-dalam kemudian balik lagi ke peristiwa sembilan tahun lalu yang kelam. Aku menceritakan semuanya begitu rinci. Vano mendengarkan ucapanku dengan mimik yang serius. Seriap kata yang keluar dari mulutku ditanggapinya dalam diam. Setelah berbicara panjang lebar aku baru bisa menyampaikan keinginan Nayla dan meminta pendapatnya.

Vano masih terdiam. Ia terlihat berpikir keras. Tetapi tidak lama kemudian ia membuka mulutnya. “Apa wajah Nayla mirip denganmu?” tanyanya hati-hati.

“Mirip, sangat mirip.” Jawabku tegas. “Sebelum ia buta, hampir setiap orang yang bertemu dengan kami mengatakan seperti itu. Dari mulai mata, hidung, rambut hingga warna kulit, semuanya meyerupaiku. Aku sampai heran kenapa ia tidak mengambil rupa ayahnya.”

Seketika Vano menyunggingkan senyum yang tidak biasa. “Sempurna! Berarti sekarang yang dibutuhkan hanyalah foto dirimu ketika berusia tujuh belas tahun.” Ia berhenti berbicara sejenak. “Apa kamu masih menyimpan foto ketika kamu berusia tujuh belas tahun?”

Aku berpikir sejenak kemudian aku menjentikkan jariku. “Tentu saja! Waktu itu aku merayakan ulang tahunku yang ketujuh belas dan aku sempat berfoto. Sepertinya ada di album fotoku.”

“Kau harus pastikan foto itu masih tersimpan, Rissa. Karena foto itu akan sangat dibutuhkan untuk membuat patung lilin Nayla.” Vano menasehatiku. “Kembali lagi kesini jika kau sudah mendapatkannya.”

*

            Ketika sampai di rumah, aku langsung menuju ruang tamu dan membuka kembali lemari kaca tersebut. Kuambil semua tumpukkan album foto yang menggunung itu dan membukanya satu per satu, meneliti setiap foto yang tertempel rapi di setiap halamannya. Setelah melewati delapan album foto, akhirnya aku menemukannya. Ya, foto yang sudah menguning itu menunjukkan usianya yang sudah tidak muda lagi. Aku memperhatikan diriku dua puluh delapan tahun yang lalu ketika aku masih berusia tujuh belas tahun. Aku yang masih terlihat segar dan muda dibalut oleh gaun putih sederhana. Sungguh, Nayla begitu mirip denganku.

*

            “Berapa lama patung lilin ini akan selesai?” tanyaku ingin tahu.

“Kalau boleh tahu, ulang tahun Nayla jatuh pada tanggal berapa?” Vano bertanya balik.

“Dua puluh satu september. Jika dihitung berarti dua bulan lagi dari sekarang.”

“Baiklah, aku pastikan kurang dari dua bulan kau sudah dapat melihatnya.”

Aku meraih tangan Vano dengan perasaan gembira. “Terima kasih, Vano.”

*

            Sejak pulang dari galeri seni Vano, hatiku tak pernah murung lagi. Jantungku serasa menari dan hatiku seakan menyanyi. Kepalaku seperti dipenuhi bunga-bunga mawar yang bermekaran. Aku bahagia sekali membayangkan reaksi Nayla nanti ketika melihat patung lilin pemberianku; melihat sebuah wajah yang selama ini ia nantikan. “Sabar ya Nay, tidak lama lagi kau akan melihatnya.”

*

            “Tilililit…tilililit…” suara itu sudah puluhan kali berbunyi. Memekakkan gendang telingaku. Membangunkanku dari tidur lelapku. ‘Siapa sih yang menelpon subuh begini?’ Dengan terpaksa kusibakkan selimutku dan ku pakai sandalku. Dengan langkah gontai ku melangkah menuju meja telepon.

“Halo?” ku mengangkat telepon dengan malas.

“Rissa?” tanpa basa-basi si penelpon langsung memanggil namaku.

“Vano??” teriakku kaget. “Kamu kenapa menelpon subuh begini?” kumelirik jam dinding untuk memastikan bahwa ucapanku benar. “Ini masih jam tiga pagi,Van.

“Jam tiga pagi?” Vano menjawab seakan tidak percaya dengan ucapanku.

Aku menghela napas kesal.

“Aduh, maaf banget ya Ris.” Jawabnya terkekeh. “Aku begitu bersemangat untuk memberitahumu bahwa patung lilin Nayla sudah selesai, lebih tepatnya baru selesai.”

Aku melonjak kaget. “Benarkah?”

“Iya, sungguh.” Ia meyakinkanku.

“Aku kesana sekarang.”

*

            Aku terpaku melihat patung lilin Nayla dihadapanku. Patung yang berdiri kokoh membelakangi jendela itu begitu mirip dengan fotoku. Bahkan jika diperhatikan, lebih mirip dengan wajah Nayla. Bisa dibilang bahwa patung tersebut merupakan perpaduan yang sempurna antara wajahku ketika berusia tujuh belas tahun dan wajah Nayla ketika berusia delapan tahun. Yang membuat aku lebih takjub lagi adalah tinggi patung lilin itu sama dengan tinggi badan Nayla. Tanpa berkata-kata lagi, aku langsung meraih tubuh Vano dan memeluknya. Ia terlihat terkejut dan sempat mundur ketika berada dalam dekapanku. Tetapi kemudian ia membalas pelukanku dan tersenyum.

“Vano, kau hebat sekali! Kau luar biasa! Lihat patung lilin buatanmu itu. Oh, wajahnya begitu mirip dengan Nayla.” Aku memuji-muji Vano tanpa henti.

Vano tertawa terbahak-bahak. “Patung ini tidak akan seperti ini tanpa foto dari kamu, Rissa.”

“Tak terasa lima hari lagi Nayla berusia tujuh belas tahun. Waktu berlalu begitu cepat.” ujarku sambil merenung. “Aku sudah tidak sabar untuk membawa Nayla kesini.”

*

            Akhirnya hari yang kutunggu tiba juga. Hari di mana Naylaku akan menjadi sosok yang paling bahagia di dunia ini. Aku menuntunnya masuk ke dalam mobil putih kami kemudian aku membawa mobil itu menuju jalan raya.

“Ibu,” panggil Nayla pelan. “Ibu mau membawa Nayla ke mana?”

“Ke suatu tempat yang sangat penting, Nayla.” jawabku antusias. “Ibu punya sesuatu yang ingin Ibu tunjukkan kepadamu.”

Nayla tersenyum. “Apakah aku akan melihat wajahku?”

“Tentu saja,” jawabku singkat. “Bahkan lebih dari itu.”

Kami menyusuri jalan raya yang luas, melewati pohon-pohon yang tertanam di sepanjang pinggil jalan. Hari itu aku begitu bersemangat. Tidak pernah aku merasa bersemangat seperti ini. Tetapi hari ini beda. Hari ini adalah hari ulang tahun Nayla yang ketujuh belas, hari yang sangat istimewa baginya. Tidak terasa mobil yang kami tumpangi sampai juga ke tempat tujuan. Vano rupanya sudah menanti kedatangan kami.

“Hai Ris, hai Nay.” sapanya ramah.

“Hai Van,” balasku. “Nay, kenalin. Ini teman Ibu. Namanya Om Vano.”

“Hai Om Vano,” sapa Nayla sambil tersenyum.

“Yuk kita masuk.” Ajak Vano.

Kami bertiga masuk ke dalam galeri seni Vano. Lalu masuk ke  satu ruangan  terbuka.

“Nay, apa kamu siap untuk melihat wajahmu?” tanyaku bersemangat.

Nayla mendongakkan kepalanya kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Aku memberikan tanda kepada Vano lalu ia mengangkat tirai merah yang menutupi patung lilin tersebut. Lalu aku menuntun Nayla untuk mendekati patung tersebut.

“Nay, selamat ulang tahun ya. Ibu berharap di ulang tahunmu yang ketujuh belas ini kamu bisa menjadi anak yang bahagia.” aku berbicara padanya sambil menangis.

Ia menggandeng tanganku kemudian meraba-raba patung lilin tersebut. Alisnya yang tinggal beberapa helai dinaikkan sedikit dan bibirnya yang bewarna senada dengan kulitnya menyunggingkan senyum.

“Ibu, ternyata selama ini wajahku oval dan daguku lancip. Aku memiliki hidung yang mancung. Oh, dan mataku belo dan dalam, rambutku ikal dan panjang. Oh, Ibu ternyata ada badannya juga?” Nayla terlihat seperti anak kecil yang menemukan hal baru. “Wah, tubuhku ramping dan tanganku kecil sekali ya bu?” Nayla terus berkomentar tanpa henti sambil menjalari seluruh organ patung itu.

Aku terenyuh melihat reaksinya. Tanpa kusadari air mata membasahi pipiku. “Kau menyukainya, Nay?”

Nayla memutar badannya kemudian memeluk tubuhku erat. “Tentu saja, Ibu. Aku sangat menyukainya. Ibu telah mewujudkan keinginanku. Akhirnya Aku bisa melihat wajahku, bahkan bisa melihat seluruh tubuhku. Terima kasih, Bu. Aku gembira sekali.”

Air mataku seketika pecah, berceceran. Aku tak dapat membendungnya lagi. Aku begitu terharu dan gembira melihat putri semata wayangku begitu bahagia. ‘Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa menemukan kembali kebahagian di hati Nayla. Terima kasih bahwa Engkau bisa mempertemukanku dengan Vano. Dan yang paling penting, terima kasih karena Nayla bisa menemukan wajahnya.’  *

 

Melia Herlina, Siswa SMAK Ora et Labora Bumi Serpong Damai Tangerang. Gadis bertubuh jangkung ini tidak hanya menulis fiksi, tapi juga aktif menulis di Klub Jurnalistik Sastrawi binaan YPK Ora et Labora.

Incoming search terms for the article:

cerpen wajah untuk nayla, wajah untuk nayla, alamat rumah nunuk istriani, wajah untuk nayla melia herlina, cerita pendek wayangku, Cerita panas dg nayla, cerpen berjudul patung lilin, cerpen gadis itu mirip wajahku, cerpen sedih suami untuk nayla, cerpen singkat nayla

This entry was posted in Karya, SMU and tagged . Bookmark the permalink.

Comments are closed.